Headline.co.id, Jakarta ~ Buku Islam ala Prabowo tuai pro kontra setelah pembahasan mengenai sisi keislaman Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi perhatian publik. Pengasuh Pondok Pesantren Nur Muhammad Surabaya KH Mas Muhammad Maftuh atau Gus Maftuh pada Sabtu (5/9/2026) meminta masyarakat tidak menjadikan perbedaan tafsir terhadap buku tersebut sebagai alasan untuk menyebarkan fitnah maupun saling menghujat. Ia menegaskan buku Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam seharusnya dibaca secara utuh sebelum publik memberikan penilaian terhadap isi maupun maksud di balik judulnya.
Buku Islam ala Prabowo tuai pro kontra setelah muncul beragam tanggapan mengenai narasi keislaman Prabowo. Salah satunya datang dari pendakwah Hilmi Firdausi atau Gus Hilmi yang mempertanyakan praktik ibadah dasar Prabowo, termasuk kemampuan membaca Al Fatihah dan Al-Qur’an.
Di tengah buku Islam ala Prabowo tuai pro kontra, Gus Maftuh mengambil posisi dengan menekankan pentingnya menjaga ruang diskusi tetap proporsional. Ia mempersilakan adanya perbedaan pandangan, tetapi mengingatkan agar kritik tidak berubah menjadi tudingan yang tidak berdasar maupun permusuhan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Gus Maftuh: Baca Bukunya Sebelum Memberi Penilaian
Gus Maftuh menilai perdebatan mengenai buku Islam ala Prabowo seharusnya didasarkan pada substansi yang benar-benar termuat di dalam buku.
Menurut dia, masyarakat tidak seharusnya hanya mengambil kesimpulan dari judul, potongan informasi, meme, maupun komentar di media sosial.
“Kalau ada yang berbeda pandangan, silakan. Buku adalah ruang intelektual untuk berdiskusi. Tetapi jangan sampai perbedaan tafsir kemudian berubah menjadi fitnah dan saling menghujat. Mari baca bukunya, pahami isinya, baru memberikan penilaian,” kata Gus Maftuh.
Pernyataan tersebut menjadi penekanan utama Gus Maftuh dalam menyikapi pro dan kontra yang berkembang.
Ia tidak mempersoalkan kritik ataupun perbedaan penafsiran selama disampaikan dengan dasar yang jelas dan tidak menimbulkan permusuhan.
Judul “Islam Ala Prabowo” Dinilai Bukan Mazhab Baru
Salah satu bagian yang menjadi perhatian publik adalah penggunaan frasa “Islam Ala Prabowo” pada judul buku.
Gus Maftuh menegaskan, istilah tersebut tidak dimaksudkan untuk menciptakan aliran atau mazhab baru dalam Islam.
“Jangan memahami buku ini hanya dari tiga kata, ‘Islam Ala Prabowo’, kemudian langsung menyimpulkan seolah-olah ada Islam baru atau mazhab baru. Maksudnya adalah bagaimana nilai-nilai Islam dipahami dan tercermin dalam kehidupan, sikap, serta kepemimpinan Prabowo,” ujar Gus Maftuh.
Menurut dia, konteks buku adalah melihat sisi keislaman Prabowo melalui kehidupan pribadi, perjalanan karier, dan kepemimpinannya sebagai Presiden Republik Indonesia.
Dengan demikian, pembahasan tidak diarahkan untuk merumuskan ajaran agama baru, melainkan membaca penerapan nilai-nilai Islam dalam perjalanan seorang tokoh.
Nilai Islam dalam Kehidupan dan Kepemimpinan
Gus Maftuh mengatakan isi buku mencoba melihat bagaimana nilai-nilai Islam tercermin dalam sikap seorang pemimpin.
Beberapa nilai yang menjadi pembahasan antara lain perdamaian, keadilan, persatuan, kepedulian terhadap rakyat, serta kemanusiaan.
“Ini buku yang mencoba melihat sisi keislaman seorang pemimpin. Jadi yang dibicarakan bukan Islam sebagai agama yang baru, tetapi bagaimana nilai Islam seperti perdamaian, keadilan, persatuan, kepedulian kepada rakyat dan kemanusiaan dapat diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.
Ia menilai dimensi agama tidak hanya dapat dibicarakan dari sisi simbol, tetapi juga melalui perilaku dan penerapan nilai dalam kehidupan sosial.
“Kalau agama hanya berhenti pada simbol, kita kehilangan substansinya. Islam harus menghadirkan akhlak, keadilan, kepedulian kepada rakyat, persaudaraan dan perdamaian. Kalau nilai-nilai itu bisa diwujudkan dalam kepemimpinan, tentu itu sesuatu yang harus kita apresiasi,” ujarnya.
Gus Hilmi Pertanyakan Ibadah Dasar Prabowo
Pro dan kontra terhadap buku tersebut menguat setelah Gus Hilmi menyampaikan pandangannya melalui akun X @Hilmi28 pada Sabtu (5/9/2026).
Ia mengaku tertarik membaca Islam ala Prabowo karena belum pernah mendengar secara langsung Prabowo membaca Al Fatihah.
“Jadi pingin baca buku ini, karena seumur hidup saya belum pernah mendengar beliau baca Al Fatihah. Saya juga tidak tahu apa beliau bisa membaca Al-Qur’an dan hafal bacaan-bacaan sholat, soalnya itu basic sekali dalam ajaran Islam,” tulis Gus Hilmi.
Ia kemudian meminta warganet yang memiliki dokumentasi Prabowo membaca Al Fatihah untuk membagikannya.
“Yang punya videonya boleh share ketika beliau membaca Al Fatihah. Kalau Pak SBY dan Pak Jokowi saya pernah lihat,” imbuhnya.
Pernyataan Gus Hilmi tersebut memperluas perdebatan dari pembahasan isi buku menjadi pertanyaan mengenai kehidupan keagamaan pribadi Prabowo.
Gus Maftuh Minta Polemik Tak Memicu Polarisasi
Gus Maftuh berharap perbedaan pandangan yang muncul tidak digunakan untuk mempertajam polarisasi politik maupun sentimen keagamaan.
Menurut dia, buku seharusnya menjadi ruang dialog, bukan alat untuk memperlebar perbedaan di masyarakat.
Ia menekankan bahwa nilai Islam dapat berjalan berdampingan dengan nasionalisme, demokrasi, kebinekaan, dan cita-cita kemajuan bangsa.
“Jangan jadikan Islam sebagai alasan untuk saling bermusuhan. Justru Islam mengajarkan kita untuk menjaga persaudaraan, perdamaian, menghormati sesama dan membangun kemaslahatan. Indonesia ini rumah bersama. Umat Islam harus menjadi bagian penting dalam menjaga agar Indonesia tetap maju, rukun, damai dan bersatu,” ujar Gus Maftuh.
Pandangan tersebut juga dikaitkannya dengan karakter Indonesia sebagai negara dengan masyarakat yang majemuk.
Menurut Gus Maftuh, kehidupan keagamaan seharusnya berkontribusi terhadap persatuan dan kerukunan.
Islam Indonesia Diharapkan Menjadi Kekuatan Moral
Gus Maftuh mengatakan Islam di Indonesia perlu hadir sebagai kekuatan moral yang mendorong kemajuan dan kedamaian.
Ia menilai kehidupan umat beragama harus dibangun melalui prinsip saling menghormati serta menjaga konsensus kebangsaan.
“Islam yang kita inginkan adalah Islam yang membuat Indonesia maju, Islam yang rukun, Islam yang menjaga persatuan dan mampu hidup berdampingan dengan rukun, damai dan memegang erat konsesi kebangsaan bersama dengan umat umat beragama lainnya. Itulah wajah Islam Indonesia yang rahmatan lil alamin,” tegasnya.
Karena itu, ia meminta masyarakat tidak membiarkan perdebatan mengenai sebuah buku berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
Perbedaan pendapat, menurutnya, tetap dapat disampaikan melalui ruang intelektual yang sehat.
Apa Isi Buku Islam ala Prabowo?
Buku Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam ditulis oleh Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas.
Buku tersebut diterbitkan Atmosphere Publishing House dan pertama kali dirilis pada April 2025 dengan ketebalan sekitar 346 halaman.
Pembahasannya mencakup kehidupan pribadi Prabowo, perjalanan karier militernya, hingga kepemimpinannya sebagai Presiden RI.
Nilai seperti spiritualitas, perdamaian, keadilan, persatuan, kemanusiaan, dan perjuangan untuk kesejahteraan rakyat menjadi bagian dari pembahasan.
Buku tersebut juga memuat pandangan sejumlah tokoh agama, akademisi, politisi, dan tokoh nasional.
Ketua MPR RI Ahmad Muzani menulis prolog mengenai kepemimpinan Prabowo serta perannya dalam sejumlah isu dunia Islam, termasuk Palestina.
Selain Ahmad Muzani, nama Prof. Dr. KH Asep Saifuddin Chalim, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, Prof. Dr. KH Noor Ahmad, KH Anwar Iskandar, serta Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar juga tercantum dalam rangkaian penyusunan maupun kontribusi buku tersebut.
Peluncuran Libatkan Tokoh MUI dan Baznas
Peluncuran buku Islam ala Prabowo dilakukan dengan melibatkan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH Anwar Iskandar dan Ketua Badan Amil Zakat Nasional Prof. Dr. Noor Achmad.
Keterlibatan kedua tokoh tersebut menjadi bagian dari momentum peluncuran buku yang membahas sisi keagamaan Prabowo Subianto.
Buku itu telah tersedia secara komersial di sejumlah toko buku maupun marketplace.
Di tengah pro dan kontra yang muncul, Gus Maftuh tetap menekankan bahwa substansi buku menjadi bagian yang harus dipahami sebelum masyarakat menentukan sikap.
Menurut dia, diskusi mengenai buku tetap terbuka, termasuk bagi mereka yang memiliki pandangan berbeda.
Namun, perbedaan tersebut tidak semestinya berkembang menjadi fitnah, saling menghujat, ataupun konflik yang memperuncing polarisasi politik dan keagamaan.
Polemik buku Islam ala Prabowo pada akhirnya bukan hanya menjadi perdebatan mengenai judul maupun sosok Prabowo, tetapi juga menguji bagaimana ruang publik menyikapi perbedaan pandangan mengenai agama dan kepemimpinan secara kritis tanpa meninggalkan prinsip dialog dan saling menghormati.

















