Headline.co.id, Jakarta ~ Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) 2026 menjadi ajang penting dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional. Diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), festival ini menandai penguatan gerakan nasional untuk revitalisasi bahasa daerah melalui pendidikan, kebijakan daerah, dan partisipasi generasi muda.
Kepala Badan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, menyatakan bahwa FTBIN 2026 merupakan puncak dari Program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) yang telah berjalan secara berjenjang dan berkelanjutan di berbagai wilayah Indonesia. “FTBIN adalah puncak perayaan revitalisasi bahasa daerah di seluruh Indonesia. Mereka telah melewati tahapan panjang mulai dari koordinasi, penyusunan bahan ajar, bimbingan teknis, pengimbasan di satuan pendidikan, hingga festival berjenjang dari sekolah sampai provinsi,” ujar Hafidz dalam acara yang berlangsung pada 25 Mei 2026.
Festival ini, yang merupakan bagian dari rangkaian perayaan Hari Pendidikan Nasional, berlangsung dari 22 hingga 26 Mei 2026, dengan puncak acara pada 25 Mei. Tema tahun ini adalah “Suara Tunas Bahasa Ibu dalam Pendidikan Multibahasa”, yang mencerminkan arah pendidikan nasional yang semakin menghargai keberagaman identitas dan budaya. “Pendidikan kita bergerak ke arah yang benar, maju bersama teknologi namun tetap membumi bersama tradisi,” kata Hafidz.
FTBIN 2026 diikuti oleh perwakilan dari 78 bahasa daerah dari seluruh Indonesia. Meskipun ada kebijakan efisiensi, antusiasme peserta tetap tinggi. Badan Bahasa mencatat 78 peserta undangan mewakili 78 bahasa daerah dan 59 peserta mandiri dari 14 provinsi, dengan pendamping lebih dari 150 orang yang terdiri dari unsur dinas pendidikan, kepala sekolah, guru, hingga orang tua.
Bagi Badan Bahasa, angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan gambaran bahwa bahasa ibu masih hidup dan terus diperjuangkan oleh generasi muda. “Semarak dan semangat mereka sungguh luar biasa,” kata Hafidz. FTBIN lebih dari sekadar kompetisi; ini adalah ruang selebrasi nasional bagi para pemenang festival bahasa ibu dari seluruh provinsi untuk menampilkan kecintaan terhadap bahasa daerah masing-masing.
Hafidz menekankan bahwa keberanian anak-anak menggunakan bahasa daerah di ruang publik menjadi indikator penting bahwa revitalisasi bahasa tidak berhenti pada dokumentasi, tetapi telah masuk ke ruang praktik sosial. “Mereka tidak malu berbahasa daerah saat berada di ranah publik,” ujarnya. Ia juga menilai bahwa wajah pendidikan nasional saat ini semakin ramah terhadap keberagaman bahasa.
FTBIN 2026 juga menjadi ajang apresiasi bagi pemerintah daerah yang dinilai memiliki keberpihakan nyata terhadap revitalisasi bahasa daerah. Sedikitnya 27 kepala daerah hadir dan mendapat penghargaan atas komitmen mereka melalui regulasi, dukungan anggaran, serta program pelestarian bahasa daerah. Hafidz menyebut penghargaan itu sebagai “karpet merah” bagi kepala daerah yang telah menunjukkan dedikasi nyata menjaga bahasa ibu tetap hidup di daerah masing-masing.
Selain pemerintah daerah, Kemendikdasmen melalui Badan Bahasa juga memberikan apresiasi kepada pegiat sastra, komunitas literasi, serta pelestari bahasa dan sastra daerah. Sejumlah penerima penghargaan yang diumumkan lain Rahmah Abasa Rido Harun untuk kiprah kesastraan kategori 50 tahun, Ariani Isnamurti dari Yayasan Hari Puisi, Nur Istiqomah dari Taman Bacaan Masyarakat Saung Manggar, Hari Kusmanto dari komunitas pelestari bahasa dan sastra daerah, serta Rustani Simanjuntak untuk apresiasi perseorangan pelestari bahasa dan sastra daerah.
Di tengah arus digital dan dominasi bahasa global, FTBIN 2026 mengirim pesan kuat bahwa bahasa daerah bukan peninggalan masa lalu yang sekadar dikenang, melainkan identitas hidup yang perlu diwariskan dan dimajukan melalui pendidikan.





















