Highlight Berita:
Headline.co.id, Jakarta ~ Gangguan ingatan yang dialami siswi SMK Bersama Berastagi berinisial FP atau Febiola Boru Purba setelah dugaan keracunan menu MBG di Karo menjadi perhatian karena disertai gejala yang tidak lazim pada keracunan makanan. Febiola dilaporkan mulai mengalami keluhan setelah menyantap menu MBG pada 13 Agustus 2026, kemudian kondisinya memburuk hingga kehilangan kesadaran, kejang, mengalami gangguan bicara, dan gangguan daya ingat. Keluarga menyebut Febiola bahkan tidak mengenali sejumlah anggota keluarga serta teman sekolah yang sebelumnya dekat dengannya. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan hubungan keracunan makanan dengan gangguan pada sistem saraf.
Dokter spesialis mikrobiologi klinik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Dr. dr. Agung Dwi Wahyu Widodo, M.Si., M.Ked.Klin., Sp.MK(K), menjelaskan bahwa kejang yang kemudian diikuti amnesia merupakan kondisi yang sangat jarang ditemukan dalam kasus keracunan makanan. Karena itu, munculnya kedua gejala tersebut tidak dapat langsung disimpulkan sebagai dampak biasa dari keracunan makanan.
Berdasarkan informasi dari keluarga, Febiola pada awalnya mengalami pusing dan muntah setelah menyantap menu MBG. Gejala tersebut kemudian berkembang lebih berat. Ia dilaporkan kehilangan kesadaran, mengalami kejang, dan menghadapi gangguan dalam berbicara.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Perubahan kondisi Febiola semakin menjadi perhatian ketika daya ingatnya ikut terganggu. Menurut keluarga, ia tidak mengenali sejumlah anggota keluarga dan teman sekolah yang sebelumnya memiliki kedekatan dengannya. Gangguan tersebut membuat kasus dugaan keracunan MBG ini tidak hanya dikaitkan dengan keluhan pada saluran pencernaan.
Rangkaian gejala yang dialami Febiola kemudian menimbulkan pertanyaan mengenai apakah bakteri ataupun racun yang terdapat dalam makanan dapat memengaruhi sistem saraf. Namun, hubungan antara keracunan makanan dan gangguan neurologis seperti kejang maupun amnesia tidak dapat dijelaskan secara sederhana hanya berdasarkan munculnya gejala setelah mengonsumsi makanan.
Kejang dan Amnesia Jarang Terjadi pada Keracunan Makanan
Agung menjelaskan, keracunan makanan umumnya lebih dikenal melalui gejala seperti mual, muntah, diare, kram perut, nyeri perut, dan kondisi tubuh yang terasa lemas. Gejala-gejala tersebut berbeda dengan kejang yang kemudian disertai gangguan ingatan sebagaimana dilaporkan terjadi pada Febiola.
Karena kejang dan amnesia tergolong sangat jarang dalam kasus keracunan makanan, pemeriksaan tidak cukup hanya berfokus pada kemungkinan gangguan di lambung maupun saluran pencernaan. Kondisi tersebut membutuhkan penelusuran lebih lanjut untuk mengetahui faktor lain yang mungkin berperan terhadap perubahan kesadaran, kejang, gangguan bicara, maupun daya ingat.
Penjelasan tersebut juga menunjukkan bahwa keberadaan gangguan ingatan setelah dugaan keracunan makanan tidak serta-merta membuktikan bahwa bakteri dari makanan secara langsung menyerang saraf. Dokter masih perlu melihat kondisi pasien secara lebih menyeluruh sebelum menentukan penyebab dari rangkaian gejala yang muncul.
Dokter Perlu Mencari Kemungkinan Penyebab Lain
Ketika pasien mengalami kejang dan kemudian menunjukkan gangguan ingatan, menurut Agung, dokter perlu mencari kemungkinan penyebab lain secara lebih mendalam. Pemeriksaan diperlukan karena gejala semacam itu berada di luar gambaran yang umum ditemukan dalam kasus keracunan makanan.
Salah satu kemungkinan yang menjadi bagian dari pemeriksaan adalah gangguan elektrolit akibat kehilangan cairan dalam jumlah berat. Kondisi kehilangan cairan dapat terjadi ketika seseorang mengalami gejala seperti muntah atau gangguan lain yang menyertai keracunan makanan. Dalam kasus dengan gejala yang lebih kompleks, faktor tersebut menjadi salah satu hal yang perlu dipertimbangkan.
Selain gangguan elektrolit, efek dari toksin tertentu juga termasuk kemungkinan yang dapat ditelusuri. Pemeriksaan terhadap penyebab tersebut diperlukan untuk memahami apakah terdapat faktor yang dapat menjelaskan munculnya kejang atau perubahan pada fungsi ingatan setelah pasien mengalami dugaan keracunan.
Gangguan Elektrolit hingga Infeksi Otak Perlu Dipertimbangkan
Kemungkinan lain yang disebut Agung adalah infeksi yang melibatkan otak. Faktor tersebut perlu menjadi bagian dari pemeriksaan ketika pasien menunjukkan gejala berupa kejang dan gangguan ingatan, terutama karena kedua kondisi itu sangat jarang terjadi pada kasus keracunan makanan biasa.
Riwayat kesehatan pasien sebelumnya juga termasuk aspek yang perlu ditelusuri. Informasi mengenai kondisi kesehatan sebelum kejadian dapat membantu dokter menilai apakah terdapat faktor lain yang berkaitan dengan kejang, gangguan bicara, kehilangan kesadaran, maupun perubahan daya ingat.
Dengan demikian, gangguan ingatan yang muncul setelah dugaan keracunan MBG seperti dialami Febiola membutuhkan pemeriksaan yang lebih luas daripada sekadar melihat gejala pencernaan. Penjelasan Agung menekankan bahwa kejang yang diikuti amnesia merupakan kejadian sangat jarang dalam keracunan makanan sehingga penyebab lain, mulai dari gangguan elektrolit, efek toksin tertentu, infeksi yang melibatkan otak, hingga riwayat kesehatan sebelumnya perlu menjadi bagian dari penelusuran medis.
Dukung beri centang Headline.co.id di icon G (Gratis) atau Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















