Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan pentingnya pendekatan keagamaan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan di tengah tantangan krisis ekologis global. Hal ini disampaikan saat menerima audiensi Yayasan Alam Melayu Sriwijaya di Jakarta, Senin (13/4/2026), yang membahas rencana seminar nasional bertema keislaman, spiritualitas, dan lingkungan (ekoteologi) di Palembang.
Menteri Agama menyatakan bahwa pendekatan berbasis nilai agama memiliki posisi strategis dalam membentuk kesadaran publik yang lebih kuat dan berkelanjutan mengenai pentingnya menjaga kelestarian alam. “Palembang mayoritas entitasnya Melayu, ini sangat cocok dengan program ekoteologi yang sedang kita kembangkan,” ujarnya.
Menurut Nasaruddin, gerakan berbasis kultural dan keagamaan dapat menjadi instrumen efektif dalam menanamkan kesadaran ekologis yang tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga membumi dalam praktik kehidupan sehari-hari. Kementerian Agama terus memperkuat kesadaran ekologis melalui berbagai jalur, mulai dari pendidikan agama hingga bimbingan kemasyarakatan, sebagai bagian dari transformasi peran agama dalam menjawab isu-isu kontemporer.
Menteri Agama juga menekankan perlunya perubahan paradigma dalam memahami ajaran agama, dari yang semula berfokus pada aspek ritual menjadi praktik yang berdampak nyata, termasuk dalam menjaga keseimbangan lingkungan. “Nilai keimanan tidak hanya berhenti pada aspek spiritual personal, tetapi harus hadir dalam bentuk tanggung jawab kolektif terhadap lingkungan,” tegasnya.
Ia menilai, penguatan ekoteologi dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran baru bahwa krisis lingkungan bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga menyangkut dimensi moral dan spiritual. Rencana seminar nasional yang akan digelar bersama UIN Raden Fatah Palembang diharapkan menjadi ruang kolaborasi akademisi, tokoh agama, dan masyarakat sipil untuk merumuskan langkah konkret dalam mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan upaya pelestarian lingkungan.
Menteri Agama menyambut positif inisiatif tersebut dan menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam memperluas jangkauan gerakan ekoteologi di Indonesia. Dengan menjadikan ekoteologi sebagai agenda prioritas, Kementerian Agama menegaskan peran strategis agama dalam merespons krisis lingkungan, sekaligus mendorong lahirnya kesadaran etis dalam menjaga bumi sebagai amanah bersama.
Langkah ini sejalan dengan agenda pembangunan nasional dalam memperkuat pembangunan berkelanjutan berbasis nilai keagamaan dan budaya (Asta Cita), serta meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga lingkungan hidup (Asta Cita).





















