Headline.co.id, Jakarta ~ Keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk mengkaji penurunan klasifikasi indeks Indonesia dari emerging market menjadi standalone market menjadi sorotan pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Penyedia indeks global itu meluncurkan konsultasi atas usulan tersebut pada pertengahan Oktober 2026. Pelaku pasar dapat menyampaikan masukan hingga 30 April 2027, sedangkan keputusan final mengenai status pasar saham Indonesia akan diumumkan MSCI pada atau sebelum 30 Juni 2027.
Utusan Khusus Presiden Bidang Hashim Djojohadikusumo memperingatkan keputusan MSCI dapat menekan nilai tukar rupiah hingga Rp22.000 per dolar AS apabila tidak dimitigasi. Peringatan itu disampaikan dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Jakarta, Kamis (29/10/2026), sementara BI menyatakan fokus menjaga stabilitas rupiah melalui penguatan kebijakan moneter dan pasar keuangan.
Keputusan MSCI Dinilai Berisiko bagi Rupiah
Hashim menilai usulan penurunan klasifikasi MSCI merupakan ancaman bagi status pasar modal Indonesia. Menurut dia, gejolak di pasar saham berpotensi merambat ke perekonomian secara menyeluruh dan berdampak terhadap laju perekonomian Indonesia.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Bila pemerintah tidak memitigasi hal tersebut maka akan memberikan dampak negatif terhadap laju perekonomian Indonesia. Gejolak di pasar modal tersebut dikhawatirkan dapat merambat ke perekonomian secara menyeluruh,” kata Hashim.
Ia juga menyampaikan perkiraan pelemahan rupiah yang dapat mencapai Rp20.000-Rp21.000 per dolar AS. Bahkan, menurut dia, terdapat perkiraan nilai tukar rupiah bisa menembus Rp22.000 per dolar AS.
“Saya sudah hitung bisa jadi Rp 20.000 – Rp 21.000 (per dolar AS). Ada yang bilang Rp 22.000. Kalau terjadi, rupiah bisa Rp 20.000 – Rp 21.000 pinjaman luar negeri kita, kita harus bayar lebih mahal, ini bisa jadi bencana dan malapetaka bagi ekonomi Indonesia,” ujar Hashim.
Pelemahan rupiah tersebut, lanjut Hashim, akan membuat pembayaran pinjaman luar negeri menjadi lebih mahal. Karena itu, ia meminta persoalan yang menjadi perhatian MSCI dan pelaku pasar asing tersebut diantisipasi secara serius.
Praktik Perdagangan Saham Disorot
Selain dampak terhadap nilai tukar, Hashim menyoroti masih adanya indikasi praktik tidak sehat di pasar saham Indonesia. Salah satu yang disebut adalah tindakan spekulan yang melakukan rekayasa harga saham secara artifisial atau dikenal sebagai “menggoreng saham”.
Menurut Hashim, praktik tersebut menyebabkan transaksi di pasar saham menjadi tidak sehat. Kondisi itu dinilai menjadi salah satu hal yang diperhatikan dan dipersoalkan oleh MSCI serta pelaku pasar asing.
“Ini yang diperhatikan dan dipersoalkan oleh MSCI dan pelaku-pelaku asing. Saya mohon kepada kawan-kawan dari Kadin, ini masalah sangat-sangat serius, karena kalau investasi luar negeri keluar dari bursa saham kita, rupiah bisa semakin lemah,” terang Hashim.
Pernyataan tersebut menempatkan potensi keluarnya investasi asing dari bursa saham sebagai salah satu risiko yang perlu diantisipasi. Hashim mengaitkan arus investasi asing, kondisi pasar modal, dan pergerakan nilai tukar rupiah dalam menghadapi usulan perubahan klasifikasi MSCI.
BI Pantau Pergerakan Rupiah
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti merespons perkiraan pelemahan rupiah hingga Rp22.000 per dolar AS dengan menegaskan fokus BI terhadap stabilitas nilai tukar. Menurut dia, stabilitas diperlukan untuk menciptakan iklim ekonomi yang kondusif.
“Jadi stabilitas itu adalah yang harus kita jaga, supaya bisa tercipta iklim ekonomi yang kondusif. Untuk nantinya bisa ekonomi di sektor riilnya bisa tumbuh dan bisa membuka lapangan pekerjaan,” ucap Destry.
Destry mengatakan BI terus mencermati pergerakan rupiah di pasar keuangan. Kondisi nilai tukar, menurut dia, tidak terlepas dari fundamental perekonomian domestik.
BI memandang kondisi perekonomian Indonesia relatif baik jika dibandingkan dengan negara tetangga. Namun, pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh pasokan dan permintaan serta persepsi di pasar.
“Pergerakan rupiah itu kan sangat tergantung juga dari supply demand dan persepsi,” kata Destry.
Strategi BI Menjaga Nilai Tukar
Sebelumnya, Destry menjelaskan BI terus memperkuat berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak gejolak global. Bank sentral berkomitmen mengoptimalkan seluruh instrumen moneter, termasuk memperkuat kebijakan insentif untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing.
BI juga mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing (PUVA). Insentif tersebut diberikan tidak hanya untuk instrumen Swap dan DNDF Beli Lindung Nilai Konvensional kepada Bank Indonesia, tetapi juga untuk transaksi Local Currency Transaction (LCT) dengan negara mitra.
Kebijakan itu diarahkan agar imbal hasil aset rupiah tetap menarik. Ke depan, BI memprakirakan nilai tukar rupiah bergerak stabil dengan dukungan komitmen bank sentral, imbal hasil yang menarik, inflasi yang terkendali dalam sasaran, serta prospek perekonomian domestik yang tetap baik.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















