Headline.co.id, Jogja ~ Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan. Pada perdagangan Senin (18/5) pagi, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.590 hingga Rp17.660 per dolar AS. Tren pelemahan ini telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir dan menimbulkan kekhawatiran publik mengenai kondisi ekonomi domestik. Di tengah situasi ini, kelompok kelas menengah dianggap paling rentan terhadap dampaknya. Pelemahan rupiah tidak hanya sekadar angka di layar perdagangan, tetapi juga ancaman nyata terhadap daya beli, tabungan, investasi, dan rasa aman ekonomi masyarakat yang hidup dalam kondisi serba ‘cukup’ namun belum memiliki bantalan finansial yang kuat.
Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Dr. Arie Sujito, S.S., M.Si., mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah berdampak langsung pada kehidupan sosial ekonomi masyarakat, terutama kelas menengah di perkotaan. Menurutnya, kenaikan biaya kebutuhan hidup memaksa masyarakat untuk menghitung ulang pengeluaran rumah tangga dan menyesuaikan rencana hidup yang telah disusun sebelumnya. Kondisi ini perlahan memengaruhi pola konsumsi masyarakat, terutama untuk kebutuhan sekunder yang mulai dikurangi demi menjaga kestabilan ekonomi keluarga. Arie menuturkan bahwa situasi ini juga memunculkan rasa tidak aman karena cadangan sumber daya ekonomi masyarakat mengalami penurunan nilai secara signifikan.
Arie menjelaskan bahwa tekanan ekonomi global saat ini semakin memperbesar kerentanan ekonomi domestik Indonesia. Konflik geopolitik internasional, termasuk perang Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya, dinilai turut memengaruhi kenaikan harga minyak dunia dan berbagai biaya kebutuhan di dalam negeri. Menurutnya, situasi ini membuat negara menghadapi tantangan besar untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mempertahankan kemampuan subsidi bagi masyarakat. Dampak dari kondisi global ini dalam jangka pendek paling cepat dirasakan oleh kelompok kelas menengah dan masyarakat bawah. “Kalau negara tidak memiliki kemampuan mengatasi secara cepat, dampaknya akan beruntun,” ungkapnya, Selasa (19/5).
Menurut Arie, tekanan ekonomi yang terus berlangsung dapat berkembang menjadi persoalan sosial yang lebih luas apabila tidak segera diantisipasi. Ia menjelaskan bahwa ketika masyarakat mulai kesulitan memenuhi kebutuhan primer, dampaknya tidak lagi terbatas pada persoalan ekonomi rumah tangga semata. Situasi ini dapat memengaruhi stabilitas sosial karena masyarakat mengalami penurunan rasa aman terhadap kondisi hidup mereka. Kerentanan ini, menurutnya, akan semakin besar apabila fondasi ekonomi nasional tidak cukup kuat menghadapi tekanan global yang berkepanjangan. “Kalau sudah masuk ke kebutuhan primer itu akan punya dampak secara sosial,” jelasnya.
Arie menilai bahwa negara sebenarnya telah menjalankan berbagai program perlindungan sosial untuk menjaga daya tahan masyarakat di tengah tekanan ekonomi. Namun, ia melihat langkah tersebut belum sepenuhnya mampu menjawab krisis yang terjadi di lapangan. Arie menilai terdapat jarak kebijakan yang dirancang pemerintah dengan realitas yang dihadapi masyarakat sehari-hari. Kondisi ini membuat berbagai program bantuan sosial dan intervensi ekonomi belum cukup efektif menahan laju kerentanan sosial yang berkembang di masyarakat. “Terjadi diskoneksi upaya-upaya program yang dilakukan itu dengan krisis yang terjadi,” tuturnya.
Ia juga menyoroti berkurangnya kapasitas fiskal negara dan daerah yang dinilai turut memperbesar tekanan sosial ekonomi masyarakat. Menurutnya, penurunan transfer fiskal dari pemerintah pusat membuat banyak daerah mengalami kesulitan pembiayaan pembangunan dan pelayanan publik. Dampaknya mulai terasa di berbagai sektor, termasuk pendidikan yang harus menghadapi pengurangan anggaran dan berbagai keterbatasan pembiayaan. Dalam situasi seperti ini, berbagai institusi dituntut mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat. Arie menilai kondisi ini tidak dapat dianggap sebagai persoalan ringan karena berkaitan langsung dengan keberlanjutan pelayanan publik bagi masyarakat.
Lebih jauh, Arie mengingatkan bahwa krisis ekonomi yang tidak segera ditangani berpotensi berkembang menjadi krisis sosial bahkan politik. Menurutnya, tekanan yang dialami kelas menengah dapat memicu dampak berantai terhadap kelompok masyarakat lain, terutama kelas bawah yang memiliki daya tahan ekonomi lebih lemah. Ia menilai pemerintah perlu menyiapkan langkah strategis dan kebijakan darurat yang mampu meredam dampak krisis secara cepat dan tepat sasaran. “Apabila tekanan ekonomi terus menumpuk tanpa solusi yang jelas, kondisi ini dikhawatirkan memengaruhi stabilitas sosial dan kepercayaan masyarakat terhadap negara,” pungkasnya.




















