Headline.co.id, Parigi Moutong ~ Festival Seni Qasidah Skala Besar Tingkat Kabupaten Parigi Moutong Tahun 2026 digelar di Taman Budaya Hasan Bahasuan, Kelurahan Masigi, Kecamatan Parigi, pada Jumat (16/10/2026). Kegiatan yang diikuti sekitar 200 peserta dari seluruh 23 kecamatan itu diselenggarakan DPD Lembaga Seni dan Qasidah Indonesia (LASQI) Parigi Moutong untuk menjaga kelestarian seni budaya Islam sekaligus menjaring talenta menuju kompetisi tingkat provinsi dan nasional. Festival tersebut dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Parigi Moutong, H. As’at Latopada, dengan perlombaan meliputi seni qasidah, bintang vokalis, dan rebana klasik.
Irama tabuhan rebana klasik dan lantunan qasidah terdengar di arena festival. Para peserta berkumpul untuk menampilkan kemampuan seni sekaligus memperkuat keberadaan seni Islami di tengah perkembangan zaman.
Ketua DPD LASQI Parigi Moutong, Hestiawati Nanga, mengatakan festival itu tidak hanya diarahkan untuk menentukan pemenang. Menurut dia, kegiatan tersebut juga menjadi sarana mempererat persaudaraan, menyampaikan syiar Islam, serta menemukan bakat seni yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Kemenangan bukan satu-satunya tujuan. Yang terpenting adalah bagaimana kita memperkuat persaudaraan, menampilkan kemampuan terbaik, dan menjadikan seni qasidah sebagai media syiar Islam yang indah dan bermakna,” kata Hestiawati kepada para kafilah.
Festival Qasidah Parigi Moutong Jaga Seni Islami
Hestiawati memaparkan, festival qasidah itu memiliki misi jangka panjang untuk menjaga keberlangsungan seni Islami di tengah arus modernisasi. Karena itu, penyelenggara tetap mempertahankan sejumlah kategori perlombaan yang dinilai mewakili unsur penting dalam seni qasidah.
Kategori tersebut mencakup seni qasidah, bintang vokalis, dan rebana klasik. Penyelenggara menilai keberadaan kategori itu penting agar tradisi seni Islami tetap hidup dan dapat diteruskan oleh generasi berikutnya.
Festival ini digagas sebagai ruang pertemuan bagi peserta dari berbagai kecamatan di Parigi Moutong. Keterlibatan seluruh 23 kecamatan membuat ajang tersebut menjadi wadah bagi para peserta untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam bidang seni qasidah dan musik rebana klasik.
Selain menjadi arena kompetisi, kegiatan itu juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan seni qasidah sebagai media syiar Islam. Pesan tersebut disampaikan melalui penampilan peserta serta semangat penyelenggara dalam mempertahankan unsur seni dan nilai keagamaan dalam perlombaan.
Peserta Terbaik Diproyeksikan ke Tingkat Nasional
Para peserta yang dinilai memiliki kemampuan terbaik akan dipersiapkan untuk mengikuti kompetisi di tingkat yang lebih tinggi. Talenta yang lolos kurasi dewan juri akan menjalani pemusatan latihan sebelum mewakili Parigi Moutong di tingkat Provinsi Sulawesi Tengah.
Pembinaan itu diharapkan dapat mengantarkan talenta terbaik daerah menuju kompetisi berskala nasional. Dengan demikian, festival tingkat kabupaten tidak berhenti pada penentuan pemenang, tetapi juga menjadi tahap awal dalam menyiapkan perwakilan daerah.
Rencana tersebut menjadi bagian dari upaya pengembangan kualitas sumber daya manusia yang tetap menjunjung kearifan budaya dan nilai moral. Para peserta tidak hanya dituntut untuk memiliki kemampuan tampil, tetapi juga membawa nilai seni Islami dalam setiap penampilan.
Untuk menjaga kualitas hasil kompetisi, panitia mewajibkan dewan juri memberikan penilaian secara objektif dan adil. Panel penilai diminta menjalankan tugas tanpa keberpihakan dalam menentukan peserta yang berhak melaju ke tahap berikutnya.
Dukungan Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong
Penyelenggaraan Festival Seni Qasidah Skala Besar Tingkat Kabupaten Parigi Moutong Tahun 2026 dikelola di bawah koordinasi Zaenab. Kegiatan tersebut memperoleh dukungan logistik dan fasilitas dari Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong melalui Sekretariat Daerah Bagian Kesejahteraan Rakyat.
Dukungan tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan festival yang mempertemukan sekitar 200 peserta dari berbagai wilayah kecamatan. Kehadiran para kafilah menunjukkan bahwa seni Islami masih memiliki ruang dan peminat di Parigi Moutong.
Antusiasme peserta juga memperlihatkan bahwa seni qasidah, bintang vokalis, dan rebana klasik tetap dipandang sebagai bagian dari warisan budaya yang perlu dirawat. Melalui kompetisi dan pembinaan, seni tersebut diharapkan terus berkembang serta melahirkan seniman muda.
Festival qasidah Parigi Moutong pada akhirnya diarahkan untuk mencetak talenta yang mampu membawa nama daerah melalui lantunan nada-nada religius. Para peserta terbaik akan menjadi bagian dari proses pembinaan menuju panggung yang lebih tinggi, mulai dari tingkat Provinsi Sulawesi Tengah hingga kompetisi nasional.
(MC Parigi Moutong/Kiswan/Ard)
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.
















