Headline.co.id, Lumajang ~ Gunung Semeru masih berstatus Level III atau Siaga hingga Senin (14/9/2026). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang memperkuat pemantauan selama 24 jam melalui Pos Curah Kobokan dan Oro-Oro Ombo di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat penyampaian informasi dan respons apabila terjadi perubahan aktivitas gunung api. Pemantauan diperkuat setelah erupsi kembali terjadi pada pukul 06.28 WIB dengan kolom abu teramati sekitar 1.000 meter di atas puncak.
BPBD Lumajang Siagakan Petugas di Dua Pos
Kepala BPBD Kabupaten Lumajang Isnugroho mengatakan perkembangan aktivitas Gunung Semeru terus dipantau oleh petugas di lapangan. Personel disiagakan secara bergantian selama 1×24 jam di Pos Curah Kobokan dan Oro-Oro Ombo.
Menurut Isnugroho, pemantauan tersebut diperlukan untuk memastikan informasi awal dapat segera diterima dan diteruskan apabila aktivitas Gunung Semeru mengalami perubahan. Pengamatan juga menjadi bagian dari kesiapan petugas dalam merespons potensi bahaya di sekitar kawasan gunung api.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“BPBD melalui jajaran Pos Curah Kobokan dan Oro-Oro Ombo bersiaga 1×24 jam secara bergantian. Apabila sewaktu-waktu terjadi APG, paling tidak kami bisa memberikan informasi awal secara visual dan melakukan tindakan evakuasi kepada warga sekitar kawasan,” ujar Isnugroho di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, Senin (14/9/2026).
APG atau awan panas guguran menjadi salah satu potensi bahaya yang diantisipasi dalam pemantauan aktivitas Gunung Semeru. Dengan kesiapsiagaan petugas di lapangan, kondisi di sekitar kawasan dapat diamati secara berkesinambungan.
Erupsi Semeru Kembali Terjadi
Berdasarkan informasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gunung Semeru kembali mengalami erupsi pada Senin pagi. Kolom abu dari erupsi itu teramati sekitar 1.000 meter di atas puncak.
Status Gunung Semeru hingga hari yang sama masih berada pada Level III atau Siaga. Kondisi tersebut menjadi dasar bagi BPBD Lumajang untuk mempertahankan pemantauan secara intensif melalui pos pengamatan yang berada di kawasan terkait.
Selain melakukan pengamatan secara visual, petugas juga mengikuti perkembangan kegempaan Gunung Semeru. Salah satu aktivitas yang diperhatikan adalah tremor harmonik yang tercatat dalam pemantauan aktivitas vulkanik.
Isnugroho mengatakan perkembangan kegempaan menjadi salah satu unsur yang terus diperhatikan bersama informasi lain mengenai aktivitas Gunung Semeru. Data dan pengamatan tersebut digunakan untuk mendukung penyampaian informasi awal serta kesiapan respons petugas.
Masyarakat Diminta Mengikuti Informasi Resmi
BPBD Lumajang memastikan pemantauan Gunung Semeru dilakukan secara berkesinambungan. Kesiapan tersebut ditujukan untuk mendukung penyampaian informasi kepada masyarakat dan unsur terkait apabila terjadi perubahan aktivitas gunung api.
Petugas juga disiapkan untuk melakukan tindakan evakuasi kepada warga sekitar kawasan apabila sewaktu-waktu terjadi awan panas guguran. Namun, pelaksanaan tindakan tersebut tetap bergantung pada kondisi dan perkembangan aktivitas Gunung Semeru.
Isnugroho mengimbau masyarakat agar tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan aktivitas gunung api. Warga diminta memperoleh informasi dari sumber resmi serta mematuhi arahan pemerintah dan petugas berwenang.
“Dengan adanya aktivitas kegempaan ini, kami terus melakukan pemantauan. Yang terpenting masyarakat tetap tenang, waspada, dan mengikuti informasi resmi dari petugas,” ujarnya.
Masyarakat juga diminta mengikuti informasi dan arahan resmi dari pemerintah, BPBD, serta instansi yang berwenang dalam pemantauan aktivitas Gunung Semeru. Langkah tersebut diperlukan agar informasi mengenai kondisi gunung api dapat diterima secara tepat dan tidak menimbulkan kepanikan.



















