Headline.co.id, Bangunan ~ Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengambil langkah signifikan dalam memastikan kelangsungan pendidikan pascabencana. Sebanyak 99 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang terdampak bencana telah menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) untuk pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi sekolah. Program ini memiliki anggaran lebih dari Rp270 miliar yang sepenuhnya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Penandatanganan PKS tersebut dilaksanakan di Hotel Grand Nanggroe setelah para kepala sekolah mengikuti bimbingan teknis selama tiga hari sejak 28 Januari. Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, menyatakan bahwa dana tersebut akan segera dicairkan dan diikuti dengan pekerjaan fisik di lapangan. “Pekerjaan fisik akan segera dilaksanakan oleh kepala sekolah yang bekerja sama dengan komite sekolah, dan seluruh prosesnya akan didampingi oleh Aparat Penegak Hukum (APH) agar berjalan transparan dan akuntabel,” ujarnya.
Secara nasional, Murthalamuddin mengungkapkan bahwa total dana untuk rehabilitasi dan rekonstruksi sektor pendidikan di tiga provinsi terdampak mencapai Rp2,4 triliun. Dana ini dialokasikan khusus berdasarkan instruksi langsung dari Presiden Prabowo kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Pemerintah Aceh, menurut Murthalamuddin, sangat proaktif dalam mendukung percepatan program ini, terutama dalam menyiapkan data dan dokumen administrasi yang diperlukan.
“Kami sangat optimistis. Pada semester depan, sekolah-sekolah dengan kategori rehab ringan dan rehab sedang sudah dapat melaksanakan pembelajaran secara normal, termasuk penyediaan sarana pendukung seperti mobiler,” jelasnya. Sementara itu, untuk sekolah yang memerlukan relokasi atau penggantian bangunan, pemerintah menargetkan fasilitas tersebut dapat digunakan pada tahun depan.
Murthalamuddin menambahkan bahwa langkah cepat yang diambil oleh Kemendikdasmen menunjukkan keseriusan pemerintah dalam melindungi hak pendidikan anak-anak, bahkan bergerak lebih cepat dibandingkan sektor lainnya. “Ini semua untuk memastikan pendidikan anak-anak kita tetap berjalan dan tidak terhenti akibat bencana,” pungkasnya.























