Headline.co.id, Sleman ~ Perempuan yang tinggal di daerah peri urban memiliki potensi besar dalam meningkatkan ketahanan keluarga dan masyarakat. Namun, banyak dari mereka masih menghadapi berbagai hambatan dalam mengakses peluang ekonomi dan pengembangan keterampilan. Oleh karena itu, diperlukan upaya pemberdayaan melalui peningkatan kapasitas, keterampilan, dan kewirausahaan.
Hal ini disampaikan oleh Hastuti, dosen Geografi Fakultas Ilmu Sosial, Hukum, dan Ilmu Politik (FISHIPOL) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dalam kegiatan Pelatihan Penerapan Sistem Aquaponik Portable Berbasis Zero Waste (BUDIKDAMBER/Budidaya Ikan Dalam Ember) yang ditujukan bagi kelompok perempuan di Padukuhan Jetis Suruh, Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, pada Kamis (11/6/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat UNY yang bertujuan meningkatkan kapasitas perempuan di kawasan peri urban melalui penguatan keterampilan pemanfaatan pekarangan dan pengembangan ketahanan pangan keluarga berbasis teknologi sederhana yang ramah lingkungan.
Menurut Hastuti, kawasan peri urban adalah wilayah transisi desa dan kota yang memiliki karakteristik sosial dan ekonomi khas. Sebagian masyarakatnya masih bergantung pada sektor pertanian, sementara yang lain bekerja di sektor industri, perdagangan, atau jasa di wilayah perkotaan.
“Kawasan peri urban memiliki dinamika yang berbeda dibandingkan kawasan pedesaan maupun perkotaan. Di wilayah seperti ini, perempuan memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan keluarga, baik dari sisi ekonomi maupun pangan. Karena itu, peningkatan keterampilan dan kapasitas perempuan menjadi sangat penting,” ungkapnya.
Hastuti menambahkan bahwa pemanfaatan lahan pekarangan adalah salah satu solusi untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga. Pekarangan di sekitar rumah dapat dimanfaatkan secara produktif untuk menanam sayuran, budidaya ikan, atau kegiatan produktif lainnya yang mampu menghasilkan nilai ekonomi.
Melalui pemanfaatan pekarangan, keluarga tidak hanya dapat memenuhi sebagian kebutuhan pangan secara mandiri, tetapi juga memiliki peluang untuk memperoleh tambahan penghasilan. Konsep ini menjadi semakin penting di tengah tantangan perubahan iklim, keterbatasan lahan pertanian, dan meningkatnya kebutuhan rumah tangga.
Namun, kondisi lahan yang relatif sempit dan keterbatasan ketersediaan air sering kali menjadi kendala dalam budidaya secara konvensional. Untuk itu, pelatihan ini juga mengenalkan sistem BUDIKDAMBER sebagai alternatif sederhana, hemat lahan dan air, yang dapat diterapkan masyarakat.
Narasumber pelatihan, Nur Ariyanto, menjelaskan bahwa BUDIKDAMBER adalah sistem aquaponik sederhana yang mengintegrasikan budidaya ikan dengan tanaman sayuran dalam satu media. Sistem ini memungkinkan masyarakat memelihara ikan sekaligus menanam sayuran tanpa membutuhkan lahan yang luas.
“Keunggulan BUDIKDAMBER adalah sistemnya sederhana, tidak membutuhkan listrik maupun aerator, hemat ruang, hemat energi, dan mudah diterapkan oleh masyarakat. Sistem ini sangat cocok untuk kawasan peri urban maupun lingkungan perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan,” ujarnya.
Menurutnya, prinsip kerja BUDIKDAMBER memanfaatkan hubungan saling menguntungkan ikan dan tanaman. Kotoran ikan menghasilkan unsur hara yang dibutuhkan tanaman, sedangkan tanaman berfungsi menyerap zat-zat sisa dalam air sehingga kualitas air tetap terjaga dan lebih sehat bagi ikan.
Konsep tersebut menjadikan BUDIKDAMBER sebagai sistem budidaya yang ramah lingkungan dan menerapkan prinsip zero waste, karena memanfaatkan sumber daya secara efisien dengan limbah yang sangat minim.
Selain mendukung ketahanan pangan keluarga, BUDIKDAMBER juga memberikan manfaat ekonomi. Hasil panen sayuran maupun ikan dapat dimanfaatkan untuk konsumsi keluarga atau dijual sehingga mampu menambah pendapatan rumah tangga.
Dalam praktiknya, tanaman kangkung yang banyak digunakan pada sistem BUDIKDAMBER dapat dipanen dalam waktu sekitar 14 hingga 21 hari. Sementara itu, ikan lele dapat dipanen setelah pemeliharaan selama dua hingga tiga bulan, sehingga memberikan hasil yang relatif cepat bagi masyarakat. (Upik Wahyuni KIM Donoharjo)





















