Headline.co.id, Penelitian Terbaru Dari University Of Georgia Athens ~ Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa peningkatan waktu yang dihabiskan remaja untuk mengakses media sosial berbanding lurus dengan penurunan kemampuan literasi membaca dan penguasaan kosakata. Hal ini berdampak pada prestasi akademis mereka di sekolah. Menanggapi situasi ini, Pemerintah Indonesia telah memberlakukan pembatasan akses media sosial dan gim daring bagi anak di bawah 16 tahun sejak 28 Maret 2026, sesuai dengan PP Tunas. Kebijakan ini berlaku untuk platform dengan risiko tinggi seperti YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, Threads, X, Bigo Live, dan Roblox.
Dr. Sailal Arimi, M.Hum., dosen Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Gadjah Mada (UGM), menyatakan bahwa pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun adalah langkah strategis dan relevan. Menurutnya, anak-anak pada usia tersebut belum memiliki kemampuan yang cukup untuk menyerap informasi dan membedakan konten yang baik dan buruk. “Dengan dibatasinya akses tersebut akan sangat membantu dalam pemilihan kontennya terutama pada usia rentan remaja dan kanak-kanak,” ujar Sailal pada Selasa (14/4).
Sailal menambahkan bahwa di era kemajuan teknologi komunikasi dan informasi saat ini, penggunaan gawai dalam kehidupan sehari-hari tidak dapat dihindari. Gawai dapat memberikan dampak positif jika digunakan untuk menambah wawasan, membangun portofolio, dan memperluas pengetahuan. Namun, jika digunakan hanya untuk bermain gim daring dan mengakses konten media sosial secara berlebihan, dapat berdampak negatif, seperti terpapar konten kekerasan dan kriminalitas, serta mempengaruhi relasi sosial dengan sikap antisosial, teror, dan bullying. “Yang menjadi persoalan sekarang kita harus fokus melihat gawai itu dari sisi keberadaan fungsinya. Jadi bagaimana usia pra-16 tahun itu bisa menggunakan gawai secara positif untuk belajar, meningkatkan keterampilan atau jejaring sosial yang sehat,” jelasnya.
Sailal juga menyarankan bahwa pembatasan akses media sosial bagi anak dan remaja serta pengembangan teknologi algoritma yang dapat mengklasifikasikan pengguna berdasarkan usia adalah langkah yang tepat. Menurutnya, lebih sulit mengatur individu untuk memilih benar atau salah. “Teknologi interaktif ini harus bisa dibuat atau diarahkan lebih tepat guna dan tepat sistemnya, agar penggunaan gawai betul-betul sudah berdasarkan usia,” tambahnya.





















