Headline.co.id, Jakarta ~ Kualitas udara Jakarta hari ini, Senin (7/9/2026), berada pada kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif dengan indeks kualitas udara atau AQI 101 pada pukul 06.00 WIB. Kondisi ini menjadi perhatian karena paparan polusi udara secara terus-menerus dapat mengganggu saluran pernapasan hingga memengaruhi mekanisme pertahanan alami paru-paru. Anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan menjadi kelompok yang perlu lebih berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan.
Kualitas udara Jakarta hari ini berdasarkan pemantauan IQAir menunjukkan ozon atau O3 sebagai polutan utama dengan konsentrasi mencapai 137,9 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Selain berada pada kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif pada pagi hari, indeks kualitas udara Jakarta juga diperkirakan meningkat pada sore hingga malam.
Kualitas udara Jakarta hari ini bahkan berpotensi memburuk hingga masuk kategori tidak sehat pada malam hari. Dalam kondisi tersebut, masyarakat terutama kelompok rentan disarankan mengurangi aktivitas luar ruangan sekaligus memperhatikan potensi dampak paparan polusi terhadap sistem pernapasan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Polusi Udara Dapat Mengganggu Mekanisme Pertahanan Pernapasan
Udara yang masuk ke dalam tubuh melewati hidung dan saluran pernapasan sebelum akhirnya mencapai paru-paru.
Di sepanjang saluran tersebut terdapat lendir serta rambut-rambut halus yang menjadi bagian dari mekanisme pertahanan tubuh. Keduanya berfungsi membantu menangkap partikel atau benda asing agar tidak masuk lebih jauh ke dalam sistem pernapasan.
Tubuh juga mempunyai mekanisme alami untuk membersihkan saluran pernapasan ketika terdapat partikel yang seharusnya tidak masuk.
Batuk dan bersin merupakan salah satu bentuk respons tubuh untuk mengeluarkan benda asing dari saluran pernapasan.
Namun, kemampuan tersebut dapat terganggu apabila seseorang terpapar polusi udara dalam jangka panjang.
Dokter spesialis konsultan paru kerja, dr. Hendrastutik Apriningsih, Sp.P (K), M.Kes, menjelaskan bahwa paparan polusi secara terus-menerus tetap dapat menimbulkan gangguan meskipun konsentrasinya tidak selalu tinggi.
“Semua ini apabila kita terpapar dalam jangka panjang, meskipun itu tidak terlalu tinggi konsentrasinya, bisa menimbulkan kerusakan pada rambut getar dan mukosa saluran napas,” jelas dr. Hendras.
Penjelasan tersebut disampaikan dalam program Beauty Health bertema “Bahaya Polusi Udara terhadap Kesehatan Paru-paru” yang tayang di kanal YouTube Tribun Health pada Kamis (17/11/2022).
Risiko Iritasi hingga Penyakit Pernapasan Bisa Meningkat
Kerusakan pada rambut getar dan mukosa saluran napas dapat membuat mekanisme pertahanan alami sistem pernapasan tidak bekerja secara optimal.
Menurut dr. Hendrastutik, kondisi tersebut dapat menyebabkan saluran pernapasan menjadi lebih mudah mengalami iritasi.
Paparan polusi dalam jangka panjang juga disebut dapat meningkatkan risiko sejumlah gangguan pernapasan, termasuk asma, penyakit paru obstruktif kronis, serta bronkitis.
Risiko tersebut membuat kondisi kualitas udara perlu diperhatikan, terutama oleh masyarakat yang harus melakukan aktivitas di luar ruangan dalam waktu lama.
Kelompok yang lebih sensitif terhadap polusi, seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat dengan gangguan saluran pernapasan, perlu memberikan perhatian lebih besar saat indeks kualitas udara meningkat.
AQI Jakarta Diperkirakan Memburuk Sore hingga Malam
Berdasarkan prakiraan per jam IQAir, kualitas udara Jakarta diprediksi mengalami peningkatan indeks sepanjang Senin.
Pada pukul 07.00 WIB, AQI diproyeksikan naik menjadi 106. Angka tersebut kemudian diperkirakan mencapai 109 pada pukul 08.00 hingga 09.00 WIB.
Memasuki pukul 10.00 WIB, AQI diperkirakan sedikit turun menjadi 107.
Namun, peningkatan indeks diproyeksikan kembali terjadi pada siang hingga sore hari.
AQI diperkirakan mencapai 114 pada pukul 14.00 WIB, kemudian meningkat menjadi 128 pada pukul 15.00 WIB dan 145 pada pukul 16.00 WIB.
Kualitas udara diperkirakan semakin memburuk menjelang malam.
Pada pukul 17.00 WIB, AQI Jakarta diproyeksikan mencapai 151 atau masuk kategori tidak sehat. Indeks tersebut diperkirakan meningkat menjadi 158 pada pukul 18.00 WIB dan mencapai 161 pada pukul 19.00 WIB.
Setelah itu, kualitas udara diprediksi mulai membaik secara bertahap dengan AQI 135 pada pukul 21.00 WIB dan 123 pada pukul 22.00 WIB.
Anak-anak dan Lansia Perlu Lebih Waspada
Kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif menunjukkan bahwa kualitas udara mulai berpotensi memberikan dampak lebih besar bagi orang-orang dengan tingkat kerentanan tertentu.
Anak-anak termasuk kelompok yang perlu mendapatkan perhatian karena kondisi sistem pernapasannya dapat lebih sensitif terhadap paparan polusi.
Lansia dan masyarakat yang telah memiliki gangguan pernapasan juga perlu membatasi paparan ketika kualitas udara berada dalam kategori buruk.
Masyarakat dalam kelompok tersebut disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika indeks kualitas udara meningkat.
Jika harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker yang menutup hidung dan mulut dengan baik juga disarankan.
Pemantauan kondisi udara secara berkala diperlukan karena AQI dapat berubah dalam hitungan jam.
Kualitas Udara Belum Bisa Langsung Dikaitkan dengan Abu Anak Krakatau
Kondisi kualitas udara Jakarta yang buruk terjadi di tengah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang disertai sebaran abu vulkanik.
Abu vulkanik terpantau mencapai sejumlah wilayah, termasuk DKI Jakarta dan Jawa Barat.
Meski demikian, kondisi AQI Jakarta tidak dapat secara langsung dikaitkan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Hal itu karena polutan utama yang terdeteksi dalam pemantauan kualitas udara adalah ozon atau O3.
Untuk mengetahui sejauh mana abu vulkanik memengaruhi kualitas udara Jakarta, diperlukan pemantauan terhadap partikulat terutama PM2,5 dan PM10.
Data mengenai arah serta luas sebaran abu vulkanik juga diperlukan untuk memastikan adanya hubungan antara aktivitas erupsi dan perubahan kualitas udara.
Karena itu, masyarakat perlu berhati-hati dalam menyimpulkan penyebab memburuknya kualitas udara tanpa didukung data yang memadai.
Masyarakat Disarankan Memantau Kualitas Udara Secara Berkala
Selain memperhatikan dampaknya terhadap paru-paru, masyarakat juga perlu memantau perkembangan AQI sebelum melakukan aktivitas di ruang terbuka.
Pemantauan menjadi semakin penting pada sore hingga malam hari karena indeks kualitas udara diperkirakan meningkat cukup signifikan.
Masyarakat terutama kelompok rentan disarankan membatasi aktivitas luar ruangan pada saat kualitas udara memburuk dan menggunakan perlindungan yang memadai ketika harus berada di luar.
Informasi mengenai perkembangan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau juga perlu terus dipantau secara terpisah dari data AQI.
Dengan memperhatikan kondisi kualitas udara dan membatasi paparan polusi, risiko iritasi serta gangguan pada saluran pernapasan dapat lebih diantisipasi, terutama bagi masyarakat yang masuk kelompok sensitif.















