Headline.co.id, Jakarta ~ BBRI menjadi salah satu saham perbankan yang paling banyak dikoleksi investor asing dalam sebulan terakhir. Hingga Senin (24/8/2026), investor asing tercatat membukukan pembelian bersih atau net buy saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp1,53 triliun, seiring menguatnya kembali minat terhadap saham berkapitalisasi besar dan likuid di Bursa Efek Indonesia.
Akumulasi terhadap BBRI juga terlihat dalam perdagangan 18-21 Agustus 2026. Pada periode tersebut, BBRI mencatat net buy asing Rp745,3 miliar di pasar reguler dan menjadi saham dengan pembelian bersih asing terbesar, mengungguli Bank Central Asia (BBCA), Amman Mineral Internasional (AMMN), hingga Aneka Tambang (ANTM).
Penguatan minat asing terhadap BBRI berlangsung ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menembus level 6.500. Pada Jumat (21/8/2026), saham BBRI ditutup naik 2,87 persen menjadi Rp3.230 per saham dan memberikan kontribusi 14,01 poin terhadap penguatan indeks.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
BBRI Jadi Pilihan Utama Dana Asing
Besarnya net buy pada BBRI memperlihatkan adanya perbedaan sikap investor asing terhadap saham bank-bank milik negara.
Dalam satu bulan hingga 24 Agustus 2026, BBRI membukukan net buy asing Rp1,53 triliun. Pada periode yang sama, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) hanya mencatat pembelian bersih Rp180,07 miliar.
Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) justru mengalami tekanan jual dengan net sell asing sebesar Rp1,53 triliun.
Data tersebut menunjukkan investor asing tidak membeli seluruh saham perbankan secara merata. Mereka tetap melakukan seleksi terhadap emiten yang dinilai sesuai dengan strategi dan kondisi pasar saat ini.
Kecenderungan itu semakin terlihat dari perdagangan 18-21 Agustus 2026. BBRI mencatat net buy Rp745,3 miliar, sedangkan BBNI berada jauh di bawahnya dengan Rp38,6 miliar.
Mengapa Investor Asing Membeli Saham BBRI?
Berdasarkan bahan Bareksa, terdapat sejumlah alasan teknis yang membuat saham perbankan besar seperti BBRI cenderung menjadi tujuan awal dana asing ketika pasar mulai mengalami rebound.
Faktor pertama adalah likuiditas.
Investor global yang membawa dana dalam jumlah besar membutuhkan saham dengan kapitalisasi dan volume transaksi tinggi. Kondisi tersebut memungkinkan investor melakukan pembelian maupun penjualan dalam jumlah besar tanpa terlalu banyak memengaruhi harga pasar.
BBRI termasuk dalam kelompok saham perbankan dengan karakteristik tersebut bersama sejumlah saham besar lainnya seperti BMRI dan BBCA.
“Dana asing yang keluar duluan saat sentimen memburuk, biasanya juga yang masuk duluan saat sentimen membaik,” demikian disebutkan dalam bahan Bareksa.
Menurut materi tersebut, ketika kondisi pasar mulai pulih, investor global biasanya lebih dahulu masuk ke saham-saham besar.
“Bagi investor global, pilihan pertama cenderung masuk ke saham-saham besar dan likuid, bukan saham lapis kedua atau ketiga,” tulis Bareksa.
Valuasi Setelah Koreksi Ikut Jadi Pertimbangan
Faktor kedua berkaitan dengan valuasi saham.
Setelah pasar mengalami koreksi tajam pada awal tahun, harga sejumlah saham berkapitalisasi besar sempat mengalami tekanan. Kondisi tersebut membuat valuasi saham kembali menjadi perhatian ketika pasar mulai pulih.
Dalam situasi rebound, harga saham yang sebelumnya terkoreksi dapat kembali dinilai menarik dibandingkan ketika berada pada posisi puncaknya.
Fenomena tersebut menjadi salah satu alasan mengapa saham berkapitalisasi besar seperti BBRI kembali menjadi sasaran investor asing ketika sentimen pasar membaik.
Namun, bahan yang diberikan tidak menyebutkan secara spesifik rasio valuasi BBRI maupun target harga saham perusahaan tersebut. Karena itu, besarnya net buy asing tidak dapat secara otomatis diartikan sebagai jaminan bahwa harga BBRI akan terus meningkat.
Ekspektasi Suku Bunga Dorong Minat ke Saham Bank
Faktor berikutnya adalah perubahan ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga.
Dalam bahan Bareksa dijelaskan, saham perbankan dapat memperoleh manfaat ketika ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter menguat.
Dampaknya dapat muncul melalui dua jalur. Pertama, biaya dana berpotensi menjadi lebih rendah. Kedua, permintaan kredit berpotensi membaik ketika aktivitas ekonomi kembali meningkat.
Kombinasi faktor tersebut dapat membuat sektor perbankan kembali mendapat perhatian investor ketika pasar memperkirakan kondisi moneter menjadi lebih longgar.
Meski demikian, arah suku bunga tetap menjadi salah satu sumber ketidakpastian karena keputusan kebijakan moneter dipengaruhi perkembangan inflasi, kondisi ekonomi, dan faktor global.
BBRI Pimpin Daftar Net Buy Asing
Berdasarkan data perdagangan yang dihimpun dari Stockbit dalam bahan artikel, BBRI menempati posisi pertama daftar saham dengan net buy asing terbesar di pasar reguler periode 18-21 Agustus 2026.
Berikut daftar lengkapnya:
- Bank Rakyat Indonesia (BBRI) — Rp745,3 miliar
- Bank Central Asia (BBCA) — Rp409,1 miliar
- Amman Mineral Internasional (AMMN) — Rp329,1 miliar
- Aneka Tambang (ANTM) — Rp251,2 miliar
- J Resources Asia Pasifik (PSAB) — Rp133,6 miliar
- Timah (TINS) — Rp125,1 miliar
- Bumi Resources Minerals (BRMS) — Rp88,6 miliar
- Barito Pacific (BRPT) — Rp40,1 miliar
- Bank Negara Indonesia (BBNI) — Rp38,6 miliar
- Vale Indonesia (INCO) — Rp37,3 miliar
Data tersebut menunjukkan dana asing tidak hanya masuk ke sektor perbankan, tetapi juga ke saham pertambangan dan komoditas.
AMMN, ANTM, PSAB, TINS, BRMS, dan INCO menjadi sejumlah saham komoditas yang masuk jajaran sepuluh besar pembelian bersih asing.
Asing Masuk Rp2,23 Triliun dalam Empat Hari Perdagangan
Akumulasi pada BBRI berlangsung di tengah derasnya arus dana asing menuju pasar saham Indonesia.
Sepanjang perdagangan 18-21 Agustus 2026, investor asing membukukan net buy sekitar Rp2,23 triliun di seluruh pasar.
Jumlah tersebut terdiri dari pembelian bersih Rp548,58 miliar di pasar reguler dan Rp1,68 triliun di pasar negosiasi dan tunai.
Masuknya dana asing beriringan dengan penguatan IHSG yang ditutup pada level 6.525,69 pada Jumat (21/8/2026), naik 0,37 persen dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya.
BBRI menjadi salah satu penopang utama indeks pada perdagangan tersebut setelah harga sahamnya menguat 2,87 persen menjadi Rp3.230.
Kontribusi BBRI terhadap IHSG tercatat sebesar 14,01 poin.
Pola Serupa Sudah Terlihat Sejak Juli
Kembalinya dana asing ke saham-saham besar sebenarnya sudah terlihat sejak Juli 2026.
IHSG pada Juli mencatat kenaikan bulanan sekitar 10 persen dan disebut menjadi penguatan bulanan terbaik sejak September 2010.
Pada periode tersebut, investor asing mencatat pembelian bersih sekitar Rp1,3 triliun pada saham BBCA dan sekitar Rp400 miliar di saham PT Timah Tbk (TINS).
Pola tersebut memperlihatkan kecenderungan dana asing masuk lebih dahulu ke saham yang memiliki kapitalisasi besar serta tingkat likuiditas tinggi saat pasar mulai pulih.
Pada Agustus, BBRI kemudian muncul sebagai salah satu saham yang paling banyak mendapat aliran dana asing.
BBRI Juga Masuk Portofolio Reksa Dana Campuran
Posisi BBRI sebagai salah satu saham yang sedang mendapat perhatian investor asing juga tercermin dalam portofolio Sucorinvest Anak Pintar atau RDSAP.
Berdasarkan Fund Fact Sheet per akhir Juli 2026 yang disebutkan dalam bahan, RDSAP memiliki sekitar 73,71 persen alokasi portofolio pada instrumen saham.
BBRI memiliki bobot sekitar 7,31 persen dalam portofolio tersebut. Selain BBRI, RDSAP juga memiliki Bank Mandiri sebesar 9,05 persen dan Timah sebesar 8,31 persen.
Sekitar 22,50 persen portofolio ditempatkan pada obligasi korporasi, termasuk obligasi yang diterbitkan Indah Kiat Pulp & Paper dan Provident Investasi Bersama.
Menurut data Bareksa dalam bahan artikel, RDSAP mencatat return 21,92 persen dalam satu tahun hingga 12 Agustus 2026.
Dana kelolaannya tercatat sebesar Rp391,76 miliar per Juli 2026 dengan PT Bank HSBC Indonesia sebagai bank kustodian.
Net Buy Asing Bukan Jaminan Harga Terus Naik
Meski net buy asing pada BBRI mencapai Rp1,53 triliun dalam sebulan, arus dana asing tetap dapat berubah mengikuti kondisi pasar.
Bahan artikel menyebut sejumlah sentimen eksternal masih menjadi perhatian investor, mulai dari eskalasi konflik Amerika Serikat-Iran, pergerakan yield US Treasury, hingga risalah FOMC yang menunjukkan adanya perdebatan terkait arah suku bunga Federal Reserve.
Dari dalam negeri, investor juga menunggu data Neraca Pembayaran Indonesia dan transaksi berjalan kuartal II-2026 dari Bank Indonesia.
Data tersebut dinilai penting untuk melihat apakah arus modal asing ke pasar saham domestik dapat bertahan dalam beberapa pekan berikutnya.
Karena itu, net buy asing yang besar pada BBRI lebih tepat dibaca sebagai gambaran kuatnya minat investor pada periode tertentu, bukan sebagai kepastian mengenai pergerakan harga di masa mendatang.
Dengan pembelian bersih asing Rp1,53 triliun dalam sebulan dan Rp745,3 miliar hanya dalam perdagangan 18-21 Agustus 2026, BBRI menjadi salah satu saham yang paling menonjol dalam arus masuk dana asing. Likuiditas besar, posisi sebagai saham berkapitalisasi besar, valuasi setelah koreksi, serta ekspektasi terhadap arah suku bunga menjadi sejumlah faktor yang dapat menjelaskan mengapa saham BRI kembali menjadi sasaran investor global.

















