Headline.co.id, Pontianak ~ Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Pemprov Kalbar) berkomitmen memperkuat sinergi lintas sektor guna mempercepat penurunan stunting dan meningkatkan kualitas keluarga sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Pembangunan generasi unggul harus dimulai dari keluarga yang sehat, berkualitas, dan sejahtera.
Hal ini ditegaskan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat, Harisson, saat membuka Rapat Koordinasi dan Reviu Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) serta Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Provinsi Kalimantan Barat Semester I Tahun 2026 di Aula Kencana Kantor Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Barat, Senin (27/7/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Harisson juga mengukuhkan Duta Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) sebagai bagian dari upaya memperkuat kolaborasi dalam percepatan penurunan stunting di Kalimantan Barat. Harisson menyatakan bahwa rapat koordinasi ini menjadi momentum penting untuk mengevaluasi pelaksanaan berbagai program pembangunan keluarga sekaligus menyusun langkah strategis dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui percepatan penanganan stunting.
“Fokus utama kita tentu bagaimana menyiapkan generasi emas tahun 2045 melalui keluarga yang sehat dan berkualitas,” ujarnya. Menurut Harisson, persoalan stunting tidak hanya berkaitan dengan aspek kesehatan, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
“Kalau menurut saya, penyebab paling mendasar stunting adalah kemiskinan. Selain itu, masih ada keterbatasan pengetahuan ibu dan keluarga mengenai pentingnya pemenuhan gizi, mulai dari remaja putri, ibu hamil, ibu menyusui hingga balita,” tuturnya. Ia menegaskan bahwa pemenuhan gizi sejak dini merupakan investasi besar bagi masa depan bangsa.
“Anak-anak kita harus tumbuh sehat, cerdas, dan kuat. Itu hanya bisa dicapai apabila kebutuhan gizinya terpenuhi sejak sebelum lahir hingga usia balita. Karena itu, edukasi kepada keluarga menjadi sangat penting,” tegasnya. Harisson juga menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat terus berupaya menurunkan angka kemiskinan sebagai salah satu langkah mendasar dalam menekan prevalensi stunting.
“Syukur alhamdulillah angka kemiskinan di Kalbar sudah turun menjadi sekitar 6,6 persen. Ini menunjukkan berbagai program pengentasan kemiskinan mulai memberikan hasil. Namun pekerjaan kita belum selesai karena persoalan stunting masih harus kita tangani bersama,” katanya. Di sisi lain, ia menyoroti adanya perbedaan data prevalensi stunting hasil pencatatan rutin daerah dengan survei nasional yang masih perlu menjadi perhatian bersama.
“Data yang dilaporkan melalui sistem pencatatan rutin menunjukkan angka stunting sudah turun. Namun hasil survei dari Kementerian Kesehatan masih menunjukkan angka yang lebih tinggi. Ini menjadi bahan evaluasi bagi kita agar intervensi yang dilakukan benar-benar tepat sasaran,” jelasnya. Lebih lanjut, Harisson menegaskan bahwa percepatan penurunan stunting tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan melalui pendekatan pentahelix.
“Kalau ingin sebuah program berhasil, maka kita harus menggunakan pendekatan pentahelix. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dunia usaha, media, akademisi, organisasi masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat harus ikut terlibat,” tambahnya. Ia menilai Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) merupakan contoh nyata semangat gotong royong dalam membantu keluarga yang berisiko mengalami stunting.
“Program Genting harus menjadi gerakan bersama. Kita perlu mengajak perusahaan, lembaga, organisasi sosial, tokoh masyarakat hingga individu yang memiliki kemampuan untuk ikut menjadi orang tua asuh bagi keluarga berisiko stunting. Dengan gotong royong, saya yakin hasilnya akan jauh lebih baik,” tutup Harisson.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Barat, Dr. Nyigit Wudi Amini, S.Sos., M.Sc., mengatakan transformasi BKKBN menjadi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga semakin memperkuat pembangunan keluarga sebagai fondasi utama pembangunan sumber daya manusia Indonesia. “Transformasi ini mempertegas bahwa pembangunan keluarga menjadi fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia Indonesia. Karena itu, seluruh program prioritas kami diarahkan untuk memperkuat kualitas keluarga sejak dini,” ujarnya.
Nyigit menjelaskan Kalimantan Barat telah menuntaskan penyusunan Peta Jalan Pembangunan Kependudukan (PJPK) di tingkat provinsi. Sementara itu, Kabupaten Sambas dan Kabupaten Sintang telah menyelesaikan dokumen tersebut secara penuh sebagai pedoman pembangunan kependudukan di daerah. Ia juga mengungkapkan sejumlah capaian positif pada semester pertama tahun 2026, salah satunya melalui Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting).
“Alhamdulillah, Kalbar menjadi peringkat pertama nasional dalam pelaksanaan Program Genting dengan 13.548 keluarga sasaran atau mencapai 116 persen. Kami berharap dengan dikukuhkannya para Duta Genting, partisipasi masyarakat dan dunia usaha akan semakin besar dalam membantu keluarga berisiko stunting,” ungkapnya. Selain itu, implementasi Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Program Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), dan Lansia Berdaya juga menunjukkan capaian yang baik.
Meski demikian, pihaknya masih terus mendorong peningkatan peserta KB baru, pelayanan KB pascapersalinan, serta pendampingan calon pengantin melalui aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Hamil (eLSimil). “Melalui rapat koordinasi ini kami ingin menyamakan langkah, berbagi praktik baik, sekaligus menyusun strategi bersama agar capaian pembangunan keluarga, Program Bangga Kencana, dan percepatan penurunan stunting pada semester kedua tahun 2026 dapat berjalan lebih optimal,” tutup Nyigit.
Rapat koordinasi tersebut diikuti perangkat daerah Provinsi Kalimantan Barat, perangkat daerah yang membidangi pengendalian penduduk dan keluarga berencana dari seluruh kabupaten/kota, mitra pembangunan, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi masyarakat, serta para penyuluh KB se-Kalimantan Barat secara luring maupun daring.


















