Headline.co.id, Medan ~ Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) telah menyelesaikan penyelidikan terkait kemunculan titik api di rumah Mutfiana, Seyegan, Yogyakarta. Setelah melakukan observasi dan pengambilan sampel terakhir pada Jumat (12/6), tim yang terdiri dari 18 peneliti lintas disiplin menyimpulkan bahwa titik api tersebut disebabkan oleh residu kebakaran yang dipicu oleh gas hidrogen dari limbah pemotongan ayam. Kesimpulan ini disampaikan dalam konferensi pers di Gedung Engineering Research and Innovation Center (ERIC) pada Minggu (13/6).
Dalam konferensi pers tersebut, Prof. Ir. Alva Edy Tontowi, ketua tim, menjelaskan bahwa timnya berfokus pada identifikasi fenomena alam yang mungkin menjadi penyebab munculnya api. Mereka melakukan pengukuran medan elektromagnetik, pemetaan bawah tanah dengan teknologi Georadar dan Geolistrik, serta pengukuran kandungan gas menggunakan portable-gas detector. “Kami mendeteksi adanya gas hidrogen pada titik-titik api, yang diduga berasosiasi dengan gas Pyrophoric dari limbah potongan ayam,” ujar Alva.
Untuk memastikan dugaan tersebut, tim memeriksa residu kebakaran di permukaan keramik, kayu, dan tripleks menggunakan cahaya inframerah (FITR). Pengambilan sampel terakhir menunjukkan adanya kandungan PVC (Polivinil Klorida) yang tidak umum ditemukan di permukaan tersebut. “Saat PVC terbakar, akan muncul gas Hidrogen Klorida yang terdeteksi sebagai gas hidrogen,” jelas Alva.
Sejak observasi pertama pada 30 Mei 2026, analisis spasial dengan drone dan sensor inframerah tidak menemukan anomali termal atau retakan yang mengandung gas alam. Pengukuran medan listrik dan magnetik juga menunjukkan level normal. Dr. Sarju Winardi, anggota tim, menambahkan bahwa tidak ada bukti kuat yang menunjukkan api muncul secara alami atau menyala sendiri akibat Spontaneous Ignition. Dengan temuan ini, tim UGM menutup penyelidikan dan menyerahkan tindak lanjut kepada BPBD Sleman.



















