Headline.co.id, Makassar ~ Menteri Agama Nasaruddin Umar mengungkapkan rencana penyelenggaraan festival musik religi dunia pada 2027. Festival bertajuk International Festival for Mystical Music itu direncanakan berlangsung di Istiqlal dan mempertemukan tradisi musik spiritual serta mistis dari berbagai negara dan latar belakang agama. Rencana tersebut disampaikan Nasaruddin saat memberikan sambutan dalam Konferensi Musik Indonesia (KMI) 2026 di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (30/10/2026). Menurut dia, festival itu dapat menjadi ruang bagi musik religi Indonesia untuk tampil dalam percakapan kebudayaan global melalui kolaborasi lintas sektor.
Festival Musik Religi Dunia 2027 Jadi Ruang Dialog Global
Nasaruddin mengatakan penyelenggaraan festival musik spiritual dunia di Istiqlal akan mempertegas fungsi ruang keagamaan sebagai tempat perjumpaan peradaban yang inklusif, damai, dan merangkul perbedaan.
Ia menilai rencana tersebut juga menjadi dorongan bagi pengembangan musik religi Indonesia. Kekayaan seni dan tradisi spiritual Nusantara, kata dia, perlu memiliki ruang yang lebih luas agar dikenal oleh masyarakat internasional.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Ini menjadi dorongan agar musik religi kita punya ruang lebih luas di kancah global. Lewat kolaborasi lintas sektor, kekayaan tradisi spiritual Nusantara bisa makin dikenal dunia,” ujar Nasaruddin dalam KMI 2026.
Festival itu diharapkan mempertemukan beragam tradisi musik spiritual dan mistis dari berbagai negara. Dalam konteks tersebut, musik religi tidak hanya dipandang sebagai ekspresi seni, tetapi juga sebagai medium dialog antarkelompok dan antarbudaya.
Menag: Seni dan Agama Memiliki Ikatan Erat
Dalam sambutannya, Nasaruddin meluruskan pandangan yang kerap mempertentangkan seni dan agama. Menurut dia, keduanya bukan hal yang saling berseberangan karena keindahan merupakan bagian dari ekspresi spiritual manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Secara filosofis-esoterik, Nasaruddin menjelaskan bahwa seluruh jagat raya pada hakikatnya terus bertasbih memuji Sang Pencipta melalui harmoni dan gerak keindahan.
“Segala sesuatu itu bertasbih. Apa artinya bertasbih? Memuji, mendiseminasikan keindahan terhadap sosok figur yaitu kepada Tuhan, yang disertai dengan gerakan. Jadi pujian itu memang bergerak, dan bergerak itu indah,” jelasnya.
Nasaruddin juga mengutip pemikiran ulama terkemuka Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mengenai pentingnya seni bagi nurani. Ia mengatakan, hati yang tumpul terhadap seni rentan kehilangan kelembutan budi dan cenderung menjadi kering.
Sebaliknya, kepekaan terhadap seni dinilai dapat menumbuhkan kelenturan jiwa dan sikap toleran.
“Seorang seniman tidak pernah memusuhi siapa pun, walaupun orang lain memusuhinya. Kualitas mental seniman itu tulus dan lembut seluas sutra,” imbuh Nasaruddin.
Belajar dari Strategi Dakwah Walisongo
Nasaruddin menyebut pendekatan seni untuk merajut kerukunan memiliki akar dalam sejarah Indonesia. Ia mencontohkan strategi dakwah Walisongo yang menggunakan tembang, wayang, dan instrumen tradisional untuk menyebarkan nilai-nilai keagamaan.
Menurut dia, penggunaan media budaya tersebut dilakukan tanpa mengikis identitas masyarakat setempat. Pendekatan kultural itu dinilai masih relevan untuk memperkuat harmoni sosial dan moderasi beragama saat ini.
Musik dan seni, lanjut Nasaruddin, dapat menjadi media komunikasi yang lentur untuk mencairkan sekat dan merawat persaudaraan lintas kelompok. Karena itu, pengembangan musik religi Indonesia tidak hanya berkaitan dengan karya seni, tetapi juga dengan upaya membangun ruang perjumpaan yang lebih terbuka.
Musik Religi sebagai Diplomasi Spiritual
Selain memiliki peran di dalam negeri, Nasaruddin menilai musik religi Nusantara berpotensi tampil di panggung dunia sebagai sarana diplomasi spiritual atau spiritual diplomacy.
Dengan mengutip ungkapan sastrawan Kahlil Gibran, music is the language of the spirit, ia mengatakan bahasa musik mampu menembus batas dogma, geografis, suku, dan bahasa. Musik, menurut dia, dapat menyuarakan pesan perdamaian kepada umat manusia.
“Di kancah internasional, musik religi kita adalah kekuatan diplomasi spiritual. Seperti kata Kahlil Gibran, musik adalah bahasa jiwa, ia bisa melintasi berbagai perbedaan dogma dan identitas untuk menyuarakan pesan damai,” pungkasnya.
Melalui sinergi lintas sektor dan rangkaian KMI 2026, persiapan menuju International Festival for Mystical Music pada 2027 di Istiqlal diharapkan memperkuat peran Indonesia sebagai kiblat toleransi sekaligus mercusuar kebudayaan spiritual di tingkat global.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















