Headline.co.id, Dallas ~ Didier Deschamps kembali berada di ambang pencapaian besar bersama tim nasional Prancis ketika Les Bleus menghadapi Spanyol pada semifinal Piala Dunia 2026. Pelatih yang menangani Prancis sejak 2012 itu memburu final Piala Dunia ketiga secara beruntun setelah menjadi juara pada 2018 dan runner-up pada 2022. Pertandingan di Dallas juga menjadi bagian penting dari turnamen terakhirnya sebagai pelatih Prancis.
Sorotan terhadap Deschamps tidak hanya muncul karena lamanya masa jabatan, tetapi juga karena kemampuannya menjaga Prancis tetap kompetitif dalam beberapa generasi pemain. Menjelang semifinal, ia memilih menempatkan Spanyol sebagai kandidat utama juara dan mengarahkan timnya untuk berkonsentrasi pada tantangan pertandingan.
Dari Kapten Juara Dunia Menjadi Pelatih Les Bleus
Deschamps memiliki hubungan panjang dengan sejarah sepak bola Prancis. Sebagai pemain, ia menjadi kapten tim yang menjuarai Piala Dunia 1998. Bertahun-tahun kemudian, ia mengulangi keberhasilan tersebut dari bangku pelatih dengan membawa Prancis meraih gelar Piala Dunia 2018.
Pencapaian sebagai juara dunia dalam dua peran berbeda memberi Deschamps otoritas kuat di ruang ganti. Ia memahami tekanan yang dihadapi pemain dalam pertandingan besar, baik dari sudut pandang pemain maupun pelatih. Pengalaman itu membantu membentuk pendekatan yang menekankan struktur, pembagian peran, dan kemampuan bertahan dalam momentum sulit.
Deschamps mengambil alih tim nasional pada 2012. Sejak itu, Prancis berkembang menjadi salah satu tim yang paling konsisten mencapai fase akhir turnamen besar. Ia tidak selalu menggunakan pola permainan yang sama, tetapi berulang kali menyesuaikan susunan dan keseimbangan tim dengan karakter pemain yang tersedia.
Konsistensi Prancis di Bawah Didier Deschamps
Di bawah kepemimpinannya, Prancis mencapai final Piala Eropa 2016, menjuarai Piala Dunia 2018, dan kembali ke final Piala Dunia pada 2022. Perjalanan menuju semifinal 2026 memperpanjang catatan tersebut dan membuka peluang bagi Les Bleus untuk tampil di final dunia tiga edisi berturut-turut.
Konsistensi itu dibangun melalui kombinasi kualitas individu dan organisasi kolektif. Prancis memiliki pemain yang dapat menentukan pertandingan, tetapi Deschamps juga menuntut kontribusi tanpa bola. Para penyerang ikut melakukan tekanan, lini tengah menjaga jarak, dan pemain belakang dituntut mampu memulai transisi dengan tenang.
Pendekatan Deschamps kerap dinilai pragmatis karena ia tidak selalu mengejar dominasi penguasaan bola. Namun, ukuran keberhasilannya terletak pada kemampuan tim menyesuaikan diri dengan konteks pertandingan. Prancis dapat bermain lebih langsung, menunggu di area sendiri, atau meningkatkan tempo setelah jeda sesuai kebutuhan.
Piala Dunia 2026 Menjadi Babak Penutup
Deschamps sebelumnya telah menyatakan tidak akan melanjutkan masa tugasnya setelah Piala Dunia 2026. Dengan demikian, setiap pertandingan fase gugur membawa arti tambahan karena dapat menjadi laga terakhirnya bersama Prancis. Kepastian mengenai pengganti berada di luar fokus tim selama turnamen, sementara upaya mencapai final tetap menjadi prioritas.
Situasi tersebut juga menjelaskan kuatnya perhatian terhadap kemungkinan pergantian pelatih, termasuk nama Zinedine Zidane yang lama dikaitkan dengan tim nasional. Namun, bahan yang tersedia belum memuat keputusan resmi mengenai siapa yang akan mengambil alih setelah Deschamps. Karena itu, status suksesi masih harus menunggu pengumuman resmi.
Semifinal melawan Spanyol akan menjadi ujian berikutnya bagi formula Deschamps: disiplin, kedalaman skuad, dan kemampuan mengelola momentum. Kemenangan akan membawanya ke final Piala Dunia ketiga berturut-turut, sedangkan hasil pertandingan juga akan menentukan seberapa panjang babak terakhirnya bersama Les Bleus berlangsung.





















