Headline.co.id, Jakarta ~ Buku Islam ala Prabowo kembali disorot setelah pendakwah Hilmi Firdausi atau Gus Hilmi mempertanyakan rekam jejak spiritual dasar Presiden Prabowo Subianto melalui akun X pribadinya, Sabtu (5/9/2026). Sorotan muncul terhadap buku berjudul Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam yang membahas nilai-nilai keislaman dalam kehidupan pribadi, perjalanan karier, hingga kepemimpinan Prabowo sebagai Presiden Republik Indonesia. Polemik berkembang karena Gus Hilmi mengaku penasaran dengan kemampuan dasar ibadah Prabowo, sementara Pengasuh Pondok Pesantren Nur Muhammad Surabaya KH Mas Muhammad Maftuh atau Gus Maftuh meminta masyarakat membaca buku tersebut secara utuh sebelum memberikan penilaian.
Buku Islam ala Prabowo kembali disorot setelah Gus Hilmi menyampaikan melalui akun X @Hilmi28 bahwa dirinya ingin membaca buku tersebut karena mengaku belum pernah mendengar Prabowo membaca Al Fatihah maupun mengetahui secara langsung kemampuan Presiden dalam membaca Al-Qur’an dan bacaan salat. Ia bahkan meminta warganet yang memiliki dokumentasi terkait untuk membagikannya.
Di tengah buku Islam ala Prabowo kembali disorot, Gus Maftuh memberikan pandangan berbeda dengan menekankan pentingnya melihat substansi buku, bukan sekadar menafsirkan judul “Islam Ala Prabowo”. Menurut Ketua Umum Forum Komunikasi Kyai Kampung Indonesia (FK3I) tersebut, istilah itu tidak dimaksudkan untuk menghadirkan mazhab atau bentuk baru ajaran Islam, tetapi menggambarkan bagaimana nilai-nilai Islam tercermin dalam kehidupan dan kepemimpinan Prabowo.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Gus Hilmi Pertanyakan Rekam Jejak Ibadah Prabowo
Sorotan Gus Hilmi bermula ketika ia mengunggah foto sampul buku Islam ala Prabowo melalui akun X pribadinya.
Ia mengungkapkan rasa ingin tahu terhadap sisi spiritual Prabowo, terutama terkait praktik dasar dalam ajaran Islam.
“Jadi pingin baca buku ini, karena seumur hidup saya belum pernah mendengar beliau baca Al Fatihah. Saya juga tidak tahu apa beliau bisa membaca Al-Qur’an dan hafal bacaan-bacaan sholat, soalnya itu basic sekali dalam ajaran Islam,” tulis Gus Hilmi, Sabtu (5/9/2026).
Gus Hilmi kemudian meminta pengguna media sosial yang memiliki dokumentasi Prabowo membaca Al Fatihah untuk membagikannya.
Ia membandingkan pengalamannya melihat dokumentasi dua presiden sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo.
“Yang punya videonya boleh share ketika beliau membaca Al Fatihah. Kalau Pak SBY dan Pak Jokowi saya pernah lihat,” katanya.
Pernyataan tersebut membuat pembahasan mengenai buku Islam ala Prabowo tidak hanya menyentuh isi buku, tetapi juga berkembang menjadi diskusi mengenai kehidupan keagamaan pribadi Prabowo.
Gus Maftuh Minta Publik Tidak Menilai Buku dari Judul
Menanggapi polemik yang berkembang, Gus Maftuh meminta masyarakat membaca isi buku secara menyeluruh dan proporsional sebelum membuat kesimpulan.
Menurut dia, penggunaan istilah “Islam Ala Prabowo” tidak berarti adanya upaya menciptakan mazhab, aliran, maupun bentuk Islam yang berbeda dari ajaran yang selama ini dianut umat Muslim Indonesia.
“Jangan memahami buku ini hanya dari tiga kata, ‘Islam Ala Prabowo’, kemudian langsung menyimpulkan seolah-olah ada Islam baru atau mazhab baru. Maksudnya adalah bagaimana nilai-nilai Islam dipahami dan tercermin dalam kehidupan, sikap, serta kepemimpinan Prabowo,” ujar Gus Maftuh, Sabtu (5/9/2026).
Ia menjelaskan, buku tersebut membahas dimensi keislaman Prabowo dari sejumlah sisi, mulai dari kehidupan pribadi, perjalanan karier, hingga masa kepemimpinannya sebagai Presiden RI.
Menurut Gus Maftuh, pembahasan yang disampaikan juga berkaitan dengan bagaimana nilai seperti perdamaian, keadilan, persatuan, kepedulian kepada rakyat, dan kemanusiaan diterapkan dalam kehidupan berbangsa.
“Ini buku yang mencoba melihat sisi keislaman seorang pemimpin. Jadi yang dibicarakan bukan Islam sebagai agama yang baru, tetapi bagaimana nilai Islam seperti perdamaian, keadilan, persatuan, kepedulian kepada rakyat dan kemanusiaan dapat diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.
Buku Islam ala Prabowo Membahas Nilai Islam dalam Kepemimpinan
Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam ditulis oleh Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas.
Buku yang diterbitkan Atmosphere Publishing House tersebut memiliki ketebalan sekitar 346 halaman dan pertama kali dirilis pada April 2025.
Isi buku tidak hanya membahas kehidupan pribadi Prabowo. Sejumlah nilai yang dikaitkan dengan ajaran Islam, antara lain perdamaian, keadilan, spiritualitas, persatuan, hingga perjuangan meningkatkan kesejahteraan rakyat, ikut menjadi bagian pembahasan.
Perjalanan karier Prabowo di lingkungan militer hingga kepemimpinannya sebagai Presiden RI juga ditempatkan dalam perspektif nilai-nilai tersebut.
Buku itu turut memuat pandangan sejumlah tokoh agama, akademisi, politisi, dan tokoh nasional.
Ketua MPR RI Ahmad Muzani, misalnya, menulis prolog yang membahas kepemimpinan Prabowo serta perannya dalam sejumlah isu dunia Islam, termasuk Palestina.
Nama lain yang disebut terlibat dalam rangkaian penyusunan maupun kontribusi terhadap buku tersebut antara lain Prof. Dr. KH Asep Saifuddin Chalim, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, Prof. Dr. KH Noor Ahmad, KH Anwar Iskandar, serta Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar.
Gus Maftuh Ingatkan Bahaya Informasi Terpotong
Gus Maftuh juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mengambil kesimpulan dari potongan informasi, meme, maupun komentar di media sosial.
Ia mempersilakan adanya perbedaan pandangan terhadap buku tersebut, tetapi meminta diskusi tidak berubah menjadi fitnah atau saling menghujat.
“Kalau ada yang berbeda pandangan, silakan. Buku adalah ruang intelektual untuk berdiskusi. Tetapi jangan sampai perbedaan tafsir kemudian berubah menjadi fitnah dan saling menghujat. Mari baca bukunya, pahami isinya, baru memberikan penilaian,” kata Gus Maftuh.
Menurut dia, konteks masyarakat Indonesia yang majemuk juga perlu menjadi perhatian ketika membahas hubungan antara agama dan kepemimpinan.
Islam, katanya, seharusnya menjadi kekuatan moral yang mendorong kedamaian, kemajuan, kerukunan, dan persatuan masyarakat.
“Islam yang kita inginkan adalah Islam yang membuat Indonesia maju, Islam yang rukun, Islam yang menjaga persatuan dan mampu hidup berdampingan dengan rukun, damai dan memegang erat konsesi kebangsaan bersama dengan umat umat beragama lainnya. Itulah wajah Islam Indonesia yang rahmatan lil alamin,” tegasnya.
Nilai Agama Dinilai Tidak Cukup Berhenti pada Simbol
Gus Maftuh menilai perdebatan mengenai buku Islam ala Prabowo seharusnya diarahkan pada pembahasan mengenai bagaimana nilai keagamaan dapat diterapkan dalam kehidupan kebangsaan.
Ia menegaskan agama tidak cukup hanya ditampilkan melalui simbol, melainkan perlu tercermin dalam tindakan dan kebijakan yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat.
“Kalau agama hanya berhenti pada simbol, kita kehilangan substansinya. Islam harus menghadirkan akhlak, keadilan, kepedulian kepada rakyat, persaudaraan dan perdamaian. Kalau nilai-nilai itu bisa diwujudkan dalam kepemimpinan, tentu itu sesuatu yang harus kita apresiasi,” ujarnya.
Gus Maftuh juga berharap polemik mengenai buku tersebut tidak berkembang menjadi instrumen untuk mempertajam polarisasi politik maupun sentimen keagamaan.
Sebaliknya, buku itu dinilai dapat menjadi ruang dialog mengenai hubungan nilai keislaman dengan nasionalisme, demokrasi, kebinekaan, serta cita-cita kemajuan Indonesia.
“Jangan jadikan Islam sebagai alasan untuk saling bermusuhan. Justru Islam mengajarkan kita untuk menjaga persaudaraan, perdamaian, menghormati sesama dan membangun kemaslahatan. Indonesia ini rumah bersama. Umat Islam harus menjadi bagian penting dalam menjaga agar Indonesia tetap maju, rukun, damai dan bersatu,” pungkas Gus Maftuh.
Peluncuran Melibatkan Tokoh MUI dan Baznas
Peluncuran buku Islam ala Prabowo tercatat melibatkan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar bersama Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Prof. Dr. Noor Achmad.
Kehadiran kedua tokoh tersebut menjadi bagian dari momentum peluncuran buku yang mengangkat hubungan antara nilai-nilai Islam dan perjalanan kehidupan serta kepemimpinan Prabowo Subianto.
Buku tersebut juga telah tersedia secara komersial dan disebut dapat ditemukan melalui sejumlah toko buku maupun marketplace.
Perbedaan pandangan yang muncul setelah buku Islam ala Prabowo kembali disorot menunjukkan berkembangnya diskusi publik mengenai cara menilai sisi keagamaan seorang pemimpin. Di satu sisi, Gus Hilmi mempertanyakan praktik dasar ibadah Prabowo yang belum pernah ia saksikan. Di sisi lain, Gus Maftuh meminta masyarakat memisahkan penilaian terhadap substansi buku dari asumsi yang muncul hanya berdasarkan judul ataupun potongan informasi di media sosial.

















