Headline.co.id, Jakarta ~ Jumlah hotspot nasional dengan tingkat kepercayaan tinggi meningkat menjadi 189 titik berdasarkan pemantauan pada Senin (2/11/2026) pukul 21.00 WIB. Kenaikan tersebut terjadi di tengah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih berlangsung di sejumlah wilayah, terutama Kalimantan Tengah. Namun, jumlah hotspot di enam provinsi prioritas pengendalian karhutla justru menurun dari 34 menjadi 31 titik. Pemerintah memperkuat operasi darat dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengendalikan kebakaran, memperbaiki kualitas udara, serta mencegah munculnya kembali api.
Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, jumlah hotspot nasional bertambah 89 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat 100 titik.
Di enam provinsi prioritas, Kalimantan Tengah mencatat 19 hotspot, Jambi sembilan titik, dan Kalimantan Selatan tiga titik. Sementara itu, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, dan Riau tidak mencatat hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Hotspot Nasional Perlu Diverifikasi di Lapangan
Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa kenaikan hotspot nasional perlu dicermati dengan melihat kondisi aktual di lapangan. Data satelit menunjukkan indikasi anomali suhu permukaan, tetapi tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran atau luas lahan yang terbakar.
Karena itu, setiap indikasi hotspot tetap harus diverifikasi melalui patroli dan pengecekan lapangan atau ground check. Kondisi tersebut membuat angka hotspot tidak menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan pengendalian karhutla.
Laporan Posko Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan pada 2 November 2026 menunjukkan operasi pemadaman masih berjalan, terutama di Kalimantan Tengah. Di Tanjung Taruna, Kabupaten Pulang Pisau, petugas masih menemukan banyak kepulan asap pada lahan gambut sehingga pemadaman harus dilanjutkan.
Kondisi serupa terjadi di Jabiren yang belum sepenuhnya padam. Sejumlah lokasi di Palangka Raya juga masih menyisakan api dan asap.
Di sisi lain, api di Pematang Kambat, Kabupaten Seruyan, dan Pasir Panjang, Kabupaten Kotawaringin Barat, telah berhasil dipadamkan. Di Pasir Putih, Kabupaten Kotawaringin Timur, tim masih melakukan pemadaman pada sekat batas dan pendinginan di titik yang masih berasap.
Di Jambi, kebakaran di Desa Terusan, Kabupaten Batang Hari, telah berhasil dipadamkan. Hujan berintensitas tinggi yang turun sekitar 30 menit saat operasi berlangsung turut membantu proses pemadaman.
OMC Tetap Dilanjutkan di Sejumlah Wilayah
Selain operasi darat, penanganan karhutla diperkuat melalui OMC terpadu. Berdasarkan hasil rapat evaluasi, OMC yang berlangsung sejak 18 Oktober 2026 menunjukkan hasil positif dan menjadi operasi terpadu berskala terbesar yang telah dilaksanakan untuk pengendalian karhutla.
Evaluasi mencatat sejumlah indikator perbaikan, lain jarak pandang yang membaik, konsentrasi polutan PM2.5 yang menurun, serta hujan yang mulai merata di sejumlah wilayah, khususnya Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan. Seluruh bandara yang sebelumnya mengalami kendala akibat rendahnya jarak pandang juga telah kembali beroperasi.
Rekapitulasi posko mencatat pelaksanaan OMC secara intensif selama Oktober. Operasi tersebut meliputi kegiatan BNPB di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, operasi Kementerian Kehutanan di Sumatra Selatan, serta operasi di Kalimantan Tengah dan Papua Selatan.
Penyemaian dalam OMC dilakukan menggunakan natrium klorida (NaCl) maupun es kering atau dry ice, menyesuaikan kondisi atmosfer dan kebutuhan operasi.
Pemerintah memutuskan OMC tetap dilanjutkan oleh BNPB, Kementerian Kehutanan, serta kementerian dan lembaga terkait sesuai kebutuhan di lapangan. Jumlah armada udara dan alat utama sistem persenjataan (alutsista) pendukung akan disesuaikan dengan perkembangan situasi serta kebutuhan setiap wilayah.
Sesuai arahan Kepala BNPB, pelaksanaan OMC selanjutnya diarahkan ke Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, dan Papua Selatan. Khusus Papua Selatan, status tanggap darurat karhutla masih berlaku hingga 28 November 2026. Penguatan operasi udara menjadi bagian dari respons pemerintah terhadap perkembangan kebakaran di wilayah tersebut.
Operasi Darat Tetap Menjadi Bagian Utama
Kementerian Kehutanan menegaskan OMC merupakan bagian dari strategi pengendalian karhutla dan tidak menggantikan operasi darat. Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, Masyarakat Peduli Api, dunia usaha, relawan, dan unsur terkait lainnya tetap melakukan patroli serta pengecekan lapangan.
Penanganan juga meliputi pemadaman langsung, pembasahan, penyisiran bara, mopping up, dan pendinginan sesuai kondisi aktual di lapangan.
Kenaikan hotspot nasional menjadi 189 titik menunjukkan dinamika karhutla masih dapat berubah dengan cepat. Keberhasilan pengendalian tidak hanya diukur dari kenaikan atau penurunan jumlah hotspot, tetapi juga dari kondisi nyata, seperti api dan bara yang benar-benar padam, kebakaran yang tidak kembali muncul, membaiknya kualitas lingkungan, serta terlindunginya masyarakat, kawasan hutan, dan keanekaragaman hayati.
Masyarakat dan pelaku usaha diimbau tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Apabila menemukan asap, titik api, atau aktivitas pembakaran, masyarakat diminta segera melapor kepada petugas melalui Posko Karhutla Kementerian Kehutanan di nomor telepon 021-5704618 atau WhatsApp +62 8131-00-35000 agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.
















![[Siaran Pers] Wamen Nezar Patria: Saatnya Startup Aceh Menciptakan AI Berbasis Bahasa Lokal](https://www.headline.co.id/wp-content/uploads/2026/11/siaran-pers-wamen-nezar-patria-saatnya-startup-aceh-menciptakan-ai-berbasis-bahasa-lokal.jpg)



