Headline.co.id, Gorontalo ~ Pohuwato – Ancaman kekeringan terhadap sawah padi di Desa Bunuyo, Kecamatan Paguat, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, ditangani melalui penyediaan sumber air oleh Balai Perlindungan Tanaman Pertanian (Balintan) Provinsi Gorontalo bersama sejumlah pihak. Upaya tersebut dilakukan pada Jumat (18/9/2026) untuk mempertahankan tanaman padi yang terancam kekurangan air. Dari total luas tanam 161,5 hektare, sekitar 55,5 hektare di Desa Bunuyo teridentifikasi terdampak ancaman kekeringan. Penanganan dilakukan melalui pemanfaatan empat unit sumur suntik beserta pompa secara swadaya.
Langkah penyelamatan sawah dari ancaman kekeringan itu melibatkan Instalasi Pengamatan, Peramalan, dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (IP3OPT) Marisa melalui Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kecamatan Paguat, Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Paguat, Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWS) II, serta Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Empat Sumur Suntik untuk Sawah di Desa Bunuyo
Kepala Balintan Provinsi Gorontalo Abdul Wahid Lahay mengatakan, identifikasi lapangan yang dilakukan POPT menunjukkan adanya areal pertanaman yang terancam kekeringan di Desa Bunuyo. Kondisi tersebut kemudian ditangani bersama Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Di tengah kondisi tersebut, bersama Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air, irigasi melakukan upaya penyelamatan secara swadaya berupa empat unit sumur suntik beserta pompa,” kata Abdul Wahid Lahay, Jumat (18/9/2026).
Menurut Abdul Wahid, keberadaan sumur suntik dan pompa membantu mempertahankan kondisi tanaman padi. Dengan upaya tersebut, sawah yang sebelumnya terancam kekeringan dapat diselamatkan.
Penanganan itu menjadi bagian dari pemantauan kondisi pertanaman padi di wilayah Kecamatan Paguat. BPP berkoordinasi dengan POPT untuk mengidentifikasi kondisi tanaman sekaligus menentukan langkah tindak lanjut yang diperlukan.
Desa Kemiri dan Molamahu Terancam Puso
Ancaman kekeringan tidak hanya terjadi di Desa Bunuyo. Pertanaman padi sawah di Desa Kemiri dan Desa Molamahu juga menghadapi risiko puso karena tidak tersedianya sumber air.
Abdul Wahid menjelaskan, kondisi tersebut turut dipengaruhi waktu tanam yang relatif terlambat. Tanaman yang terdampak umumnya berada pada umur sekitar 35–50 hari setelah tanam (HST).
Di areal yang terdampak terdapat lahan Corporate Social Responsibility (CSR) seluas sekitar 3 hektare serta pertanaman yang mengikuti program Pertanian Modern Agroculture Advance System (PMAAS).
Namun, kondisi di sejumlah desa lain masih memungkinkan tanaman padi dipanen. Hal itu karena tanaman telah memasuki fase yang lebih siap untuk dipanen.
“Sementara Desa lainnya memiliki kesempatan untuk melakukan panen karena tanaman telah memasuki fase yang lebih siap dipanen,” ucap Abdul Wahid.
Pemantauan Melibatkan Kementerian PU
Untuk merespons kondisi kekeringan tersebut, pemantauan lapangan dilakukan dengan melibatkan BPP, POPT, penyuluh pertanian lapangan (PPL), BWS, dan Kementerian PU. Koordinasi dilakukan untuk melihat kondisi pertanaman serta memastikan langkah penanganan yang dibutuhkan.
Perwakilan Kementerian PU, Hidayat, turut meninjau kondisi sawah di lapangan. Tim juga mengecek kondisi dan perkembangan proyek pembangunan irigasi tersier yang sebelumnya diusulkan oleh kelompok tani.
Kelompok tani yang mengusulkan pembangunan irigasi tersebut adalah Poktan Sinar Pagi, Mina Pale, Mina Pale 1, dan Mina Pale 2. Pemeriksaan proyek menjadi bagian dari upaya melihat dukungan infrastruktur irigasi terhadap pertanaman padi di wilayah tersebut.


















