Headline.co.id, Jakarta ~ Batik Rifaiyah asal Batang kini dijual di Mal Sarinah, Jakarta, untuk pertama kalinya sebagai batik dari daerah tersebut yang menembus jaringan ritel premium itu. Ketua Dekranasda Batang Faelasufa Faiz Kurniawan menyampaikan pencapaian tersebut saat ditemui di kantornya pada Jumat (6/11/2026). Kehadiran Batik Rifaiyah di Sarinah menyasar konsumen menengah hingga menengah atas di Jakarta serta wisatawan mancanegara, terutama dari Malaysia dan kawasan Timur Tengah. Produk ini dipasarkan setelah melewati proses filter dan seleksi dari pihak Sarinah, dengan daya tarik utama berupa tradisi membatik sambil melantunkan syair-syair Islami.
Batik Rifaiyah Lolos Kurasi Sarinah
Penjualan Batik Rifaiyah di Mal Sarinah telah memasuki bulan kedua. Menurut Faelasufa, masuknya batik khas Batang ke pusat ritel tersebut menjadi hasil dari proses panjang karena Sarinah memiliki pasar premium dan menerapkan seleksi terhadap produk yang dipasarkan.
“Jadi, ini pertama kalinya batik dari Batang bisa dijual di Sarinah. Itu kan adalah market yang premium ya di Indonesia, melewati filter juga, seleksi juga dari pihak Sarinahnya. Alhamdulillah kita berhasil lolos dan sekarang Batik Rifaiyah sudah bisa ditemukan di Mal Sarinah di Jakarta,” katanya.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Sarinah dinilai menjadi lokasi strategis untuk memperkenalkan Batik Rifaiyah kepada konsumen dari luar Batang. Selain menjadi salah satu tujuan belanja di Jakarta, tempat tersebut juga menjadi lokasi yang didatangi wisatawan asing yang mencari produk budaya Nusantara.
Kehadiran di Sarinah membuka peluang bagi Batik Rifaiyah untuk menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk konsumen dengan daya beli lebih tinggi dan pembeli dari luar negeri. Namun, Dekranasda Batang masih menyiapkan pemantauan untuk mengetahui respons pasar dan posisi produk tersebut di Sarinah.
Menyasar Konsumen Jakarta dan Wisatawan Asing
Faelasufa mengatakan, target pemasaran Batik Rifaiyah mencakup masyarakat Jakarta dari kalangan menengah dan menengah atas. Produk tersebut juga diarahkan kepada wisatawan mancanegara, terutama konsumen dari Malaysia dan kawasan Timur Tengah.
Menurut dia, nilai-nilai Islami yang melekat pada cerita dan filosofi Batik Rifaiyah dapat menjadi daya tarik bagi konsumen dari negara-negara tersebut. Kedekatan nilai tersebut dinilai sesuai dengan karakter Batik Rifaiyah yang tidak hanya menonjolkan motif atau kain, tetapi juga latar tradisi keagamaan yang menyertainya.
“Nah, target pasarnya adalah kalangan orang-orang di Jakarta, menengah, menengah ke atas, juga turis-turis. Jadi banyak bule-bule kayak gitu kan, kalau nyari batik mereka ke Sarinah. Dan target market dari foreign customer ini terutama adalah customer yang berasal dari Malaysia, dari Timur Tengah, yang mana mereka juga Islami, sesuai dengan cerita Batik Rifaiyah yang Islami juga,” jelasnya.
Strategi tersebut menempatkan Batik Rifaiyah bukan hanya sebagai produk fesyen, melainkan juga sebagai karya budaya dengan narasi yang kuat. Cerita mengenai proses pembuatannya menjadi bagian penting dalam memperkenalkan produk itu kepada calon konsumen.
Tradisi Membatik Sambil Melantunkan Syair Islami
Keunikan Batik Rifaiyah terletak pada proses pembuatannya. Para perajin tidak hanya menorehkan malam menggunakan canting, tetapi juga melantunkan syair dan lagu-lagu Islami saat membatik.
Tradisi tersebut diwariskan secara turun-temurun oleh para santri pengikut KH Ahmad Rifa’i. Lantunan yang mengiringi proses membatik menjadi unsur pembeda Batik Rifaiyah dibandingkan batik dari daerah lain.
“Yang menarik, Batik Rifaiyah ini kan mungkin nggak banyak ya, batik yang pembatiknya itu membatik sambil berselawat. Batik Rifaiyah ini membatiknya sambil berselawat, dan ini sudah tradisi turun-temurun dari santri-santrinya Mbah Ahmad Rifa’i. Mereka, mungkin namanya nggak berselawat ya, tapi mirip berselawat, mereka punya syarat/lagu-lagu Islami, syair-syair Islami yang mereka lantunkan sambil membatik,” terangnya.
Tradisi itu memberi dimensi spiritual pada proses produksi Batik Rifaiyah. Dengan demikian, kain yang dihasilkan membawa cerita mengenai praktik budaya dan keagamaan yang masih dipertahankan oleh para perajin.
Dekranasda Siapkan Evaluasi Pemasaran
Meski sudah berhasil masuk ke Sarinah, Dekranasda Batang belum menganggap langkah tersebut sebagai hasil akhir. Evaluasi akan dilakukan untuk melihat perkembangan penjualan, respons konsumen, serta posisi Batik Rifaiyah di pusat ritel Jakarta itu.
Faelasufa mengatakan, pemantauan juga diperlukan untuk menyusun strategi pemasaran yang lebih optimal. Rencana tersebut akan dilakukan bersama pengurus Dekranasda.
“Nah, besok ini baru mau kita cek, karena kan ini baru bulan awal, kan. Jadi kita mau cek market-nya gimana, kita dapat posisi di mana di Sarinah, caranya nanti lebih mengoptimalkan strategi marketing-nya bagaimana. Besok insyaallah dengan pengurus Dekranasda kita akan monitor ke sana,” pungkasnya.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















