Headline.co.id ~ Headline.co.id, Jakarta (Kemenag) — Menteri Agama Nasaruddin Umar membahas pembekalan penerima beasiswa luar negeri dalam Rapat Pimpinan Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Kantor MUI, Rabu (7/10/2026). Pembahasan tersebut mencakup perlunya perhatian terhadap aspek budaya dan agama bagi anak-anak Indonesia yang akan melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Selain pembekalan penerima beasiswa, rapat itu membahas penyiapan generasi masa depan, penguatan komunikasi ulama dan umara, serta peran MUI di berbagai sektor pemerintahan.
Empat isu tersebut dibahas sebagai bagian dari perhatian terhadap generasi yang akan menjadi pengelola bangsa dan penguatan kontribusi keagamaan dalam kehidupan pemerintahan. Menag menyampaikan pandangannya dalam rapat pimpinan Dewan Pertimbangan MUI yang berlangsung di Kantor MUI.
Pendekatan dakwah untuk tiap generasi
Nasaruddin mengatakan perubahan zaman yang berlangsung cepat perlu diikuti dengan pendekatan dakwah yang sesuai dengan karakter setiap generasi. Ia membagi generasi dalam konteks perjalanan bangsa ke dalam generasi perintis, pembangun, penikmat, dan penghancur.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Menurut Menag, perbedaan karakter tersebut membuat bahasa dan materi dakwah tidak dapat diseragamkan. Generasi yang tumbuh dalam kondisi saat ini juga perlu mendapat perhatian karena mereka akan menjadi pengelola bangsa pada masa mendatang.
“Jadi tentu pendekatan dakwah kita kepada generasi perintis, pembangun, penikmat dan penghancur ini kamusnya berbeda. Jadi hari disesuaikan bahasa dakwah apa yang kita harus gunakan kepada generasi penikmat tentu berbeda. Material dakwah yang kita tunjukkan kepada generasi pembangun juga berbeda,” ujar Menag.
Pernyataan itu menjadi salah satu pokok pembahasan dalam rapat selain isu pembekalan bagi penerima beasiswa yang hendak belajar ke luar negeri. Menag menilai, pendidikan generasi masa depan perlu disertai perhatian terhadap aspek budaya dan agama.
Pembekalan penerima beasiswa luar negeri
Menag menyampaikan perlunya pembekalan bagi anak-anak Indonesia sebelum melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Pembekalan itu, menurut dia, juga perlu diberikan kepada penerima beasiswa LPDP.
Ia mengatakan MUI dan tokoh agama perlu ikut terlibat dalam pembekalan tersebut. Dengan demikian, persiapan penerima beasiswa tidak hanya membahas aspek tertentu, tetapi juga mencakup budaya dan agama.
“Pembekalan itu bukan hanya dari tentara, bukan hanya dari Kementerian Dalam Negeri yang membicarakan tentang persoalan-persoalan geopolitik Indonesia, tapi yang paling penting juga adalah budaya dan agama ini. Jadi sepatutnya nanti mereka itu mendapatkan pembekalan. Bagaimana itu mohon kita semuanya memberikan perhatian khusus kepada generasi ini,” kata Menag.
Menag meminta perhatian khusus diberikan kepada generasi yang akan menempuh pendidikan di luar negeri. Dalam pembahasan itu, ia menekankan perlunya peran bersama agar pembekalan yang diterima tidak terbatas pada persoalan geopolitik, tetapi juga menyentuh latar budaya dan agama.
Komunikasi ulama dan umara perlu diperkuat
Isu lain yang dibahas adalah penguatan komunikasi ulama dan umara. Menag mengatakan komunikasi yang lebih rutin diperlukan agar berbagai persoalan yang berkembang dapat dibicarakan bersama.
Menurutnya, pertemuan atau komunikasi ulama dan umara setidaknya dilakukan sekali dalam setahun. Namun, frekuensinya dapat ditingkatkan sesuai dengan persoalan yang dihadapi.
“Minimum sekali setahun. Tapi kalau bisa frekuensinya lebih dipersering tergantung permasalahan yang kita hadapi. Karena di istana sekarang ini kan banyak sekali kesibukan. Kalau kita tidak proaktif untuk minta waktu atau memperdengarkan apa yang kita anggap perlu untuk kita perdengarkan ke Presiden, maka itu juga nanti ada masalah,” ujarnya.
Menag menilai sikap proaktif diperlukan agar hal-hal yang dianggap penting dapat disampaikan kepada Presiden. Kesibukan di istana, kata dia, perlu diimbangi dengan upaya untuk meminta waktu dan menyampaikan persoalan yang perlu dibicarakan.
Peran MUI di sektor pemerintahan
Dalam rapat tersebut, Menag juga menyampaikan agar MUI dapat memberikan masukan keagamaan dalam berbagai sektor pemerintahan. Ia mengaitkan peran tersebut dengan ketahanan bangsa, yang tidak hanya dilihat dari sisi persenjataan fisik.
“Daya tahan bangsa ini harus jangan hanya dilihat dari persenjataan fisik dan sebagainya, tapi juga ketahanan mental, spiritual juga bagiannya terpisahkan dalam ketahanan bangsa. Nah mengko ekonomi juga, apa yang kita lakukan itu menawarkan ekonomi halal, ekonomi syariah. Tidak cukup hanya Kementerian Agama yang menyuarakan itu, kami butuh backup dari MUI,” pungkas Menag.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















