Headline.co.id ~ HEADLINE.CO.ID, Jakarta – Seni berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi pokok perdebatan dalam Grand Final Lomba Debat Wirasena 2026 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (30/10/2026). Para peserta memperdebatkan apakah karya seni berbasis AI perlu diterima sebagai bagian dari perkembangan dunia seni atau ditolak karena berpotensi mengurangi penghargaan terhadap kreativitas manusia. Perdebatan tersebut berlangsung dalam rangkaian Indonesia Youth Summit (IYS) 2026 dan mempertemukan empat tim terbaik dari Riau, Sumatra Utara, Bengkulu, serta Jawa Tengah. Melalui mosi yang menguji penerimaan seni berbasis AI, peserta menilai dampak teknologi itu terhadap kebebasan berekspresi, proses kreatif, dan profesi seniman.
Kompetisi tersebut diikuti 64 tim pada tahap seleksi. Sebanyak 16 tim kemudian melaju ke kompetisi luring sebelum empat tim memastikan tempat di babak final.
Tim Riau diperkuat Kayla Fauziah Fajri dan Yelika Paskabreina br. Meliala. Sumatra Utara diwakili Aldy Christian Tarigan dan Muhammad Jeri.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Sementara itu, Faldzah Naadira dan Ghiffary Yovandika Anwaary Fadhillah mewakili Bengkulu. Adapun Jawa Tengah diwakili Gwen Muninggar Maharani dan Raka Satria Madewa.
Mosi Seni Berbasis AI Uji Cara Pandang Peserta
Dalam babak final, peserta membahas mosi, “Dewan ini percaya bahwa seni yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) seharusnya diterima daripada ditolak.”
Mosi itu menguji kemampuan peserta dalam menilai perkembangan teknologi dari berbagai perspektif. Isu yang dibahas mencakup kebebasan berekspresi, perubahan definisi seni, perlindungan terhadap proses kreatif, hingga keberlanjutan profesi seniman.
Aldy Christian Tarigan dari tim Sumatra Utara yang tampil sebagai Opening Government (OG) berpandangan bahwa seni generatif AI perlu diterima seiring perkembangan teknologi dan perubahan cara masyarakat memahami seni.
Ia mengibaratkan perubahan penerimaan terhadap seni berbasis AI dengan karya seni abstrak. Menurut Aldy, karya yang pada awalnya dianggap bukan seni dapat memperoleh pengakuan setelah perspektif masyarakat berkembang.
Aldy juga menilai penerimaan seni generatif AI dapat membuka ruang untuk kurasi dan pengawasan. Menurut dia, penolakan tidak serta-merta menghentikan penggunaan teknologi tersebut.
“Mereka akan menggunakan AI-nya terus-menerus secara diam-diam,” ujar Aldy.
Argumentasi itu menekankan pentingnya keterbukaan dalam menghadapi perkembangan teknologi. Dengan penerimaan yang disertai pengawasan, penggunaan AI dalam proses kreatif dinilai dapat dibahas secara lebih terbuka.
Kekhawatiran terhadap Penghargaan bagi Seniman
Pandangan berbeda disampaikan Ghiffary Yovandika Anwaary Fadhillah dari tim Bengkulu. Ia menyoroti potensi seni generatif AI mengurangi penghargaan terhadap proses kreatif yang dilakukan seniman manusia.
Menurut Ghiffary, kemudahan menghasilkan gambar atau karya melalui perintah atau prompt kepada AI berisiko membentuk anggapan bahwa proses berkesenian dapat dilakukan tanpa keterampilan dan perjalanan kreatif yang panjang.
“Pada akhirnya, persoalannya bukan hanya itu. Orang-orang yang menggeluti seni tidak seharusnya dipandang sebelah mata dengan anggapan bahwa siapa pun bisa membuat karya hanya dengan menggunakan prompt,” kata Ghiffary.
Ia juga mempertanyakan urgensi penerimaan seni generatif AI. Menurutnya, masyarakat dapat mengenali karya yang dihasilkan menggunakan AI melalui keterangan atau label pada musik maupun konten digital.
Dengan mekanisme penandaan, masyarakat dinilai dapat membedakan karya berbasis AI tanpa harus menjadikan penerimaan terhadap seni generatif AI sebagai satu-satunya pilihan.
Debat Dorong Nalar Kritis Generasi Muda
Perbedaan argumentasi dalam debat tersebut menunjukkan bahwa perkembangan AI tidak hanya berkaitan dengan kemajuan teknologi. Isu itu juga menyentuh persoalan etika, penghargaan terhadap karya, dan masa depan profesi kreatif.
Melalui kompetisi tersebut, peserta ditantang tidak sekadar menyampaikan pendapat. Mereka juga harus membangun argumentasi berdasarkan alasan yang logis, mempertahankan gagasan, serta merespons pandangan yang berseberangan.
Grand Final Lomba Debat Wirasena 2026 menjadi salah satu ruang pembinaan generasi muda untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan kepemimpinan. Kemampuan itu dinilai penting agar pemuda dapat menyikapi perubahan teknologi secara terbuka sekaligus mempertimbangkan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.
Di tengah perkembangan AI yang semakin luas, generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka juga diharapkan mampu menilai manfaat, risiko, dan konsekuensi penggunaannya secara bertanggung jawab.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.
















