Headline.co.id, Beberapa Waktu Lalu ~ masyarakat dikejutkan oleh insiden ledakan bom rakitan di MAN 3 Kota Padang. Peristiwa ini mengingatkan kembali pada kejadian serupa di SMAN 72 Jakarta. Setelah dilakukan pengamanan oleh aparat, terungkap bahwa pelaku utama adalah seorang siswa madrasah yang diduga merakit tiga bom rakitan. Penyelidikan lebih lanjut mengungkapkan bahwa pelaku memiliki sejumlah motif, termasuk pengalaman perundungan ekstrem yang dialaminya. Ia terinspirasi oleh kejadian di SMAN 72 Jakarta, di mana bom dianggap sebagai solusi untuk mengatasi keputusasaan akibat perundungan. Pelaku juga diketahui tergabung dalam komunitas siber global bernama True Crime Community.
Peristiwa ini memicu kekhawatiran publik mengenai fenomena “gunung es” dalam institusi pendidikan dan keluarga. Dr. Andreas Budi Widyanta, Sosiolog dan Ketua Sosial Research Center UGM (SOREC), menyoroti bahwa setiap anak adalah hasil konstruksi sosial di sekitarnya. Kurangnya kasih sayang dan perhatian dari lingkungan dapat menimbulkan luka batin yang mendalam. Ketika perundungan terjadi, kondisi psikologis anak semakin tertekan. “Situasi itu tentu membuat anak memendam rasa amarah yang tidak semua orang bisa ketahui,” ujarnya pada Senin (27/7).
Dr. Andreas juga menyoroti peran teknologi dalam insiden ini. Menurutnya, Tripusat pendidikan yang terdiri dari keluarga, sekolah, dan masyarakat semakin tergerus oleh kemajuan teknologi. Akses mudah ke media sosial memungkinkan anak-anak terpapar konten yang tidak pantas, termasuk kekerasan. “Informasi yang tidak sehat untuk tumbuh kembang anak membuat mereka menjadi alat yang mengabsorpsi, dan bisa jadi menginspirasi mereka untuk mengikuti jejak kekerasan yang ditinggalkan oleh media sosial,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa anak-anak memiliki kemampuan mimesis, yaitu meniru atau merepresentasikan sesuatu, yang dalam konteks ini adalah konten media sosial yang sulit dikontrol. Komdigi, menurutnya, belum mampu menyortir konten berbahaya di media sosial, sehingga banyak konsep kekerasan yang ditiru secara ekstrem oleh anak-anak. “Kemampuan mimesis yang salah tersebut adalah bentuk kegagalan bagi konstruksi pendidikan dari keluarga, sekolah, dan masyarakat,” tambahnya. Dr. Andreas menekankan pentingnya peran semua pihak dalam membangun lingkungan yang lebih sehat bagi perkembangan anak.
















