Headline.co.id, Jakarta ~ Buku Islam ala Prabowo kembali ramai dibahas setelah muncul sorotan publik terhadap isi dan narasi keislaman Presiden Prabowo Subianto. Buku berjudul Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam itu membahas nilai-nilai Islam yang disebut tercermin dalam kehidupan pribadi, perjalanan karier militer, hingga kepemimpinan Prabowo sebagai Presiden Republik Indonesia. Di tengah pro dan kontra yang berkembang, sejumlah tokoh meminta masyarakat memahami buku tersebut secara utuh agar tidak menilai hanya berdasarkan judul.
Buku Islam ala Prabowo kembali ramai dibahas setelah pendakwah Hilmi Firdausi atau Gus Hilmi mempertanyakan sisi dasar kehidupan spiritual Prabowo melalui akun X pribadinya pada Sabtu (5/9/2026). Di sisi lain, Pengasuh Pondok Pesantren Nur Muhammad Surabaya KH Mas Muhammad Maftuh atau Gus Maftuh menegaskan bahwa buku tersebut tidak dimaksudkan untuk menghadirkan bentuk atau mazhab Islam baru.
Di tengah buku Islam ala Prabowo kembali ramai dibahas, perhatian publik kemudian tertuju pada pertanyaan yang lebih mendasar, yakni apa sebenarnya isi dan tujuan buku tersebut. Berdasarkan materi yang termuat di dalamnya, buku itu mencoba menampilkan hubungan antara nilai-nilai Islam dan perjalanan hidup Prabowo, termasuk dalam konteks kepemimpinan, kebangsaan, keadilan, persatuan, serta kepedulian terhadap masyarakat.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Apa Isi Buku Islam ala Prabowo?
Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam ditulis oleh Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas.
Buku tersebut diterbitkan oleh Atmosphere Publishing House dan pertama kali dirilis pada April 2025. Ketebalannya sekitar 346 halaman.
Pembahasan buku tidak hanya berfokus pada kehidupan pribadi Prabowo Subianto.
Sejumlah bagian mengulas perjalanan karier militernya, sikap dalam kehidupan publik, hingga kiprahnya dalam memimpin Indonesia.
Nilai yang dibahas antara lain perdamaian, keadilan, spiritualitas, persatuan, kepedulian kepada rakyat, kemanusiaan, serta upaya mewujudkan kesejahteraan.
Dengan struktur tersebut, buku menempatkan Prabowo sebagai figur yang kehidupan dan kepemimpinannya dibaca melalui perspektif nilai-nilai Islam.
Tujuannya Bukan Menciptakan Mazhab Baru
Salah satu perdebatan yang muncul berkaitan dengan penggunaan istilah “Islam ala Prabowo” pada judul buku.
Gus Maftuh meminta masyarakat tidak langsung menyimpulkan bahwa istilah tersebut mengarah pada pembentukan ajaran, aliran, maupun mazhab baru.
“Jangan memahami buku ini hanya dari tiga kata, ‘Islam Ala Prabowo’, kemudian langsung menyimpulkan seolah-olah ada Islam baru atau mazhab baru. Maksudnya adalah bagaimana nilai-nilai Islam dipahami dan tercermin dalam kehidupan, sikap, serta kepemimpinan Prabowo,” ujar Gus Maftuh, Sabtu (5/9/2026).
Menurut dia, fokus buku berada pada cara nilai-nilai Islam terlihat dalam sikap dan kepemimpinan seorang tokoh.
Dengan demikian, istilah “ala Prabowo” diposisikan sebagai cara melihat penerapan nilai dalam perjalanan seorang pemimpin, bukan sebagai konsep agama baru.
“Ini buku yang mencoba melihat sisi keislaman seorang pemimpin. Jadi yang dibicarakan bukan Islam sebagai agama yang baru, tetapi bagaimana nilai Islam seperti perdamaian, keadilan, persatuan, kepedulian kepada rakyat dan kemanusiaan dapat diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.
Membahas Islam dalam Konteks Kepemimpinan
Salah satu tujuan utama buku tersebut adalah menghubungkan nilai keagamaan dengan praktik kepemimpinan.
Pembahasan tidak ditempatkan sebatas pada ritual atau simbol keagamaan, melainkan diperluas ke aspek sosial dan kebangsaan.
Gus Maftuh menilai nilai agama dapat dilihat dari bagaimana seorang pemimpin memperlakukan rakyat, menjaga persatuan, serta menghadirkan keadilan dan perdamaian.
“Kalau agama hanya berhenti pada simbol, kita kehilangan substansinya. Islam harus menghadirkan akhlak, keadilan, kepedulian kepada rakyat, persaudaraan dan perdamaian. Kalau nilai-nilai itu bisa diwujudkan dalam kepemimpinan, tentu itu sesuatu yang harus kita apresiasi,” ujarnya.
Sudut pandang tersebut menjadi salah satu landasan pembahasan dalam buku Islam ala Prabowo.
Artinya, sisi keislaman tidak hanya ditempatkan pada kehidupan pribadi, tetapi juga dikaitkan dengan keputusan, tindakan, dan orientasi kepemimpinan.
Memuat Pandangan Sejumlah Tokoh Nasional
Buku Islam ala Prabowo juga memuat pandangan serta kontribusi sejumlah tokoh agama, akademisi, politisi, dan tokoh nasional.
Ketua MPR RI Ahmad Muzani tercatat menulis prolog mengenai kepemimpinan Prabowo dan keterlibatannya dalam sejumlah isu dunia Islam, termasuk Palestina.
Selain Ahmad Muzani, terdapat sejumlah nama lain yang disebut dalam rangkaian penyusunan maupun kontribusi terhadap buku tersebut.
Mereka antara lain Prof. Dr. KH Asep Saifuddin Chalim, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, Prof. Dr. KH Noor Ahmad, KH Anwar Iskandar, serta Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar.
Menurut Gus Maftuh, keterlibatan berbagai tokoh tersebut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai sisi keislaman Prabowo disampaikan melalui lebih dari satu perspektif.
Diluncurkan Bersama Tokoh MUI dan Baznas
Peluncuran buku Islam ala Prabowo juga melibatkan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH Anwar Iskandar dan Ketua Badan Amil Zakat Nasional Prof. Dr. Noor Achmad.
Kehadiran keduanya menjadi bagian dari momentum peluncuran buku yang membahas hubungan antara nilai Islam dan perjalanan kehidupan serta kepemimpinan Prabowo Subianto.
Buku tersebut kemudian tersedia secara komersial dan dapat ditemukan di sejumlah toko buku maupun marketplace.
Gus Hilmi Pertanyakan Sisi Ibadah Prabowo
Meski isi buku banyak menyoroti penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan dan kepemimpinan, perbincangan publik kemudian berkembang setelah Gus Hilmi mempertanyakan praktik dasar ibadah Prabowo.
Melalui akun X @Hilmi28, Gus Hilmi mengaku tertarik membaca buku tersebut karena belum pernah mendengar Prabowo membaca Al Fatihah.
“Jadi pingin baca buku ini, karena seumur hidup saya belum pernah mendengar beliau baca Al Fatihah. Saya juga tidak tahu apa beliau bisa membaca Al-Qur’an dan hafal bacaan-bacaan sholat, soalnya itu basic sekali dalam ajaran Islam,” tulis Gus Hilmi.
Ia juga meminta warganet yang memiliki dokumentasi Prabowo membaca Al Fatihah untuk membagikannya.
“Yang punya videonya boleh share ketika beliau membaca Al Fatihah. Kalau Pak SBY dan Pak Jokowi saya pernah lihat,” imbuhnya.
Pernyataan tersebut membuat pembahasan buku berkembang dari persoalan isi menjadi diskusi mengenai cara publik melihat dimensi keagamaan seorang pemimpin.
Gus Maftuh Minta Buku Dibaca Secara Utuh
Di tengah perdebatan tersebut, Gus Maftuh mengingatkan masyarakat agar tidak mengambil kesimpulan hanya dari potongan informasi, meme, komentar media sosial, maupun judul buku.
Menurut dia, kritik dan perbedaan pandangan tetap diperbolehkan, tetapi seharusnya didasarkan pada pemahaman terhadap substansi.
“Kalau ada yang berbeda pandangan, silakan. Buku adalah ruang intelektual untuk berdiskusi. Tetapi jangan sampai perbedaan tafsir kemudian berubah menjadi fitnah dan saling menghujat. Mari baca bukunya, pahami isinya, baru memberikan penilaian,” kata Gus Maftuh.
Ia berharap buku tersebut tidak digunakan untuk memperkuat polarisasi politik maupun sentimen keagamaan.
Sebaliknya, ia mendorong agar kehadiran buku menjadi ruang dialog mengenai hubungan antara Islam, nasionalisme, demokrasi, kebinekaan, dan pembangunan bangsa.
“Jangan jadikan Islam sebagai alasan untuk saling bermusuhan. Justru Islam mengajarkan kita untuk menjaga persaudaraan, perdamaian, menghormati sesama dan membangun kemaslahatan. Indonesia ini rumah bersama,” ujar Gus Maftuh.
Menempatkan Islam sebagai Nilai Kebangsaan
Dalam pandangan Gus Maftuh, salah satu konteks penting dari buku Islam ala Prabowo adalah posisi Indonesia sebagai negara yang majemuk.
Ia menilai nilai Islam seharusnya mendorong kehidupan masyarakat yang damai, rukun, dan bersatu.
“Islam yang kita inginkan adalah Islam yang membuat Indonesia maju, Islam yang rukun, Islam yang menjaga persatuan dan mampu hidup berdampingan dengan rukun, damai dan memegang erat konsesi kebangsaan bersama dengan umat umat beragama lainnya. Itulah wajah Islam Indonesia yang rahmatan lil alamin,” tegasnya.
Dengan demikian, tujuan buku Islam ala Prabowo tidak hanya memperkenalkan sisi keagamaan Prabowo Subianto, tetapi juga mencoba menggambarkan bagaimana nilai Islam dapat dipahami dalam konteks kepemimpinan dan kehidupan bernegara.
Perdebatan yang muncul setelah buku itu kembali ramai dibahas memperlihatkan adanya dua fokus yang berbeda. Gus Hilmi menyoroti aspek ibadah dasar Prabowo, sedangkan Gus Maftuh menekankan substansi nilai Islam yang tercermin dalam sikap dan kepemimpinan.
Di tengah perbedaan tersebut, isi buku Islam ala Prabowo pada akhirnya menjadi bagian penting yang perlu dibaca secara menyeluruh sebelum masyarakat memberikan penilaian terhadap tujuan maupun pesan yang hendak disampaikan.

















