Headline.co.id, Jakarta ~ Kerusakan pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain dilaporkan jauh lebih besar dibandingkan yang selama ini diungkap secara resmi oleh Pentagon. Temuan tersebut terungkap melalui investigasi The Wall Street Journal (WSJ) yang mengandalkan citra satelit, dokumentasi visual, serta keterangan dari personel militer aktif dan mantan personel. Laporan itu juga menyebut Washington kini tengah mengevaluasi kembali postur militernya di Timur Tengah sebagai respons atas meningkatnya ancaman serangan rudal dan drone Iran.
Pangkalan militer yang menjadi sorotan adalah Naval Support Activity (NSA) Bahrain, markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat. Berdasarkan hasil analisis citra satelit, sejumlah fasilitas penting di kompleks tersebut mengalami kerusakan signifikan setelah serangan yang berlangsung antara akhir Februari hingga Juni 2026.
Temuan mengenai kondisi pangkalan militer itu muncul ketika Pentagon dikabarkan mempertimbangkan perubahan strategi pertahanan di kawasan Teluk, termasuk kemungkinan mengurangi keberadaan pasukan di Kuwait dan Arab Saudi serta memindahkan sebagian operasi ke wilayah yang lebih jauh dari jangkauan rudal Iran.
Investigasi WSJ Ungkap Kerusakan Fasilitas Strategis
Laporan WSJ menyebut investigasi dilakukan dengan menggabungkan citra satelit, video yang beredar di media sosial, foto lapangan, hingga wawancara dengan anggota militer yang masih aktif maupun yang telah pensiun.
Berdasarkan hasil investigasi tersebut, serangan rudal dan drone Iran menyebabkan kerusakan pada markas komando NSA Bahrain, sedikitnya 12 bangunan lain, serta dua terminal komunikasi satelit yang menjadi bagian penting dalam operasional Armada Kelima Amerika Serikat.
Meski demikian, Pentagon hingga kini belum mengakui secara terbuka sejauh mana tingkat kerusakan yang terjadi di pangkalan tersebut.
Pentagon Kaji Relokasi Pangkalan
Seiring munculnya temuan tersebut, pemerintah Amerika Serikat disebut sedang mengevaluasi ulang penempatan fasilitas militernya di Timur Tengah.
Laporan WSJ menyebut Washington mempertimbangkan untuk memperkuat kembali fasilitas di Bahrain, namun pada saat yang sama mengurangi jejak militernya di Kuwait dan Arab Saudi. Sebagai alternatif, sebagian pangkalan dan operasi militer akan dipindahkan ke wilayah yang lebih aman dari ancaman rudal dan pesawat nirawak Iran.
“Salah satu lokasi di mana beberapa pangkalan dapat dipindahkan adalah Israel,” demikian pernyataan dua pejabat yang dikutip WSJ.
Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi untuk mengurangi risiko terhadap personel maupun aset militer Amerika Serikat di kawasan.
CENTCOM: Prioritas Utama Melindungi Personel
Menanggapi laporan mengenai kerusakan fasilitas militer, Juru Bicara Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Kapten Tim Hawkins, menegaskan bahwa perlindungan personel menjadi fokus utama selama konflik berlangsung.
“Komando Pusat AS dengan tepat memprioritaskan perlindungan orang daripada bangunan, dan strategi kami untuk melindungi orang berhasil,” kata Hawkins kepada WSJ.
Menurut Hawkins, Iran meluncurkan lebih dari 8.000 rudal dan drone selama konflik berlangsung. Namun, ia menyatakan hanya dua serangan yang menyebabkan korban jiwa dari pihak Amerika Serikat.
“Iran meluncurkan lebih dari 8.000 rudal dan drone selama konflik dan hanya dua serangan yang mengakibatkan korban jiwa dari pihak Amerika,” ujarnya.
Hawkins juga menegaskan bahwa operasi militer Amerika Serikat tetap berjalan selama konflik.
“AS menghantam lebih dari 13.500 target,” kata Hawkins.
Iran Nilai Pangkalan AS Tak Lagi Aman
Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menilai operasi militer negaranya telah membuktikan bahwa Amerika Serikat tidak lagi memiliki posisi aman untuk mempertahankan keberadaan militernya di kawasan Timur Tengah.
“Amerika tidak lagi memiliki tempat yang aman di kawasan ini untuk melakukan campur tangan dan mempertahankan pangkalan militernya,” kata Khamenei dalam sebuah pernyataan.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, memperingatkan Amerika Serikat agar tidak memberikan pernyataan yang bertentangan dengan isi nota kesepahaman (MoU) mengenai pengakhiran perang.
Dalam unggahannya di media sosial X pada Rabu (24/6), Baqaei menyatakan pernyataan pejabat AS hanya memperkuat ketidakpercayaan pemerintah Iran terhadap Washington.
Menurut Baqaei, Iran tetap berkomitmen pada jalur diplomasi melalui penandatanganan MoU, namun akan tetap bersikap waspada berdasarkan pengalaman hubungan kedua negara selama puluhan tahun.
Evaluasi Strategi Militer Masih Berlangsung
Temuan mengenai luasnya kerusakan di NSA Bahrain menjadi salah satu faktor yang mendorong Pentagon meninjau kembali strategi pertahanannya di Timur Tengah. Selain mempertimbangkan perbaikan fasilitas di Bahrain, pemerintah Amerika Serikat juga terus mengkaji opsi relokasi sebagian pangkalan ke wilayah yang dinilai lebih aman dari ancaman rudal dan drone.
Evaluasi tersebut berlangsung di tengah upaya Amerika Serikat dan Iran memasuki fase gencatan senjata berdasarkan nota kesepahaman yang telah disepakati. Meski demikian, kedua negara masih menunjukkan perbedaan pandangan terkait implementasi kesepakatan tersebut, sementara situasi keamanan di kawasan tetap menjadi perhatian utama.






















