Headline.co.id, Medan ~ 14 Agustus 2026 – Muhammad Risky Pratama, seorang anak berusia 12 tahun dari Labuhan Deli, Medan, kini kembali merasakan bangku sekolah setelah sebelumnya harus mengorbankan pendidikannya demi membantu keluarganya. Sejak usia 9 tahun, Risky terbiasa mengayuh sepeda keliling kampung untuk menjual ikan, demi memenuhi kebutuhan hidup nenek dan adiknya.
Risky, yang dikenal sebagai anak pendiam, memiliki cita-cita menjadi tentara. Namun, keadaan memaksanya untuk lebih banyak menghabiskan waktu di jalan, menjual sekitar 30 kilogram ikan di sekitar Bagan Deli. Jauh dari orang tua, Risky tinggal bersama nenek dan adiknya, dan memilih untuk tidak bersekolah agar bisa membantu keluarganya.
Kesempatan untuk kembali bersekolah datang ketika Nanda, seorang Petugas Penjangkau Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Medan, mengunjungi rumahnya. Nanda mengajak Risky untuk bergabung dengan Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Medan. Awalnya, Risky merasa ragu dan takut berbaur dengan orang-orang baru. Namun, setelah diyakinkan oleh Nanda bahwa sekolah tersebut nyaman dan akan memberinya banyak teman baru, Risky akhirnya setuju untuk kembali bersekolah.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Di Sekolah Rakyat, Risky mendapatkan pendidikan gratis dengan semua biaya ditanggung oleh negara. Lingkungan sekolah yang mendukung dan fasilitas pendidikan yang memadai membuat Risky merasa nyaman dan mendapatkan banyak teman. Kini, Risky kembali menikmati proses belajar dan tumbuh bersama teman-temannya. Program Sekolah Rakyat ini merupakan salah satu inisiatif yang disebut oleh Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Kenegaraan di Gedung DPR/MPR.
Risky adalah salah satu penerima manfaat dari program ini, yang memberinya kesempatan untuk belajar, tumbuh, dan menata kembali cita-citanya menjadi tentara. Sekolah Rakyat bukan hanya tempat belajar bagi Risky, tetapi juga jalan untuk mewujudkan impian yang selama ini ia simpan.





















