Headline.co.id, Jakarta ~ Jakarta. Hepatitis, yang disebabkan oleh virus, sering kali disebut sebagai pembunuh diam-diam atau “silent killer” karena gejalanya yang sangat ringan atau bahkan tidak muncul sama sekali. Banyak orang baru menyadari bahwa mereka terinfeksi setelah beberapa bulan hingga bertahun-tahun. Menurut National Library of Medicine AS, Selasa (28/7/26), ketika hepatitis terdiagnosis, kondisi hati biasanya sudah mengalami kerusakan yang cukup parah.
Hepatitis adalah istilah yang merujuk pada peradangan hati yang bisa disebabkan oleh virus, alkohol, zat berbahaya, racun, hingga penyakit tertentu. Dari berbagai jenis hepatitis, yang paling umum adalah hepatitis A, B, dan C. Hepatitis A sangat menular melalui makanan, minuman, dan kontaminasi tinja, namun biasanya dapat sembuh dalam dua bulan dan jarang menimbulkan komplikasi. Hepatitis B dapat menular melalui hubungan seksual, berbagi jarum suntik, dan kontak langsung dengan darah penderita. Meskipun berisiko menyebabkan kerusakan hati jangka panjang, sebagian besar penderitanya bisa pulih dalam enam bulan. Sementara itu, hepatitis C merupakan infeksi jangka panjang yang sering tidak bergejala dan dapat memicu jaringan parut atau sirosis pada hati. Berbeda dengan hepatitis A dan B, hepatitis C hingga saat ini belum memiliki vaksin.
Hepatitis dibagi menjadi dua kategori, yaitu akut dan kronis. Hepatitis akut berlangsung kurang dari enam bulan, sedangkan jika lebih dari itu maka dikategorikan sebagai kronis. Masalahnya, sebagian besar penderita hepatitis kronis tidak menyadarinya karena tidak merasakan gejala. Tanpa disadari, fungsi hati terus menurun selama bertahun-tahun. Seiring waktu, kerusakan ini akan memicu fibrosis dan berlanjut menjadi sirosis, di mana struktur hati berubah sehingga fungsi utamanya terganggu. Tanda-tanda mulai terlihat ketika kerusakan sudah lanjut.
Penderita bisa mengalami pengecilan otot karena nafsu makan menurun dan hati tidak mampu memproduksi protein pembentuk otot. Perut dan pergelangan kaki juga bisa membengkak karena tubuh kesulitan mengatur natrium dan membuang cairan serta racun. Komplikasi lain yang mungkin muncul adalah pendarahan pada kerongkongan atau lambung, pembengkakan perut, hingga kesulitan berpikir dan mengambil keputusan.
Untuk memastikan diagnosis, dokter biasanya melakukan pemeriksaan fisik dan tes darah guna mendeteksi antibodi. Pada kasus hepatitis B atau C, tes lanjutan diperlukan untuk melihat perkembangan penyakit dari akut ke kronis. Biopsi hati juga bisa dilakukan dengan mengambil sedikit jaringan hati untuk dianalisis di laboratorium. Karena gejalanya yang samar, penting untuk lebih peduli terhadap kesehatan dan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan. Deteksi sejak dini dapat mencegah kerusakan hati yang lebih serius di kemudian hari.




















