Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengevaluasi proyek percontohan pendampingan produktivitas perusahaan yang telah berjalan terhadap 20 perusahaan sejak September 2026. Evaluasi tersebut digelar di Jakarta pada Selasa (3/11/2026) untuk menilai perkembangan program sekaligus menentukan arah pengembangannya. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan, produktivitas perusahaan tidak cukup diukur dari peningkatan produksi, tetapi juga dari kemampuan menghasilkan produk berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Program itu dijalankan melalui pendekatan 4P+1M serta penguatan kompetensi tenaga kerja dan strategi pemasaran.
Yassierli mengatakan, peningkatan kapasitas produksi tidak akan memberikan dampak ekonomi yang optimal apabila produk yang dihasilkan tidak terserap pasar. Karena itu, perusahaan perlu membaca kebutuhan konsumen agar efisiensi operasional dapat diubah menjadi nilai tambah dan memperkuat daya saing industri nasional.
“Peningkatan produktivitas ini tidak akan berdampak nyata jika pasarnya tidak mampu menyerap produk tersebut,” ujar Yassierli dalam Evaluasi Kegiatan Pendampingan Peningkatan Produktivitas di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Pendampingan produktivitas tersebut tidak hanya berfokus pada percepatan proses kerja atau penambahan kapasitas produksi. Kemnaker merancang program itu untuk membantu perusahaan memperbaiki kinerja secara menyeluruh, mencakup proses produksi, kualitas produk, kompetensi tenaga kerja, kebijakan internal, dan strategi pemasaran.
Pendekatan 4P+1M dalam Produktivitas Perusahaan
Yassierli menjelaskan, peningkatan produktivitas perusahaan dilakukan melalui pendekatan 4P+1M. Pendekatan itu mencakup process atau proses kerja, product atau kualitas produk, people atau kompetensi sumber daya manusia, policy atau kebijakan perusahaan, serta marketing atau pemasaran.
Kelima unsur tersebut saling berkaitan dalam mendukung kinerja perusahaan. Perbaikan proses kerja perlu diikuti peningkatan kualitas produk dan kompetensi tenaga kerja. Di sisi lain, kebijakan perusahaan harus mendukung efisiensi, sedangkan pemasaran memastikan produk dapat menjangkau konsumen yang tepat.
Dengan pendekatan tersebut, perusahaan diharapkan tidak hanya memperbaiki efisiensi operasional, tetapi juga mampu menghasilkan manfaat ekonomi yang nyata. Kemampuan membaca pasar menjadi bagian penting agar peningkatan produksi tidak berhenti pada bertambahnya kapasitas, melainkan berlanjut pada penyerapan produk dan penguatan daya saing.
Proyek percontohan yang dimulai pada September 2026 itu telah berjalan sekitar dua bulan ketika evaluasi dilakukan. Sejumlah perusahaan memaparkan perkembangan program dalam forum evaluasi tersebut.
Menaker menekankan bahwa pelaksanaan pendampingan harus memiliki indikator keberhasilan yang jelas dan terukur. Hasil evaluasi proyek percontohan akan menjadi salah satu dasar untuk menentukan langkah pengembangan program pada tahap berikutnya.
Kemnaker Siapkan Perluasan Pendampingan pada 2027
Kemnaker berencana memperluas pendampingan kepada lebih banyak perusahaan pada 2027 apabila pelaksanaan tahap awal menunjukkan hasil yang baik. Perluasan tersebut diarahkan agar manfaat program tidak hanya dirasakan oleh perusahaan yang mengikuti proyek percontohan.
“Jika saat ini pendampingan baru menjangkau puluhan perusahaan, ke depannya program tersebut harus mencakup ribuan bahkan ratusan ribu perusahaan,” kata Yassierli.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa evaluasi terhadap 20 perusahaan menjadi bagian dari upaya menilai efektivitas model pendampingan sebelum cakupannya diperluas. Indikator keberhasilan yang terukur diperlukan untuk memastikan program dapat diterapkan secara lebih luas.
Pendampingan produktivitas juga ditempatkan dalam kerangka penguatan pasar kerja nasional. Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (Binalavotas) Kemnaker Darmawansyah mengatakan, peningkatan produktivitas perusahaan merupakan strategi untuk memperkuat sisi permintaan tenaga kerja atau demand.
Produktivitas Perusahaan Dikaitkan dengan Pelatihan Vokasi
Menurut Darmawansyah, penguatan sisi permintaan tenaga kerja dilakukan bersamaan dengan penguatan sisi penawaran atau supply. Sisi penawaran diperkuat melalui pelatihan vokasi dan program pemagangan yang diarahkan untuk membekali tenaga kerja dengan kompetensi sesuai kebutuhan.
Sementara itu, peningkatan produktivitas membantu perusahaan mengoptimalkan proses bisnis dan pemanfaatan sumber daya manusia. Dengan demikian, pelatihan dan pemagangan tidak berdiri sendiri, tetapi berjalan beriringan dengan upaya memperbaiki kinerja perusahaan.
“Jadi, kita melakukan intervensi dari sisi supply melalui pelatihan vokasi dan pemagangan, kemudian dari sisi demand melalui peningkatan produktivitas perusahaan,” ujar Darmawansyah.
Pendekatan dari kedua sisi tersebut diharapkan dapat mempertemukan kebutuhan industri dengan kompetensi tenaga kerja secara lebih efektif. Peningkatan produktivitas perusahaan dengan demikian tidak hanya berorientasi pada kinerja internal, tetapi juga mendukung daya saing industri dan kualitas pasar kerja nasional.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















