Headline.co.id, Jakarta ~ Pelatih Kepala PSS Sleman Pieter Huistra menilai rivalitas dalam Derby Mataram seharusnya menjadi bagian dari persaingan sepak bola, bukan alasan untuk menciptakan permusuhan. Pesan itu disampaikan setelah pertemuan suporter PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta di Polda DIY, Rabu (16/09/2026), yang menghasilkan komitmen menjaga perdamaian. Menurut Pieter, dukungan terhadap tim tetap dapat diberikan dengan penuh emosi dan kebanggaan tanpa menimbulkan keributan. Ia menyampaikan pandangan tersebut seusai memimpin latihan PSS Sleman di Stadion Maguwoharjo, Kamis (17/09/2026) sore.
Derby Mataram memiliki atmosfer yang berbeda karena mempertemukan dua tim dengan identitas dan pendukung masing-masing. Bagi Pieter, rivalitas menjadi unsur yang membuat pertandingan sepak bola lebih hidup. Namun, persaingan itu tetap perlu dijalankan dalam batas yang wajar.
Komitmen perdamaian yang dibangun suporter PSS dan PSIM menjadi konteks penting bagi pesan Pieter. Kedua kelompok suporter tetap dapat mempertahankan identitas, warna, serta kebanggaan terhadap klub masing-masing tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling bermusuhan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Pieter Huistra Tekankan Rivalitas Derby Mataram
Pieter tidak memandang rivalitas sebagai sesuatu yang harus dihilangkan dari Derby Mataram. Menurutnya, emosi, kebanggaan, dan keinginan melihat klub masing-masing meraih hasil terbaik merupakan bagian dari daya tarik pertandingan derby.
Ia memiliki pengalaman menghadapi atmosfer laga sarat rivalitas ketika masih bermain untuk Glasgow Rangers di Skotlandia. Pengalaman tersebut membentuk pandangannya bahwa derby dapat menghadirkan gairah dan emosi tanpa harus berkembang menjadi permusuhan.
“Menurut saya, itu sangat bagus. Pada akhirnya, ini semua tentang sepak bola, bukan tentang membuat masalah. Rivalitas dalam derby tentu ada, dan itu sesuatu yang wajar. Namun, yang terpenting adalah tetap mendukung tim dengan cara yang baik,” tutur Pieter.
Pernyataan itu disampaikannya setelah latihan PSS Sleman di Stadion Maguwoharjo. Ia menegaskan bahwa rivalitas dalam pertandingan seharusnya diarahkan untuk mendukung tim, bukan untuk melakukan tindakan yang dapat mengganggu jalannya sepak bola.
Rivalitas Berhenti pada Persaingan Tim
Menurut Pieter, cara mengekspresikan rivalitas menjadi hal yang perlu dijaga. Perbedaan dukungan terhadap PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta tidak semestinya menghapus rasa hormat di suporter.
“Sepak bola akan menjadi sesuatu yang baik jika kita menjalaninya dengan cara yang wajar. Tentu ada rivalitas, dan itu tidak masalah. Tetapi tetaplah mendukung tim. Menurut saya, itu jauh lebih penting daripada membuat keributan,” ujarnya.
Pesan tersebut sejalan dengan hasil pertemuan suporter PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta di Polda DIY. Pertemuan itu menghasilkan komitmen bersama untuk menjaga perdamaian dalam Derby Mataram.
Dengan komitmen tersebut, masing-masing kelompok suporter tetap memiliki ruang untuk menunjukkan dukungan kepada klub kebanggaannya. Rivalitas dapat tetap hadir melalui nyanyian, semangat, dan kebanggaan terhadap tim, tetapi tidak diarahkan menjadi konflik.
Derby Mataram Tetap Panas dalam Batas Wajar
Derby Mataram tidak harus kehilangan atmosfer persaingannya agar dapat berlangsung damai. Justru, rivalitas yang dijalankan secara wajar dapat mempertahankan daya tarik pertandingan sekaligus menjaga sepak bola tetap menjadi ruang kebersamaan.
Bagi Pieter, inti dari derby tetaplah pertandingan sepak bola. Para pendukung dapat membela klub masing-masing dengan penuh kebanggaan, tetapi tidak perlu menciptakan masalah atau keributan.
Kesepakatan damai suporter PSS dan PSIM menjadi bagian penting menjelang pertemuan kedua tim. Derby tetap dapat berlangsung panas selama pertandingan, sementara batas persaingan tidak dibawa menjadi permusuhan di luar lapangan.
Rivalitas memberi warna bagi Derby Mataram, sedangkan rasa hormat menjadi batas yang perlu dipertahankan. Dengan begitu, dukungan kepada tim tetap dapat disampaikan secara kuat tanpa menghilangkan nilai persaudaraan dan kebersamaan dalam sepak bola.




















