Headline.co.id, Batang ~ PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) meluncurkan Buku Biodiversitas PLTU Jawa Tengah pada Selasa (30/6/2026) di Aula Bupati Batang, Kabupaten Batang. Peluncuran ini merupakan bentuk komitmen BPI dalam menjaga kelestarian lingkungan di sekitar wilayah operasional PLTU Batang. Buku tersebut disusun melalui kolaborasi dengan Kelompok Pecinta Alam Haliaster dari Departemen Biologi Universitas Diponegoro (Undip) dan diterbitkan oleh Gagas Bisnis.
Buku ini merangkum hasil pemantauan keanekaragaman hayati selama periode 2013–2025 di enam stasiun pengamatan di kawasan PLTU Batang. Chief Operating Officer (COO) PT Bhimasena Power Indonesia, Naofumi Yasuda, mengungkapkan bahwa kawasan tersebut memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi, termasuk 204 jenis tumbuhan, 108 jenis burung, 80 jenis kupu-kupu, dan 36 jenis capung. “Kawasan ini juga menjadi habitat bagi satwa bernilai konservasi tinggi seperti Gelatik Jawa dan Kepudang Kuduk Hitam,” ujarnya.
Kolaborasi Pentahelix untuk Pembangunan Berkelanjutan
Peluncuran buku ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Naofumi Yasuda menegaskan bahwa buku ini bukan hanya memenuhi kewajiban administrasi, tetapi juga menjadi wujud akuntabilitas ilmiah atas upaya konservasi yang telah dilakukan. “Kolaborasi berbagai pihak atau pendekatan pentahelix menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan kebutuhan pembangunan dan pelestarian sumber daya alam,” jelasnya.
Apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Batang
Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, mengapresiasi peluncuran buku ini sebagai dokumentasi ilmiah yang menunjukkan upaya pelestarian lingkungan di sekitar PLTU. Menurutnya, keberadaan ratusan spesies flora dan fauna di kawasan tersebut membuktikan bahwa pembangunan dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan. “Dokumentasi ini menjadi dasar penting untuk terus meningkatkan upaya pelestarian lingkungan,” terangnya.
Tantangan dan Langkah Nyata
Bupati Faiz Kurniawan juga menyoroti tantangan perubahan iklim yang dirasakan di seluruh dunia. Ia menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak boleh dihadapkan pada pilihan pemenuhan kebutuhan energi dan perlindungan lingkungan. “Kita tidak memilih listrik dan lingkungan, tetapi kita memilih keduanya,” ungkapnya. Tantangan tersebut harus dijawab melalui langkah nyata seperti pemantauan lingkungan berkala, rehabilitasi kawasan pesisir, dan program CSR yang melibatkan masyarakat.
Peluncuran buku ini turut dihadiri oleh perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah, akademisi, komunitas literasi, media, serta organisasi nonpemerintah. Acara ini juga diisi dengan diskusi panel yang menghadirkan berbagai narasumber, termasuk Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Hidayat Ashari dan Kepala DLHK Provinsi Jawa Tengah Heru Djatmika.























