Headline.co.id, Polewali Mandar ~ Serangan buaya terhadap warga di Sungai Mandar, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, dalam empat bulan terakhir memicu kekhawatiran masyarakat. Sebanyak empat warga menjadi korban sejak awal 2026, dengan satu di antaranya meninggal dunia. Warga menduga buaya yang menyerang bukan berasal dari habitat asli sungai tersebut. Dugaan ini muncul karena sebelumnya keberadaan buaya tidak pernah menimbulkan serangan terhadap manusia.
Warga Curiga Buaya Bukan Asli Sungai Mandar
Salah seorang warga, Haedir, menyebut perilaku buaya yang belakangan sering muncul berbeda dengan karakter buaya yang selama ini dikenal di Sungai Mandar.
“Ini bukan buaya asli (sungai Mandar), karena sejak dulu ada tapi tidak pernah menyerang warga. Baru beberapa bulan ini buaya mulai menyerang warga,” kata Haedir kepada wartawan, Minggu (3/5/2026).
Ia menambahkan, buaya asli Sungai Mandar biasanya jarang terlihat di permukaan. Sementara buaya yang diduga menyerang warga justru kerap muncul hingga ke bantaran sungai.
“Kalau buaya asli sangat jarang terlihat, paling hanya kepalanya yang terlihat. Sedangkan buaya yang menyerang warga hampir setiap hari kelihatan bahkan naik berjemur di bantaran sungai,” ujarnya.
Penjelasan Ahli: Buaya Bisa Berpindah Habitat
Menanggapi hal tersebut, Penata Kelola Kelautan dan Perikanan Balai Pengelolaan Kelautan wilayah kerja Sulbar, Nuralim, menilai dugaan warga sebagai hal yang wajar mengingat kejadian yang terjadi tidak biasa.
“Memang wajar kalau warga punya dugaan seperti itu, apalagi kalau kejadian ini terasa tidak biasa,” kata Nuralim.
Secara ilmiah, ia menjelaskan bahwa buaya muara (Crocodylus porosus) memiliki wilayah jelajah luas dan memungkinkan berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain melalui sungai maupun laut.
“Namun secara ilmiah, buaya, terutama seperti buaya muara, memang memiliki wilayah jelajah yang luas dan bisa berpindah tempat melalui sungai atau laut, jadi kemungkinan ‘pendatang’ itu tetap ada, tapi bukan berarti sesuatu yang di luar kebiasaan alam,” terangnya.
Meski demikian, Nuralim tidak berspekulasi terkait asal usul buaya tersebut. Ia menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat di tengah meningkatnya interaksi antara manusia dan satwa liar.
“Yang lebih penting bagaimana meningkatkan kewaspadaan bersama, karena perubahan lingkungan, aktivitas manusia di sungai, atau berkurangnya habitat bisa membuat buaya lebih sering muncul di area yang dekat dengan warga,” jelasnya.
Ia juga mengimbau warga untuk sementara waktu menghindari aktivitas berisiko di sungai serta mengikuti arahan dari pihak berwenang.
Kronologi 4 Warga Diserang Buaya
Data yang dihimpun menunjukkan, dalam kurun waktu empat bulan terakhir terdapat empat kasus serangan buaya di Sungai Mandar. Korban pertama adalah Jaumil (21) yang diserang saat mandi pada Minggu (28/12) sekitar pukul 19.30 Wita dan mengalami luka di kedua kaki.
Selanjutnya, Ismail (52) diserang saat buang air besar pada Jumat (23/1) sekitar pukul 19.00 Wita. Ia selamat meski mengalami luka di bagian punggung dan bokong.
Serangan paling fatal terjadi pada Kamis (23/4) sekitar pukul 19.00 Wita, ketika Muhlis (50) diserang saat mandi dan ditemukan meninggal dunia dua jam kemudian dengan luka di leher dan dada.
“Didapat itu buayanya sementara makan korban. Mungkin karena merasa terganggu warga, akhirnya (buaya) sempat dilepaskan (jasad korban),” ujar Lurah Tinambung, Ali Sadikin, Jumat (24/4).
Terakhir, Mustari (72) diserang saat menyeberangi sungai untuk memberi makan ternaknya pada Rabu (29/4). Korban berhasil selamat meski mengalami luka di bagian pinggang dan harus menjalani perawatan di puskesmas.
Dugaan Penyebab: Kerusakan Habitat dan Konflik Manusia-Satwa
Nuralim menambahkan, meningkatnya konflik antara manusia dan buaya diduga dipicu oleh kerusakan habitat, pencemaran, serta berkurangnya sumber makanan alami di sungai.
“Mungkin karena habitatnya rusak, mungkin karena pemukiman diperluas, pencemaran dan makanan sudah habis jadi buaya terdesak lah,” katanya.
Menurutnya, kondisi serupa juga ditemukan di wilayah lain di Sulawesi Barat seperti Mamuju Tengah dan Pasangkayu, di mana konflik antara manusia dan buaya kerap terjadi.
Penanganan Terbatas, Warga Diminta Waspada
Terkait penanganan, Nuralim menyebut opsi pelumpuhan buaya hanya dilakukan secara terbatas dan melalui prosedur resmi apabila sudah menimbulkan korban jiwa.
“Tapi setelah dimatikan harus ada berita acara dari pemerintah desa atau kelurahan, bahwa tanggal sekian telah dimatikan buaya dengan ukuran sekian,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa tidak semua buaya dapat dilumpuhkan mengingat statusnya sebagai satwa yang dilindungi.
“Kan katanya warga buaya yang sering terlihat ada 4 ekor, masa karena 1 yang berbuat ulah semuanya harus dilumpuhkan, kan tidak bisa,” tambahnya.
Upaya relokasi maupun penangkaran dinilai belum memungkinkan karena keterbatasan lokasi dan biaya operasional.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah dan masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan serta menjaga keseimbangan lingkungan guna meminimalkan potensi konflik antara manusia dan satwa liar di kawasan Sungai Mandar.





















