Headline.co.id, Jakarta ~ Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengembangkan sistem peringatan dini cuaca berbasis dampak melalui pendekatan Impact Based Forecast (IBF). Langkah ini bertujuan untuk memberikan informasi yang tidak hanya memprediksi potensi cuaca ekstrem, tetapi juga menjelaskan dampak yang mungkin terjadi. Hal ini diharapkan dapat mendorong pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat dalam mitigasi bencana hidrometeorologi. Kegiatan ini diumumkan oleh Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam acara IBF Expose 2026 di Jakarta Pusat, Senin (6/7/2026).
Faisal menekankan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem, sehingga sistem peringatan dini harus beradaptasi. “Informasi yang disampaikan kepada masyarakat harus menjelaskan dampak yang mungkin terjadi, pihak yang berisiko, wilayah yang perlu bersiap, serta langkah mitigasi yang harus dilakukan,” ujar Faisal. Pengembangan IBF ini sejalan dengan program Early Warnings for All dari World Meteorological Organization (WMO) yang mendorong sistem peringatan dini terintegrasi.
Kolaborasi Lintas Sektor
Keberhasilan implementasi IBF, menurut Faisal, hanya dapat dicapai melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, termasuk kementerian, lembaga, pemerintah daerah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat. “Kolaborasi ini penting untuk memperkuat ketangguhan nasional menghadapi bencana hidrometeorologi,” tegasnya. BMKG juga mengoptimalkan teknologi observasi dan komputasi, termasuk High Performance Computing (HPC), untuk menghasilkan informasi cuaca yang lebih akurat dan cepat.
Pendekatan Baru dalam Peringatan Dini
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa sistem peringatan dini harus memberikan informasi yang lebih kontekstual dan mudah ditindaklanjuti. “Pendekatan IBF mengubah paradigma peringatan dini dari sekadar menjawab kondisi cuaca menjadi memberikan informasi mengenai dampak yang mungkin ditimbulkan beserta tindakan mitigasi yang perlu dilakukan,” jelas Andri. Pendekatan ini mengintegrasikan prakiraan cuaca dengan data keterpaparan, tingkat kerentanan, dan kapasitas wilayah.
Kerja Sama dan Implementasi
Dalam acara tersebut, BMKG menandatangani Perjanjian Kerja Sama dengan Badan Informasi Geospasial untuk mendukung pengembangan dan implementasi IBF di Indonesia. Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan dari berbagai kementerian, lembaga, dan mitra pembangunan internasional. Penyelarasan langkah dan komitmen bersama para pemangku kepentingan diharapkan dapat memperkuat sistem peringatan dini berbasis dampak di Indonesia.
Dengan penguatan sistem peringatan dini cuaca berbasis dampak ini, BMKG berharap dapat meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan mengurangi risiko bencana hidrometeorologi di masa depan.





















