Headline.co.id, Jakarta ~ Rupiah Indonesia hari ini ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (1/9/2026), berada di level Rp17.744 per dolar AS. Mata uang Garuda turun 22 poin atau 0,12 persen dari posisi penutupan sebelumnya sebesar Rp17.722 per dolar AS. Pelemahan terjadi akibat kombinasi tekanan global berupa kenaikan harga minyak dan penguatan dolar AS, serta faktor domestik berupa inflasi Indonesia yang lebih tinggi dari perkiraan.
Pergerakan rupiah Indonesia hari ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap nilai tukar tidak hanya berasal dari satu faktor. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran mendorong harga minyak dunia naik hingga sekitar 91 dolar AS per barel, sementara di dalam negeri pelaku pasar mencermati perkembangan inflasi yang dinilai dapat memengaruhi kebijakan Bank Indonesia.
Tekanan terhadap rupiah Indonesia hari ini juga terjadi ketika sejumlah mata uang Asia dan mata uang utama negara maju melemah terhadap dolar AS. Meski demikian, data perdagangan Indonesia yang lebih kuat dari perkiraan membantu menahan pelemahan rupiah agar tidak berlangsung lebih dalam.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Faktor Global Tekan Rupiah
Salah satu tekanan utama terhadap rupiah berasal dari kenaikan harga minyak dunia.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan harga minyak meningkat hingga sekitar 91 dolar AS per barel seiring eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
“Rupiah pada perdagangan hari ini melemah dipengaruhi oleh global kenaikan harga minyak seiring meningkatnya eskalasi konflik AS dan Iran,” ujar Rully.
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian pelaku pasar karena meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global.
Kondisi tersebut meningkatkan ketidakpastian pasar dan menjadi salah satu faktor eksternal yang memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Penguatan Dolar AS Tambah Tekanan
Selain harga minyak, penguatan dolar AS turut menjadi faktor yang membebani rupiah.
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan dolar AS menguat setelah muncul pernyataan hawkish dari Gubernur Federal Reserve Kevin Warsh.
Menurut Lukman, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak ikut memperbesar tekanan terhadap pasar.
“Eskalasi di Timur Tengah dan harga minyak yang kembali naik ikut membebani,” ujar Lukman, Senin (31/8).
Penguatan dolar AS terlihat tidak hanya menekan rupiah, tetapi juga sejumlah mata uang di kawasan Asia dan negara maju.
Inflasi Jadi Faktor Domestik
Dari dalam negeri, pasar mencermati data inflasi Indonesia yang lebih tinggi dari perkiraan.
Lukman Leong menilai kondisi tersebut memberikan tekanan kepada Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga.
“Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS setelah data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan memberikan tekanan pada BI untuk menaikkan suku bunga. Namun, data perdagangan yang lebih kuat dari perkiraan menahan pelemahan yang lebih besar,” ujar Lukman, Selasa (1/9).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tekanan domestik terhadap rupiah terutama berasal dari perkembangan inflasi.
Di sisi lain, data perdagangan yang lebih kuat dari perkiraan menjadi faktor penyeimbang sehingga pelemahan rupiah dapat tertahan.
Rupiah Melemah Dua Hari Perdagangan
Tekanan terhadap rupiah telah terlihat sejak perdagangan Senin (31/8/2026).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp17.722 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 0,15 persen dibandingkan akhir pekan sebelumnya yang berada di Rp17.693 per dolar AS.
Pada saat yang sama, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor Bank Indonesia terkoreksi 0,24 persen menjadi Rp17.746 per dolar AS.
Pada perdagangan Selasa, rupiah kembali turun 22 poin atau 0,12 persen menjadi Rp17.744 per dolar AS.
Pergerakan tersebut menunjukkan rupiah mengalami tekanan dalam dua hari perdagangan berturut-turut.
Mata Uang Asia Ikut Tertekan
Pelemahan rupiah berlangsung di tengah pergerakan mata uang Asia yang bervariasi terhadap dolar AS.
Won Korea Selatan tercatat melemah 0,40 persen, ringgit Malaysia terdepresiasi 0,27 persen, dan dolar Singapura turun 0,19 persen.
Yen Jepang melemah 0,14 persen, yuan China turun 0,06 persen, sedangkan dolar Hong Kong terkoreksi 0,02 persen.
Sementara itu, peso Filipina bergerak datar terhadap dolar AS.
Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan dolar AS juga dialami sejumlah mata uang regional.
Mata Uang Negara Maju Kompak Melemah
Tekanan terhadap mata uang tidak hanya terjadi di Asia.
Seluruh mata uang utama negara maju yang disebut dalam data perdagangan juga tercatat melemah terhadap dolar AS.
Dolar Australia terkoreksi 0,29 persen, franc Swiss turun 0,22 persen, dan euro Eropa melemah 0,20 persen.
Dolar Kanada turun 0,13 persen, sedangkan poundsterling Inggris melemah 0,08 persen.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa penguatan dolar AS menjadi sentimen yang memengaruhi pergerakan mata uang secara lebih luas.
Kombinasi Sentimen Global dan Domestik Jadi Perhatian
Pergerakan rupiah pada perdagangan Selasa menunjukkan adanya tekanan yang datang secara bersamaan dari luar dan dalam negeri.
Dari sisi global, pasar mencermati eskalasi konflik AS-Iran, kenaikan harga minyak hingga sekitar 91 dolar AS per barel, serta penguatan dolar AS setelah muncul pernyataan hawkish dari Federal Reserve.
Dari sisi domestik, inflasi Indonesia yang lebih tinggi dari perkiraan menjadi perhatian karena dinilai memberikan tekanan terhadap Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga.
Namun, data perdagangan yang lebih kuat dari perkiraan membantu menahan tekanan sehingga rupiah ditutup melemah terbatas sebesar 0,12 persen pada level Rp17.744 per dolar AS.
Kombinasi faktor global dan domestik tersebut menjadi latar utama pergerakan rupiah pada perdagangan Selasa, ketika mata uang Garuda kembali berada dalam tekanan terhadap dolar AS.





















