Headline.co.id, Jakarta ~ The 5th Summit of Halal 20 (H20) 2026 memperkuat kolaborasi antarnegara untuk membangun ekosistem halal global yang terhubung, inklusif, dan mendukung perdagangan. Forum yang diselenggarakan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) di Jakarta itu dihadiri 450 peserta dari 48 negara pada 18–20 September 2026. Pertemuan tersebut mempertemukan regulator, lembaga sertifikasi halal, pelaku industri, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara untuk membahas pengakuan sertifikasi, perdagangan lintas batas, serta pengembangan ekonomi halal.
H20 2026 mengusung tema “Bridging Bridges: Connecting Nations & Stronger Partnerships through Global Halal Trade & Economy”. Forum ini menjadi ruang untuk memperkuat kerja sama internasional melalui tata kelola jaminan produk halal, penyelarasan standar, peningkatan kapasitas kelembagaan, dan perluasan akses pasar produk halal.
H20 2026 Bahas Konektivitas Ekosistem Halal
Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan mengatakan, perkembangan industri halal membutuhkan konektivitas dan kerja sama yang lebih kuat antarnegara. Menurut dia, karakter halal berpotensi menjadi titik temu dalam membangun kepercayaan serta kerja sama di pasar global.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Halal is one language! Karena halal dalam bahasa Korea adalah halal. Dalam bahasa Arab, halal adalah halal. Di Rusia, halal adalah halal. Di Argentina, halal adalah halal. Di Brasil, halal adalah halal. Di China, halal adalah halal. Ini sebuah keajaiban,” ujar Ahmad Haikal Hasan atau Babe Haikal dalam forum H20 di Jakarta, sebagaimana keterangan tertulis yang diterima , Sabtu (19/9/2026).
Ia menjelaskan, halal tidak semata-mata berkaitan dengan aspek keagamaan. Halal juga memiliki dimensi kesehatan, kebersihan, transparansi, keterlacakan atau traceability, serta kepercayaan konsumen.
“Halal bukan hanya untuk Muslim saja. Halal juga berkaitan dengan kesehatan, transparansi, traceability. Halal adalah simbol kesehatan, double clean, elite food, high and no higher than halal,” katanya.
Kerja Sama Sertifikasi Halal Jadi Agenda Strategis
Pengembangan ekosistem halal, menurut Babe Haikal, perlu dilakukan secara lebih luas dan tidak berhenti pada sektor makanan dan minuman. Ekosistem tersebut juga mencakup kosmetik, obat-obatan, pakaian, barang gunaan, serta sektor lain yang masuk dalam ruang lingkup jaminan produk halal.
Perluasan ekosistem halal membutuhkan dukungan regulasi, standardisasi, sertifikasi, industri, sumber daya manusia, teknologi, dan akses pasar. Karena itu, kerja sama internasional dipandang sebagai instrumen penting untuk membangun keterhubungan ekosistem halal antarnegara.
Kerja sama tersebut dapat dilakukan melalui pengakuan sertifikasi halal, harmonisasi atau penyelarasan standar, pertukaran pengetahuan, peningkatan kapasitas lembaga, serta fasilitasi perdagangan produk halal lintas negara.
“Semangatnya adalah membangun kerja sama yang saling menguntungkan sehingga produk halal dapat bergerak lebih mudah lintas negara dengan tetap menjaga integritas jaminan halalnya,” ujar Babe Haikal.
Melalui forum itu, BPJPH mendorong pengembangan ekosistem halal yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah produk bersertifikat. Ekosistem tersebut juga diarahkan untuk membentuk sistem halal yang saling terhubung, memiliki standar kredibel, dan mampu mendukung mobilitas produk serta pelaku usaha di pasar internasional.
Perkuat Konektivitas Halal ASEAN
Selain membahas kerja sama global, H20 2026 menjadi ruang dialog untuk memperkuat kolaborasi halal di Asia Tenggara. Salah satu agenda yang dibahas adalah penguatan kerja sama melalui ASEAN Halal Council.
Babe Haikal mengatakan, kerja sama regional diperlukan untuk meningkatkan konektivitas negara-negara ASEAN dengan ekosistem halal global. Konektivitas tersebut diharapkan memberikan kepastian bagi pelaku usaha sekaligus membuka peluang lebih luas bagi produk halal untuk memasuki pasar internasional.
“Dengan kerja sama yang semakin kuat, perdagangan produk halal diharapkan dapat berlangsung lebih mudah, transparan, dan memberikan kepastian bagi pelaku usaha,” katanya.
H20 2026 Hadirkan Pemangku Kepentingan Internasional
H20 2026 dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia Pratikno, Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, Menteri Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Maman Abdurrahman, serta Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia Bidang Usaha Mikro, Kecil, Menengah, Ekonomi Kreatif, dan Digital Ahmad Ridha Sabana.
Hadir pula Wakil Perdana Menteri Malaysia Dato’ Seri Ahmad Zahid bin Hamidi, Menteri Food and Drug Safety Republik Korea Yu-Kyoung Oh, Ketua B57+ Asia Pacific Arsjad Rasjid, para duta besar negara sahabat, perwakilan lembaga sertifikasi halal internasional, serta mitra strategis halal dari dalam dan luar negeri.
Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring kerja sama halal dan memperkuat posisi Indonesia dalam perkembangan perdagangan serta ekonomi halal global.
Dukung beri centang Headline.co.id di icon G (Gratis) atau Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















