Headline.co.id, Jakarta ~ Akurasi informasi di era AI menjadi tantangan yang perlu dihadapi generasi muda di tengah perubahan cara masyarakat memperoleh dan menyebarkan berita. Pesan itu mengemuka dalam gelar wicara “Jejak dalam Komunikasi: Dari Masa Lalu untuk Generasi Masa Kini” yang digelar Museum Penerangan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Rabu (28/10/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari peluncuran buku “Menata Arus, Menjaga Pesan: Dari Penerangan ke Komunikasi Publik” dalam rangka Hari Sumpah Pemuda ke-98. Para pembicara menekankan pentingnya berpikir kritis, memeriksa sumber, dan memahami informasi sebelum membagikannya.
Communication trainer Patricia Rani mengatakan, lanskap media berubah sangat cepat. Televisi dan radio yang pada 2014 masih menjadi rujukan utama masyarakat untuk mencari berita, beberapa tahun kemudian harus berbagi peran dengan media sosial sebagai salah satu kanal utama informasi.
Perubahan tersebut juga memengaruhi cara komunikator berinteraksi dengan audiens. Menurut Patricia, penyiar radio kini tidak cukup hanya mengandalkan suara, tetapi juga dituntut hadir secara visual melalui siaran langsung dan konten digital.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Perubahan tersebut turut menggeser cara komunikator berinteraksi dengan audiens. Penyiar radio, misalnya, kini tidak cukup hanya mengandalkan suara, tetapi juga dituntut hadir secara visual melalui siaran langsung dan konten digital,” ungkap Patricia.
Berpikir Kritis di Tengah Perkembangan AI
Patricia menilai perkembangan teknologi, termasuk penggunaan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI), menghadirkan tantangan baru bagi generasi muda. Teknologi dapat membantu menghasilkan konten dan menyampaikan informasi secara cepat, tetapi kemampuan membangun hubungan antarmanusia tetap memiliki nilai penting dalam komunikasi.
Ia mengatakan, pesan yang efektif tidak hanya ditentukan oleh informasi yang disampaikan, tetapi juga oleh cara pesan tersebut membangun kedekatan dengan audiens. Bahasa, gestur, dan relevansi dengan pengalaman penerima pesan menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
“Konten yang menarik, bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan juga membangun kedekatan melalui bahasa, gestur, dan penyampaian yang relevan dengan pengalaman audiens,” ucapnya.
Selain kemampuan berkomunikasi, Patricia menekankan pentingnya critical thinking atau berpikir kritis, khususnya bagi pelajar SMA dan SMK yang sedang mengembangkan kemampuan analisis dan penalaran.
Menurut dia, kemampuan tersebut diperlukan agar generasi muda tidak hanya mengikuti tren teknologi, tetapi juga mampu menghasilkan informasi yang berkualitas. Konten yang viral, kata Patricia, tetap perlu ditopang pengetahuan dan pemikiran orisinal.
Teknologi Tidak Menggantikan Proses Berpikir
Pemerhati museum dan praktisi komunikasi Wahyunigrat menyampaikan perspektif historis mengenai perubahan komunikasi. Ia menilai buku “Menata Arus, Menjaga Pesan: Dari Penerangan ke Komunikasi Publik” menarik karena merangkum perjalanan komunikasi pemerintah sejak era Kementerian Penerangan hingga perkembangan komunikasi publik saat ini.
Wahyunigrat mengatakan, perkembangan teknologi komunikasi berlangsung semakin cepat. Perubahan dari telepon seluler, televisi, telepon pintar, hingga AI menunjukkan bahwa cara masyarakat berkomunikasi terus berubah dalam rentang waktu yang semakin singkat.
Namun, kemudahan tersebut juga memiliki risiko apabila tidak disertai kemampuan berpikir mandiri. Ia mengingatkan generasi muda agar tidak sepenuhnya menyerahkan proses berpikir, analisis, dan pengambilan kesimpulan kepada teknologi.
AI kini dapat membantu menyusun teks, mencari informasi, hingga menghasilkan konten dalam waktu singkat. Karena itu, kemampuan menggunakan teknologi perlu berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap informasi yang dihasilkan serta tanggung jawab atas penggunaannya.
Verifikasi Sebelum Membagikan Informasi
Wahyunigrat juga mengingatkan pentingnya memeriksa sumber sebelum membagikan informasi. Kebiasaan meneruskan pesan tanpa memastikan kebenarannya dapat mempercepat penyebaran informasi keliru, terutama melalui media sosial dan aplikasi percakapan.
Ia membandingkan kebiasaan tersebut dengan praktik komunikasi dan jurnalistik pada masa sebelumnya, ketika akurasi menjadi perhatian utama sebelum informasi disampaikan kepada publik.
Dalam praktik jurnalistik, seorang presenter tidak cukup hanya membacakan naskah. Presenter perlu memahami substansi berita, memeriksa fakta, dan memastikan informasi yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan.
Kesalahan informasi, menurut pembahasan dalam gelar wicara, dapat memengaruhi pemahaman dan kepercayaan masyarakat. Karena itu, koreksi setelah berita tersebar tidak seharusnya menggantikan proses verifikasi sejak awal.
Literasi Digital dan Tanggung Jawab Komunikasi
Gelar wicara tersebut menunjukkan bahwa prinsip komunikasi yang bertanggung jawab tetap relevan meskipun medium penyampaian informasi berubah. Pada masa awal kemerdekaan, penerangan berperan menyampaikan informasi kepada masyarakat hingga ke wilayah yang sulit dijangkau. Kini, komunikasi publik menghadapi ruang digital yang memungkinkan informasi tersebar dalam hitungan detik.
Perubahan medium itu menuntut masyarakat lebih cermat memilah informasi, memahami konteks, dan memeriksa sumber. Bagi generasi muda, literasi digital tidak hanya berkaitan dengan keterampilan menggunakan perangkat atau membuat konten, tetapi juga kemampuan menilai kebenaran informasi dan memahami dampaknya.
Melalui peluncuran buku dan gelar wicara tersebut, Museum Penerangan menghadirkan sejarah komunikasi sebagai bahan pembelajaran bagi generasi masa kini. Kegiatan itu sekaligus menjadi ruang dialog untuk melihat hubungan pengalaman masa lalu dan tantangan komunikasi di era teknologi.
Kemajuan teknologi pada akhirnya tidak hanya diukur dari seberapa cepat informasi diproduksi dan disebarkan. Akurasi, manfaat, serta tanggung jawab dalam menyampaikan informasi tetap menjadi hal penting di tengah perkembangan AI.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















