Highlight Berita:
Headline.co.id, Jakarta ~ Aktivis solidaritas Gaza Wael Naouar dirawat di rumah sakit setelah menjalani mogok makan selama 39 hari untuk memprotes penahanannya di Tunisia. Kondisinya pada Rabu, 23 September 2026, disebut sangat kritis oleh Tunisian League for the Defence of Human Rights atau LTDH, sementara Naouar menuntut tuduhan pelanggaran keuangan terhadap dirinya dan tiga aktivis lain dicabut. Empat aktivis tersebut ditahan sejak Maret terkait dugaan penyalahgunaan dana yang dihimpun untuk Global Sumud Flotilla, kampanye internasional yang berupaya menantang blokade Israel terhadap Gaza. Hingga laporan mengenai kondisinya muncul, mereka masih berada dalam penahanan praperadilan dan belum dinyatakan bersalah atas suatu pelanggaran.
Bassem Trifi, Ketua LTDH, menyatakan kondisi kesehatan Naouar telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan setelah lebih dari satu bulan tidak makan sebagai bentuk protes. Seorang juru bicara penjara tidak segera memberikan komentar mengenai kasus maupun kondisi kesehatan aktivis tersebut.
Kondisi Wael Naouar Disebut Sangat Kritis
'Ia berada dalam kondisi kesehatan yang sangat kritis dan di ambang kematian,' kata Bassem Trifi.
Organisasi Gaza Sumud Flotilla yang menaungi Naouar menyatakan aktivis tersebut telah dibawa ke rumah sakit. Organisasi itu juga menyebut pihak berwenang Tunisia tidak memberikan informasi mengenai kondisinya kepada keluarga maupun pengacaranya.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
'Wael Naouar berada di rumah sakit, dan pihak berwenang Tunisia menolak mengungkapkan informasi apa pun kepada keluarga atau pengacaranya,' demikian pernyataan Gaza Sumud Flotilla melalui X.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah seorang hakim menolak banding terhadap perpanjangan masa penahanan praperadilan kelompok yang disebut Sumud 4. Gaza Sumud Flotilla menyebut saat itu Naouar telah memasuki hari ke-39 mogok makan.
Empat Aktivis Masih dalam Penahanan Praperadilan
Naouar ditahan bersama Ghassen Henchiri, Ghassen Boughdiri dan Nabil Channoufi pada Maret. Mereka dituduh menyalahgunakan dana yang dihimpun untuk Global Sumud Flotilla, kampanye internasional yang bertujuan menantang blokade Israel terhadap Gaza.
Keempat aktivis belum dinyatakan bersalah atas suatu tindak pelanggaran. Mereka masih menjalani penyelidikan terkait dugaan aliran keuangan mencurigakan dan tetap berada dalam penahanan praperadilan.
Naouar menjalankan mogok makan untuk menuntut pihak berwenang menghentikan tuduhan pelanggaran keuangan terhadap dirinya dan tiga aktivis lainnya. Penahanan itu menjadi pusat aksi protes dari kelompok yang menuntut pembebasan mereka.
Pengacara Sebut Berat Badan Turun Lebih dari 20 Kilogram
Kondisi fisik Naouar dilaporkan terus menurun selama mogok makan. Menurut pengacaranya, aktivis pro-Palestina tersebut telah kehilangan berat badan lebih dari 20 kilogram dan mengalami rasa sakit di seluruh tubuh.
Ghassen Bouaazi, anggota National Committee for the Defence of Sumud Flotilla Activists, juga mengatakan Naouar belakangan mengalami pingsan berulang, kesulitan bernapas, dan halusinasi.
'Sekarang ada bahaya nyata yang mengancam dirinya,' kata Bouaazi di sela-sela aksi protes pada Sabtu.
Protes Tuntut Pembebasan Aktivis Berujung Penangkapan
Kasus penahanan empat aktivis Sumud juga memicu aksi di Tunisia. Sedikitnya 11 orang ditangkap pada Sabtu setelah berpartisipasi dalam demonstrasi yang menuntut pembebasan para aktivis yang masih ditahan.
Flotilla menuju Gaza yang terkait dengan para aktivis tersebut berlayar pada September tahun sebelumnya. Armada itu kemudian dicegat Israel, sementara para aktivis ditahan dan dideportasi ke negara Afrika Utara tersebut.
Sorotan terhadap Penyelidikan Keuangan di Tunisia
Proses penyelidikan terhadap para aktivis berlangsung di tengah sorotan kelompok hak asasi manusia terhadap penggunaan kasus keuangan dan pidana terhadap kalangan masyarakat sipil. Human Rights Watch dalam sebuah laporan menyatakan telah mendokumentasikan apa yang mereka gambarkan sebagai penggunaan penyelidikan keuangan dan pidana sebagai senjata terhadap aktivis masyarakat sipil oleh pihak berwenang Tunisia.
Pemerintah Tunisia membantah bahwa proses hukum terhadap para aktivis bermotif politik. Presiden Kais Saied menyatakan kebebasan dijamin, lembaga peradilan bersifat independen, dan tidak seorang pun berada di atas hukum.
Di tengah perbedaan pandangan mengenai proses hukum tersebut, kondisi kesehatan Naouar menjadi perhatian utama setelah ia menjalani mogok makan selama 39 hari. Belum ada komentar langsung dari pihak penjara mengenai kondisi kesehatannya, sementara empat aktivis tetap berstatus tahanan praperadilan dalam penyelidikan yang masih berlangsung.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.
















