Highlight Berita:
Headline.co.id, Jakarta ~ Desa Wisata Tinalah di Purwoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, terus memperkuat pengembangan pariwisata berkelanjutan melalui peningkatan fasilitas, homestay, serta aktivitas wisata berbasis masyarakat. Pengembangan tersebut ditujukan untuk menjaga kenyamanan wisatawan sekaligus mempertahankan karakter alam dan budaya kawasan Pegunungan Menoreh. Dukungan terhadap penguatan fasilitas juga datang melalui pembangunan sanitasi dan dorongan pengembangan akomodasi yang tetap menampilkan ciri khas desa.
Desa wisata yang juga dikenal dengan nama Dewi Tinalah tersebut mengandalkan perpaduan lanskap Pegunungan Menoreh, Sungai Tinalah, budaya masyarakat, wisata sejarah, serta berbagai kegiatan edukasi. Konsep tersebut dirangkum dalam slogan “Pesona Alam dan Budaya” yang menjadi identitas pengembangan destinasi ini.
Dalam kunjungan yang disebut berlangsung baru-baru ini, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa Dewi turut mengikuti kegiatan rock painting di Desa Wisata Tinalah. Dalam kunjungan tersebut, ia mendorong pengembangan homestay dengan konsep khas desa serta peningkatan fasilitas sanitasi untuk mendukung pariwisata yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Sanitasi dan Homestay Diperkuat
Peningkatan fasilitas menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan Desa Wisata Tinalah. Pada 2025, desa wisata ini menerima bantuan dari Badan Otorita Borobudur untuk pembangunan enam toilet bersih melalui program Gerakan Wisata Bersih atau GWB.
Fasilitas sanitasi tersebut melengkapi sarana yang telah tersedia di kawasan wisata, antara lain kamar mandi umum, areal parkir, balai pertemuan, kafetaria, tempat makan, kios suvenir, area outbound, jalur jungle tracking, area swafoto, spot foto, mushola, serta jaringan WiFi.
Selain sanitasi, homestay menjadi bagian penting dari pengalaman berkunjung ke Tinalah. Akomodasi yang dikelola masyarakat memungkinkan wisatawan tinggal lebih dekat dengan kehidupan warga. Melalui paket live in, pengunjung dapat berinteraksi dengan masyarakat dan mengenal kehidupan serta budaya lokal secara lebih langsung.
Pengembangan homestay dengan karakter khas desa juga sejalan dengan upaya mempertahankan pengalaman autentik. Wisatawan tidak hanya mencari tempat bermalam, tetapi juga memperoleh kesempatan memahami kehidupan masyarakat yang menjadi bagian dari daya tarik desa wisata.
Alam dan Budaya Menjadi Fondasi Wisata Tinalah
Desa Wisata Tinalah berada di kawasan Pegunungan Menoreh dengan lanskap perbukitan dan aliran Sungai Tinalah. Potensi alam tersebut menjadi dasar pengembangan beragam kegiatan luar ruang, mulai dari camping, outbound, river tubing, susur sungai, trekking, hingga jelajah Puncak Kleco.
Pengunjung yang tertarik dengan wisata sejarah juga dapat mengunjungi Situs Rumah Sandi Negara dan Goa Sriti. Sementara itu, kegiatan berbasis budaya dan kreativitas meliputi rock painting, belajar membatik, membuat kerajinan dari bahan alami, mencoba jemparingan, hingga pelatihan gamelan.
Warisan budaya masyarakat juga tetap menjadi bagian dari identitas Tinalah. Kesenian jatilan, wayang wong, serta Merti Bumi Tinalah disebut masih dilestarikan. Kirab Merti Bumi Tinalah yang digelar pada bulan Agustus melibatkan masyarakat dan menjadi salah satu bentuk pelestarian budaya lokal melalui kegiatan wisata.
Konsep tersebut membuat kunjungan ke Tinalah tidak hanya berorientasi pada menikmati pemandangan. Wisatawan diarahkan untuk terlibat dalam aktivitas, mengenal budaya, serta berinteraksi dengan warga yang mengelola berbagai layanan di desa.
Aktivitas Wisata Melibatkan Masyarakat Lokal
Keterlibatan masyarakat menjadi unsur utama dalam tata kelola Desa Wisata Tinalah. Warga terlibat dalam penyediaan homestay, pemanduan wisata, kegiatan trekking, fasilitasi outbound, pengelolaan produk UMKM, kuliner, hingga berbagai workshop kreatif.
Produk kuliner dan oleh-oleh yang menjadi bagian dari pengalaman wisata antara lain geblek, klanting, wingko Tinalah, kripik pegagan, aneka keripik, serta wedang rempah. Kehadiran produk tersebut memperluas manfaat ekonomi dari kunjungan wisata karena aktivitas wisata berhubungan langsung dengan produk dan layanan masyarakat setempat.
Desa Wisata Tinalah juga menyediakan pemandu lokal, pemandu trekking, dan fasilitator outbound. Untuk menunjang mobilitas wisatawan di kawasan desa, tersedia pula layanan sepeda motor dan jeep wisata.
Pengembangan berbasis masyarakat juga diperkuat melalui pelatihan keterampilan, kepemanduan, pengelolaan homestay, hingga pemasaran digital. Masyarakat dilibatkan dalam kegiatan promosi dan pengembangan layanan sehingga tidak hanya menjadi bagian dari objek wisata, tetapi juga aktor dalam pengelolaan destinasi.
Penghargaan Menguatkan Posisi Desa Wisata Tinalah
Perjalanan pengembangan Desa Wisata Tinalah telah memperoleh sejumlah pengakuan. Pada 2021, Tinalah masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Pada tahun yang sama, Tinalah juga disebut sebagai desa wisata kategori digital.
Pada 2023, Tinalah meraih Silver Champion Tourism Entrepreneurial Marketing Award dalam kategori Local Community Empowerment dan Event. Pada tahun yang sama, desa wisata ini meraih Juara 3 Lomba Desa Wisata Berkelanjutan yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pengakuan berlanjut pada 2024 melalui Silver Award Responsible Tourism Awards Southeast Asia dalam kategori Employing and Upskilling Local Communities. Penghargaan tersebut berkaitan dengan upaya pemberdayaan masyarakat dan peningkatan keterampilan lokal melalui sektor pariwisata.
Desa Wisata Tinalah berada di Jalan Persandian Km 5, Purwoharjo, Samigaluh, Kulon Progo. Jarak dari pusat Kota Yogyakarta disebut sekitar 25 kilometer dan kawasan dapat dijangkau menggunakan mobil, sepeda motor, maupun bus. Dengan pengembangan fasilitas, pelibatan masyarakat, serta pelestarian alam dan budaya, Tinalah terus membangun posisinya sebagai salah satu desa wisata di kawasan Kulon Progo.





















