Highlight Berita:
Headline.co.id, Jakarta ~ Kelopak mata yang tiba-tiba berkedut sendiri dapat dialami seseorang ketika sedang kelelahan, kurang tidur, mengalami stres, atau terpapar sejumlah pemicu lain dalam aktivitas sehari-hari. Kondisi yang dapat muncul pada kelopak mata atas maupun bawah ini umumnya berupa gerakan kecil dan cepat serta biasanya hanya mengenai salah satu mata dalam satu waktu. Di Jakarta, informasi mengenai kondisi tersebut menjadi penting karena kedutan yang berulang dapat terasa mengganggu meski dalam banyak kasus tidak berbahaya. Mengenali faktor pemicu dan memperbaiki kebiasaan yang berkaitan dengan keluhan tersebut dapat menjadi langkah awal sebelum mempertimbangkan pemeriksaan lebih lanjut.
Salah satu bentuk kedutan kelopak mata yang paling umum disebut myokymia. Kondisi ini berupa kontraksi kecil yang terjadi secara tidak terkendali pada otot kelopak mata. Gerakannya terkadang cukup halus sehingga hanya dirasakan oleh orang yang mengalaminya dan tidak terlihat jelas oleh orang lain.
Meski umumnya tidak berbahaya, kedutan dapat dipengaruhi berbagai faktor mulai dari pola istirahat, konsumsi kafein, stres, penggunaan perangkat digital hingga kondisi permukaan mata. Karena itu, kemunculan kedutan berulang perlu dilihat bersama kebiasaan dan keluhan lain yang menyertainya.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Kurang Tidur dan Kafein Bisa Memicu Kedutan
Kurang tidur menjadi salah satu pemicu yang cukup umum. Saat tubuh mengalami kelelahan, otot di sekitar mata juga dapat mengalami ketegangan sehingga kelopak mata menjadi lebih mudah berkedut. Kondisi tersebut dapat semakin terasa ketika waktu istirahat tidak mencukupi selama beberapa hari.
Pada sebagian orang, keluhan dapat berkurang setelah tubuh memperoleh tidur dan istirahat yang lebih baik. Karena itu, ketika kedutan muncul setelah beberapa hari kurang tidur atau aktivitas yang terlalu padat, memperbaiki waktu istirahat dapat menjadi salah satu langkah awal yang dilakukan.
Selain kurang tidur, konsumsi kafein berlebihan juga dapat memicu kedutan. Kafein memiliki efek stimulan terhadap sistem saraf. Pada orang yang sensitif terhadap kafein, konsumsi dalam jumlah tinggi dapat membuat kedutan pada kelopak mata terasa lebih sering atau lebih kuat.
Kondisi itu dapat diperhatikan setelah mengonsumsi beberapa cangkir kopi, minuman energi, teh, atau produk lain yang mengandung kafein. Mengurangi konsumsinya dapat membantu melihat apakah frekuensi kedutan ikut menurun.
Stres dan Menatap Layar Membuat Mata Lebih Tegang
Stres juga dapat berperan dalam munculnya kedutan kelopak mata. Ketika seseorang mengalami tekanan, tubuh dapat memberikan beragam respons fisik, termasuk ketegangan pada otot yang kemudian dapat berkaitan dengan munculnya kedutan.
Penggunaan komputer, ponsel, atau perangkat digital dalam waktu panjang turut dapat membuat mata mengalami kelelahan. Kondisi ini dapat semakin terasa ketika seseorang jarang mengalihkan pandangan atau tidak memberikan waktu istirahat bagi mata selama menggunakan layar.
Menatap layar terlalu lama juga dapat membuat mata terasa tegang dan kering. Apabila kedutan berkaitan dengan kondisi tersebut, mengurangi ketegangan mata serta memberikan waktu istirahat dapat membantu meredakan keluhan.
Mata Kering dan Iritasi Juga Perlu Diperhatikan
Kedutan tidak selalu disebabkan kurang tidur, stres, atau konsumsi kopi. Permukaan mata yang mengalami iritasi juga dapat menjadi salah satu pemicu. Mata kering, paparan angin, polusi, cahaya terlalu terang, hingga iritasi pada permukaan mata dapat menimbulkan rasa tidak nyaman di area mata.
Dalam kondisi tersebut, kelopak mata dapat berkedut sebagai salah satu respons tubuh. Kedutan yang disertai rasa kering, sensasi seperti ada sesuatu yang mengganjal, sensitif terhadap cahaya, atau mata yang terlihat kemerahan sebaiknya tidak hanya dianggap sebagai akibat kelelahan biasa.
Kebiasaan dan Kondisi Tertentu Dapat Berkaitan dengan Kedutan
Beberapa kebiasaan lain seperti konsumsi alkohol dan nikotin juga dapat berkaitan dengan munculnya kedutan pada kelopak mata. Selain itu, obat-obatan tertentu dapat menyebabkan kedutan sebagai salah satu efek samping.
Pada sebagian kecil kasus, kedutan dapat berkaitan dengan kondisi lain seperti blepharitis, mata kering, atau gangguan gerakan pada otot di sekitar mata. Terdapat pula jenis kedutan tertentu yang tidak hanya melibatkan kelopak mata, tetapi juga dapat mengenai bagian wajah lainnya.
Kondisi serius yang menyebabkan kedutan disebut tergolong jarang. Apabila kedutan berkaitan dengan gangguan saraf atau kondisi tertentu lainnya, biasanya terdapat gejala tambahan yang menyertai sehingga keluhan tidak hanya terbatas pada gerakan kecil di kelopak mata.
Tanda Kedutan Kelopak Mata Perlu Diperiksa Dokter
Kedutan kelopak mata yang hanya terjadi sesekali umumnya dapat mereda dengan sendirinya setelah tubuh memperoleh istirahat yang cukup, stres berkurang, dan konsumsi kafein dikurangi. Karena itu, perubahan pola istirahat dan kebiasaan sehari-hari dapat menjadi hal pertama yang diperhatikan ketika keluhan masih ringan.
Pemeriksaan medis sebaiknya dilakukan apabila kedutan terus berlangsung selama beberapa minggu atau tidak menunjukkan perbaikan. Pemeriksaan juga perlu dipertimbangkan jika kedutan sampai membuat kelopak mata menutup sepenuhnya, menyulitkan seseorang membuka mata, atau mulai mengganggu penglihatan dan aktivitas sehari-hari.
Konsultasi dengan dokter juga penting apabila kedutan disertai kelopak mata turun, mata merah atau bengkak, keluar cairan dari mata, bagian wajah terasa lemah atau kaku, maupun gerakan tidak terkendali yang mulai muncul pada bagian wajah atau tubuh lainnya. Kehadiran gejala tambahan tersebut menjadi alasan untuk tidak sekadar menganggap kedutan sebagai akibat kelelahan biasa.
Dukung beri centang Headline.co.id di icon G (Gratis) atau Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.





















