Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Kesehatan menyoroti pentingnya integrasi kebijakan dan layanan dalam mengatasi tiga isu kontemporer yang mempengaruhi kesehatan mental. Dalam peringatan Bulan Kesadaran Kesehatan Mental 2026 yang bertema “More Good Days, Together,” Kemenkes menekankan perlunya kolaborasi dalam menghadapi perubahan iklim, tekanan ekonomi, dan perilaku digital. Hal ini disampaikan oleh Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan di Kementerian Kesehatan, dr. Imran Pambudi, pada Jumat (8/5/2026).
Dr. Imran menjelaskan bahwa lebih dari 1 miliar orang di dunia mengalami kondisi kesehatan mental, dengan gangguan kecemasan dan depresi sebagai yang paling umum. Namun, banyak dari mereka tidak mendapatkan perawatan yang efektif. Oleh karena itu, tindakan kolektif menjadi sangat mendesak.
Terkait perubahan iklim, dr. Imran menekankan bahwa respons terhadap dampak psikologis dari bencana alam seperti banjir, kebakaran hutan, atau gelombang panas harus menjadi bagian integral dari kebijakan mitigasi dan adaptasi. Trauma, kehilangan, dan kecemasan akibat perubahan iklim dapat berdampak jangka panjang pada individu dan komunitas. Oleh karena itu, layanan dukungan psikososial yang terlatih harus menjadi komponen inti dalam setiap rencana tanggap darurat.
Selain itu, tekanan ekonomi juga memerlukan solusi yang menggabungkan kebijakan sosial dan layanan kesehatan mental. Stres keuangan, pengangguran, dan utang berkaitan erat dengan peningkatan depresi, gangguan kecemasan, dan gangguan tidur. Namun, akses ke perawatan sering terhambat oleh biaya dan stigma. Dr. Imran menekankan pentingnya intervensi lintas-sektor, termasuk program perlindungan sosial seperti bantuan tunai sementara, akses konseling karyawan, dan kampanye literasi keuangan.






















