Headline.co.id, Jogja ~ Tim mahasiswa dari Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil meraih prestasi gemilang di ajang internasional dengan memenangkan medali perunggu dalam Kompetisi Penyelesaian Sengketa Konsensual (Consensual Dispute Resolution Competition – CDRC) 2026. Kompetisi ini diselenggarakan oleh International Bar Association (IBA) dan Vienna International Arbitral Centre (VIAC) pada 2 hingga 7 Juli di Wina, Austria. Ajang ini diikuti oleh 390 peserta dari 63 tim yang berasal dari 25 negara, menjadikannya salah satu kompetisi Moot Alternative Dispute Resolution (ADR) paling bergengsi di dunia.
Delegasi dari Fakultas Hukum UGM terdiri dari lima mahasiswa, yaitu Cindy Irthania, Rifada Khalida Chaerunie, Krishna Rajendra Gunawan, Nindita Putri Nirwasita, dan Viansya Allegra Monisyaf. Mereka didukung oleh dua manajer, Indira Niza Harllyn dan Nuur Raudhah Tahliyatusyifa. Krishna Rajendra Gunawan menyatakan kebanggaannya atas pencapaian ini, menekankan bahwa ini adalah medali pertama dan pencapaian tertinggi yang diraih Indonesia dalam sejarah keikutsertaan di IBA-VIAC CDRC Moot. “Kami merasa sangat bangga bisa membawa pulang medali ini dan mengharumkan nama Universitas Gadjah Mada serta Indonesia di kancah internasional,” ujarnya pada Senin, 27 Juli.
Kompetisi IBA-VIAC CDRC Moot dikenal sebagai salah satu kompetisi mediasi internasional paling prestisius, yang mengadaptasi kasus dari Willem C Vis International Commercial Arbitration Moot. Berbeda dengan Vis Moot yang berfokus pada arbitrase, CDRC Moot menekankan penyelesaian sengketa melalui mediasi dengan mengutamakan kepentingan para pihak, komunikasi efektif, dan penyelesaian kolaboratif. Tahun ini, kasus yang diangkat berpusat pada sengketa kontrak penjualan tanaman anggrek vanila langka yang gagal terlaksana akibat perubahan regulasi internasional di bawah Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES).
Persiapan tim UGM dimulai sejak Desember 2025, melalui proses yang panjang dan intensif. Selama lebih dari tujuh bulan, para delegasi secara rutin melakukan pembahasan kasus, latihan simulasi setiap pekan, serta evaluasi strategi mediasi. Rajendra menambahkan bahwa pengalaman bersaing dengan universitas-universitas terkemuka dunia seperti University of New South Wales dan National University of Singapore merupakan kehormatan tersendiri. “Berdiri di panggung yang sama dengan universitas-universitas terbaik dunia adalah pengalaman yang sangat berharga,” ungkapnya.



















