Headline.co.id, Jakarta ~ Deklarasi Istiqlal didorong tidak berhenti sebagai kesepakatan lintas agama, tetapi diwujudkan dalam aksi kemanusiaan dan kepedulian terhadap lingkungan. Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan hal itu dua tahun setelah deklarasi ditandatangani di Masjid Istiqlal, Jakarta, dalam rangkaian kunjungan apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia. Menurut Nasaruddin, langkah tersebut penting karena Deklarasi Istiqlal juga menjadi bagian dari diplomasi keagamaan Indonesia di tingkat global. Ia menilai pesan persaudaraan lintas agama perlu diterjemahkan melalui kerja bersama untuk merespons persoalan kemanusiaan dan perubahan iklim.
Deklarasi Istiqlal ditandatangani Paus Fransiskus dan Nasaruddin Umar, yang juga menjabat Imam Besar Masjid Istiqlal, pada 5 September 2024. Penandatanganan berlangsung dalam pertemuan lintas agama di Masjid Istiqlal, Jakarta.
Menurut Nasaruddin, Indonesia memiliki posisi strategis dalam percakapan global mengenai agama, kemanusiaan, dan lingkungan. Posisi itu tercermin dari dipilihnya Indonesia sebagai tempat lahir Deklarasi Istiqlal.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Dipilihnya Indonesia untuk menandatangani Deklarasi Istiqlal menunjukkan bahwa Indonesia memiliki posisi yang sejajar dengan negara-negara lain dalam membawa pesan perdamaian dan kemanusiaan kepada dunia,” ujar Nasaruddin di Jakarta, Rabu (16/9/2026).
Deklarasi Istiqlal Soroti Dehumanisasi dan Perubahan Iklim
Deklarasi Istiqlal mengangkat dua persoalan besar yang dihadapi masyarakat global, yakni dehumanisasi dan perubahan iklim. Dehumanisasi ditandai lain oleh kekerasan dan konflik yang mengancam martabat manusia.
Di sisi lain, eksploitasi terhadap alam berkontribusi terhadap perubahan iklim serta menimbulkan berbagai dampak bagi kehidupan manusia. Kedua persoalan tersebut dinilai membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk komunitas keagamaan.
Nasaruddin menyebut semangat Deklarasi Istiqlal memiliki titik temu dengan gagasan persaudaraan universal dalam Ensiklik Fratelli Tutti Paus Fransiskus. Ensiklik tersebut mengambil inspirasi dari cara hidup Santo Fransiskus dari Assisi yang memandang sesama dan seluruh ciptaan dalam semangat persaudaraan.
“Spirit dasarnya adalah persaudaraan universal. Santo Fransiskus mengajak kita mencintai sesama, baik yang jauh maupun yang dekat. Dalam kemanusiaan tidak ada warna. Semua manusia memiliki martabat yang sama,” tutur Nasaruddin.
Menurut dia, semangat persaudaraan itu tidak semestinya berhenti pada dialog atau pernyataan bersama. Persaudaraan lintas agama perlu diwujudkan menjadi kerja bersama ketika manusia dan lingkungan menghadapi persoalan.
Deklarasi Istiqlal sebagai Diplomasi Keagamaan Indonesia
Nasaruddin memandang Deklarasi Istiqlal sebagai salah satu instrumen diplomasi keagamaan Indonesia atau religious diplomacy. Pengalaman Indonesia dalam mengelola keragaman agama dinilai dapat dibawa ke ruang internasional untuk memperkuat dialog, perdamaian, dan kerja sama dalam menghadapi persoalan kemanusiaan.
Pesan tersebut sejalan dengan isi Deklarasi Istiqlal yang menempatkan dialog antaragama sebagai instrumen untuk membantu penyelesaian konflik di tingkat lokal, regional, maupun internasional. Dialog tersebut terutama diarahkan untuk menghadapi konflik yang dipicu oleh penyalahgunaan agama.
Komitmen terhadap persoalan lingkungan juga terus dikembangkan. Kementerian Agama membangun sinergi dengan kementerian yang menangani lingkungan hidup untuk memperkuat gagasan pertobatan ekologis.
Gagasan itu sejalan dengan semangat Ensiklik Laudato Si’ mengenai kepedulian terhadap bumi sebagai rumah bersama. Nasaruddin menilai agama memiliki sumber nilai yang kuat untuk mengubah cara manusia memperlakukan alam.
Karena itu, tanggung jawab ekologis tidak hanya dipandang sebagai persoalan teknis lingkungan. Tanggung jawab tersebut juga berkaitan dengan kesadaran moral dan keagamaan.
Pesan Deklarasi Istiqlal Harus Sampai ke Akar Rumput
Duta Besar Republik Indonesia untuk Takhta Suci Vatikan Michael Trias Kuncahyono menilai dua tahun Deklarasi Istiqlal menjadi momentum untuk melihat sejauh mana pesan yang lahir dari kunjungan Paus Fransiskus telah menjangkau masyarakat.
Michael mengatakan dunia masih menghadapi dua persoalan yang menjadi perhatian Deklarasi Istiqlal. Kekerasan dan intoleransi terus mengancam martabat manusia, sedangkan krisis iklim membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat, termasuk komunitas keagamaan.
Ia mengingatkan agar Deklarasi Istiqlal tidak hanya menjadi dokumen yang beredar dan dipahami kalangan elite.
“Deklarasi Istiqlal jangan sampai tertahan sebagai dokumen eksklusif yang hanya dipahami elite negara, tetapi harus sampai ke akar rumput,” ujar Michael.
Menurut Michael, pemuka agama memiliki peran penting sebagai figur moral umat. Mereka diharapkan dapat menerjemahkan pesan Deklarasi Istiqlal ke dalam kehidupan masyarakat.
Respons terhadap krisis kemanusiaan dan lingkungan, lanjutnya, membutuhkan keterlibatan komunitas agama hingga tingkat yang paling dekat dengan masyarakat. Dengan demikian, nilai-nilai yang terkandung dalam deklarasi dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Dialog Lintas Agama Diarahkan Menjadi Aksi
Michael juga mendorong agar dialog antaragama tidak berhenti pada pertemuan dan percakapan antarpemuka agama. Dialog tersebut perlu diwujudkan melalui kerja nyata yang menjawab persoalan kemanusiaan.
“Mari kita bangun dialog lintas agama menjadi sesuatu yang indah melalui aksi kemanusiaan. Dua tahun Deklarasi Istiqlal harus menjadi momentum menuju aksi nyata kemanusiaan,” tuturnya.
Dua tahun setelah ditandatangani, Deklarasi Istiqlal menghadapi tantangan untuk membawa pesan persaudaraan, penghormatan terhadap martabat manusia, dan kepedulian terhadap bumi dari ruang dialog menuju gerakan yang dapat dirasakan masyarakat.
Pesan tersebut diharapkan terus berkembang dari Jakarta sebagai bagian dari diplomasi keagamaan Indonesia sekaligus kerja bersama lintas iman dalam merespons persoalan kemanusiaan dan menjaga bumi sebagai rumah bersama.


















