Headline.co.id, Jakarta ~ Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2026, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bekerja sama dengan Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis mengadakan kegiatan edukasi antikorupsi melalui pemutaran film pendek. Acara ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai integritas kepada pelajar dengan memanfaatkan seni dan budaya sebagai media pembelajaran.
Sebanyak 150 pelajar dari SMP Negeri 57 Jakarta berpartisipasi dalam kegiatan yang diadakan di Auditorium Erasmus Huis, Jakarta, pada Kamis (23/7/2026). Melalui pendekatan audio-visual, para siswa diajak untuk merefleksikan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, serta keberanian dalam mengambil keputusan yang benar dalam kehidupan sehari-hari. Program ini merupakan bagian dari strategi KPK untuk memperluas pendidikan antikorupsi dengan metode yang lebih kreatif dan partisipatif, sesuai dengan karakter generasi muda.
Para peserta menyaksikan tiga film pendek pilihan dari Anti-Corruption Film Festival (ACFFEST), yaitu Loma, Review Klinik Baru ft. Sissy, dan Rahasia Umum. Ketiga film tersebut mengangkat isu integritas yang dekat dengan kehidupan remaja, mulai dari pentingnya bersikap jujur hingga keberanian menolak perilaku yang menyimpang. Setelah pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif dan kuis yang melibatkan pelajar serta guru pendamping untuk memperdalam pemahaman terhadap pesan-pesan antikorupsi yang disampaikan.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK, Cahya H. Harefa, menegaskan bahwa budaya antikorupsi harus dibangun sejak usia dini melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten. “Budaya antikorupsi harus dibangun sejak dini melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten,” ungkapnya. Sementara itu, Kepala Sekretariat Bidang Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK, Guntur Kusmeiyano, menilai pendidikan karakter merupakan investasi jangka panjang dalam menyiapkan generasi yang jujur, bertanggung jawab, dan berintegritas. “Karena pemberantasan korupsi tidak hanya mengandalkan penegakan hukum, tetapi juga membutuhkan penguatan pendidikan agar nilai-nilai integritas tertanam sejak dini,” terangnya.
Wakil Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Adriaan Palm, mengajak para pelajar memandang film sebagai cerminan kehidupan yang mengajarkan pentingnya memilih jalan yang benar. Setiap individu memiliki kebebasan menentukan pilihan, dan kejujuran, tanggung jawab, serta keberanian merupakan nilai yang harus dijaga dalam kehidupan sehari-hari. Apresiasi juga disampaikan oleh Wakil Kepala SMP Negeri 57 Jakarta, Endro Suwarno. Menurutnya, pendekatan pendidikan melalui film lebih mudah diterima siswa karena relevan dengan keseharian mereka. “Pendekatan pendidikan melalui film lebih mudah diterima siswa karena relevan dengan keseharian mereka,” imbuhnya.
Kolaborasi KPK dan Erasmus Huis ini menunjukkan bahwa pendidikan antikorupsi dapat diperkuat melalui sinergi sektor pendidikan, seni, dan budaya. Momentum Hari Anak Nasional 2026 sekaligus menjadi pengingat bahwa membangun budaya jujur harus dilakukan secara berkelanjutan agar lahir generasi yang kritis, bertanggung jawab, dan berintegritas sebagai fondasi Indonesia yang bebas dari korupsi.














