Highlight Berita:
Headline.co.id, Gaza City ~ Serangan udara Israel terhadap sebuah sepeda motor di kawasan Sheikh Radwan, sebelah barat Gaza City, menewaskan satu warga Palestina dan melukai sejumlah orang pada Jumat, menurut laporan media Palestina. Seorang anak termasuk di antara korban luka dan dilaporkan berada dalam kondisi kritis. Serangan tersebut terjadi di tengah berlanjutnya operasi militer Israel di Jalur Gaza, sementara serangan lain pada hari yang sama juga dilaporkan mengenai sejumlah lokasi di wilayah tengah daerah kantong tersebut.
Kantor berita Wafa melaporkan kendaraan yang menjadi sasaran berada di lingkungan Sheikh Radwan. Tidak ada identitas korban tewas maupun rincian jumlah seluruh korban luka yang disebutkan dalam bahan sumber.
Serangan tersebut menambah daftar korban sejak gencatan senjata antara Israel dan Hamas diumumkan pada Oktober 2025. Berdasarkan angka yang tercantum dalam bahan sumber, sedikitnya 1.381 orang telah tewas akibat serangan Israel sejak pengumuman gencatan senjata tersebut.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Serangan Menyasar Sepeda Motor di Sheikh Radwan
Serangan terhadap sepeda motor di Sheikh Radwan menjadi salah satu insiden terbaru yang dilaporkan dari Gaza City. Wafa menyebut satu warga Palestina tewas, sementara beberapa orang lainnya mengalami luka-luka. Kondisi seorang anak disebut kritis setelah serangan itu.
Secara keseluruhan, angka dalam bahan sumber menyebut sedikitnya 73.795 orang telah tewas dan 174.869 lainnya terluka sejak perang di Gaza dimulai pada Oktober 2023. Angka tersebut menggambarkan besarnya jumlah korban yang dilaporkan selama konflik berlangsung.
Tembakan di Nuseirat dan al-Bureij Lukai Warga
Pada Jumat, tentara Israel juga dilaporkan melepaskan tembakan di kamp pengungsi Nuseirat dan al-Bureij di Jalur Gaza bagian tengah. Menurut Wafa, serangan tersebut mengenai tenda-tenda yang digunakan untuk menampung warga yang mengungsi.
Serangan di dua kamp pengungsi itu mengakibatkan sejumlah orang terluka. Bahan sumber tidak menyebutkan jumlah pasti korban luka maupun identitas mereka.
Pada awal pekan yang sama, serangan udara beruntun yang disebut sebagai serangan 'double-tap' juga menewaskan seorang paramedis dan seorang pelajar berusia 15 tahun di Gaza City. Pasukan Israel menyatakan sasaran serangan tersebut adalah anggota Hamas.
Anak-Anak Terus Menjadi Korban di Gaza
Situasi anak-anak di Gaza turut menjadi perhatian di tengah berlanjutnya serangan. UNICEF pada bulan sebelumnya menemukan bahwa rata-rata satu anak terbunuh setiap hari di Gaza.
UNICEF juga menyebut keluarga-keluarga di Gaza kini terkonsentrasi di sekitar sepertiga wilayah daerah kantong tersebut. Banyak di antara mereka berlindung di sekitar bangunan yang hancur, puing-puing, dan sampah yang belum dibersihkan.
Kondisi tersebut memperlihatkan tekanan yang terus dihadapi warga sipil, terutama mereka yang telah kehilangan tempat tinggal. Ruang yang tersedia bagi keluarga untuk mencari perlindungan semakin terbatas di tengah kerusakan luas akibat konflik.
Bangunan Rusak Runtuh dan Tewaskan 21 Orang
Situasi kemanusiaan di Gaza City juga diperburuk oleh runtuhnya sebuah bangunan yang sebelumnya telah mengalami kerusakan pada Rabu. Insiden tersebut menewaskan sedikitnya 21 orang, termasuk 12 anak-anak.
Badan Pertahanan Sipil Palestina di Gaza mengalami kesulitan mengevakuasi jenazah dari bawah puing-puing. Kesulitan itu dikaitkan dengan pembatasan ketat Israel terhadap masuknya peralatan berat yang diperlukan untuk kegiatan pencarian dan penyelamatan.
Sistem Kesehatan Gaza Terancam Kolaps
Di tengah bertambahnya korban, Kementerian Kesehatan pada Rabu memperingatkan bahwa sistem kesehatan Gaza berada di ambang 'kolaps total'. Peringatan tersebut disampaikan ketika fasilitas kesehatan menghadapi kebutuhan untuk menangani korban serangan dan berbagai kondisi medis lainnya.
Kementerian menyebut situasi itu berkaitan dengan pembatasan Israel terhadap jumlah bantuan medis dan bahan bakar yang diizinkan masuk ke Jalur Gaza. Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap layanan kesehatan di wilayah yang terus menghadapi serangan dan kerusakan infrastruktur.



















