Headline.co.id, Sleman ~ Kekeringan Tempel dan meningkatnya kebakaran lahan menjadi perhatian dalam Rapat Forum Koordinasi Pimpinan Kapanewon (Forkompimka) Tempel di Pendopo Kapanewon, Selasa (13/10/2026). Rapat tersebut diikuti jajaran pemerintahan, TNI, Polri, serta instansi pemadam kebakaran untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana pada masa pancaroba. Dalam forum itu, Pemerintah Kalurahan Lumbungrejo mendorong pembangunan embung di kawasan Taman Merdiko dan konservasi Sungai Krasak sebagai langkah mengatasi kekeringan tahunan. Usulan tersebut disampaikan karena menyusutnya cadangan air bersih turut menghambat penanggulangan kebakaran di lapangan.
Rapat lintas sektoral itu membahas penanganan bencana yang tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga menyasar perilaku masyarakat dan perlindungan daya dukung lingkungan di tingkat kalurahan.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Satpol PP Kabupaten Sleman, Gunardi, menyampaikan peringatan terkait peningkatan insiden kebakaran sepanjang Agustus hingga September 2026. Lahan kosong dan area perkebunan menjadi objek yang paling banyak terbakar.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Kapanewon Tempel termasuk wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi bersama Ngaglik, Depok, Sleman, dan Mlati.
Kebakaran Lahan di Tempel Dipicu Pembakaran Terbuka
Gunardi menyoroti sejumlah kebiasaan masyarakat yang berpotensi memicu kebakaran. Di antaranya pembakaran sampah tanpa pengawasan serta pembakaran pelepah salak yang mudah merambat ketika tertiup angin.
Warga diminta memastikan api benar-benar padam dan tidak meninggalkan bara tersembunyi. Selain itu, pemeriksaan instalasi listrik serta kondisi regulator gas secara rutin juga diperlukan untuk mengurangi potensi kebakaran di kawasan permukiman.
Namun, upaya pemadaman menghadapi tantangan akibat berkurangnya sumber daya air. Krisis air membuat kinerja armada pemadam kebakaran di lapangan menjadi lebih sulit.
Kondisi tersebut memperlihatkan keterkaitan kebakaran lahan dan persoalan kekeringan yang berulang di wilayah Tempel. Karena itu, penanganan tidak hanya diarahkan pada kesiapsiagaan pemadam, tetapi juga pada pemulihan dan perlindungan sumber air.
Warga Merdikorejo dan Kembang Bergantung pada Sumur
Lurah Lumbungrejo, M. Misbach Al Hakim, menilai siklus kekeringan tahunan perlu diatasi melalui intervensi pada akar persoalan ekologi. Ia menyoroti kondisi di sekitar aliran Sungai Krasak yang berdampak pada ketersediaan air bagi warga.
Warga Merdikorejo dan Kembang kini bergantung sepenuhnya pada sumur swadaya. Persediaan air di sumur-sumur tersebut terus menyusut sehingga kebutuhan air masyarakat menjadi semakin rentan.
Kalurahan Lumbungrejo sebelumnya telah melakukan upaya konservasi dengan menanam tujuh ribu bibit pohon keras di kawasan tangkapan air pada 2021. Namun, upaya tersebut dinilai belum memadai apabila tidak dilanjutkan melalui dukungan dan penanganan terpadu.
Konservasi kawasan tangkapan air dipandang penting untuk memperkuat cadangan air sekaligus mengurangi dampak kekeringan yang berulang. Langkah itu juga berkaitan dengan kebutuhan air untuk warga dan sektor pertanian.
Pembangunan Embung Taman Merdiko Terkendala Pendanaan
Untuk memperkuat cadangan air, Misbach kembali mendorong pembangunan embung di kawasan Taman Merdiko. Rencana tersebut sebelumnya sempat mandek pada 2023 karena kendala pendanaan.
Pembangunan embung diharapkan dapat mendukung kebutuhan air warga dan pertanian. Selain itu, keberadaan tampungan air juga dinilai penting dalam menghadapi kondisi ketika sumber air semakin terbatas dan penanggulangan kebakaran membutuhkan pasokan air.
Misbach mendorong kerja sama lintas kalurahan serta keterlibatan Pemerintah Kabupaten Sleman dalam penyelamatan ekosistem Sungai Krasak. Menurutnya, persoalan aliran sungai dan kekeringan tidak dapat ditangani secara terpisah oleh satu wilayah.
Ia juga mendorong penerapan regulasi yang mewajibkan reboisasi sebagai kompensasi setiap penebangan pohon. Kebijakan tersebut dinilai diperlukan untuk menjaga tutupan vegetasi dan memperkuat fungsi kawasan tangkapan air.
Melalui koordinasi lintas sektor, penanganan kekeringan dan kebakaran di Kapanewon Tempel diarahkan tidak hanya pada respons saat bencana terjadi. Upaya tersebut juga mencakup pencegahan kebakaran, konservasi lingkungan, pembangunan embung, serta pemulihan ekosistem Sungai Krasak.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















