Headline.co.id, Jogja ~ Tim mahasiswa dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) berhasil meraih posisi kedua dalam kompetisi GBSN 2025 Social Logistics Challenge. Kompetisi ini diselenggarakan oleh Global Business School Network dan menantang para peserta untuk mengembangkan solusi logistik sosial berbasis teknologi yang berkelanjutan. Acara ini diadakan secara daring pada Kamis, 13 November, dan diikuti oleh 100 tim dari 48 perguruan tinggi yang tersebar di 48 negara. Tim UGM yang dikenal dengan nama Kiki’s Logistic Service terdiri dari Jacques Ethan Nathanael Gultom (Akuntansi, 2022), Muhammad Rafi Lukmantoro (Akuntansi, 2022), Nabila Kaori Refonsa (Ilmu Ekonomi, 2022), dan I Putu Adhimas Radiansyah Aryawan (Arkeologi, 2022). Mereka mengusung ide pengembangan LINTAS (Logistik Integrasi Transportasi Apari Sadar).
Jacques Ethan Nathanael Gultom menjelaskan bahwa LINTAS adalah sistem manajemen transportasi atau transportation management system (TMS) yang dirancang untuk mengoptimalkan distribusi pangan di daerah terpencil Indonesia, termasuk di Kecamatan Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu, Provinsi Kalimantan Timur. Tim Kiki’s Logistic Service mengajukan solusi untuk mengatasi tantangan berkelanjutan yang dihadapi wilayah terpencil dan terisolasi secara geografis di Indonesia dengan menjaga akses pasokan pangan yang konsisten. “Sistem yang kami ajukan mengintegrasikan berbagai moda transportasi, jaringan logistik berbasis komunitas, data pasokan real time, serta pemantauan Continuous Replenishment (CRP),” ujar Ethan di FEB UGM, Jumat, 5 Desember.
Dengan memanfaatkan manajemen logistik berbasis digital, kerangka yang diusulkan tim menunjukkan bagaimana teknologi dapat memperkuat ketahanan rantai pasok dan keamanan pangan di daerah dengan infrastruktur dan konektivitas yang terbatas. Melalui gagasan pengembangan LINTAS, diharapkan persoalan sosial logistik yang muncul akibat ketergantungan Long Apari terhadap sungai Mahakam sebagai jalur distribusi dapat terpecahkan. Ethan mengungkapkan bahwa saat musim kemarau, sungai mengalami surut sehingga perahu tidak bisa beroperasi. Kondisi ini menyebabkan seluruh rantai pasokan runtuh, dan harga beras bisa mencapai Rp 1–1,2 juta per 25 kg. “BBM pun menjadi barang langka, listrik padam bergilir, hingga jaringan komunikasi turut melemah,” tambahnya.
Gagasan pengembangan LINTAS muncul setelah Ethan dan tim melakukan kajian mendalam dari sisi geografi, infrastruktur, harga pangan, hingga rantai distribusi. Setelah kajian tersebut, terlihat jelas bahwa Long Apari memiliki satu titik kegagalan di sungai Mahakam. Dari sanalah, LINTAS kemudian dirancang untuk membuat distribusi tidak lagi bertumpu pada satu jalur saja. “Lewat LINTAS, kita mencoba memutus siklus tahunan ini melalui sistem transportasi yang lebih terintegrasi dengan hub logistik, jalur multimoda, dan TMS+IoT untuk memantau arus barang secara real time,” jelasnya.
Nabila Kaori Refonsa mengungkapkan bahwa mengikuti kompetisi ini memberikan pengalaman berharga bagi seluruh tim. Pengalaman panjang yang harus mereka lalui mulai dari tahap penyisihan hingga final, dan salah satu momen berkesan adalah ketika mereka berkesempatan melihat presentasi tim Better Vietnam dari BI Norwegian Business Schools yang berhasil meraih juara pertama. “Dari sisi substansi hingga desain presentasi memang cukup berbobot dan memukau. Meski begitu, kami juga bersyukur bisa bersaing dengan 100 tim dari 48 perguruan tinggi. Saat final, kami berusaha mempresentasikan solusi hanya dalam waktu sepuluh menit melalui PPT deck yang kami kembangkan, sehingga setiap detail harus ringkas, tajam, dan tepat sasaran,” jelas Nabila.
Nabila merasa bersyukur bisa mendapatkan pembelajaran terbaik dengan mengikuti kompetisi ini. Pembelajaran terbaik adalah tidak takut untuk mencoba, sebab semua tidak akan pernah tahu hasilnya jika tanpa mencoba, dan prestasi yang berhasil diraih merupakan hasil kerja keras dari kekompakan tim. “Kami berterima kasih kepada bapak Ahmad Zaki, S.E., M.Acc., Ph.D atas dukungan selaku dosen pembimbing, dan kepada FEB UGM yang telah memfasilitasi melalui mentoring session. Kita terus berharap ke depan bisa terus berprestasi dan mengharumkan nama baik fakultas dan universitas,” pungkasnya.





















