Headline.co.id, Menjelang Musim Mudik Lebaran ~ perhatian terhadap penyakit menular seperti campak kembali meningkat. Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), kasus campak dilaporkan mengalami peningkatan. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DIY, dr. Ari Kurniawati, mengungkapkan bahwa hingga minggu ke-9 tahun 2026, terdapat 73 kasus campak terkonfirmasi. Angka ini meningkat sekitar 5,6 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan kasus terbanyak terjadi pada anak usia 2-9 tahun.
Dr. Ari juga menyoroti bahwa sebagian kasus terjadi pada bayi di bawah sembilan bulan yang belum cukup umur untuk mendapatkan imunisasi. Hal ini disampaikan dalam talkshow TropmedTalk bertajuk “Kasus Campak Naik Jelang Mudik, Haruskah Kita Panik?” yang diadakan secara daring oleh Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM pada Selasa (17/3).
Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK-KMK UGM, dr. Ida Safitri Laksanawati, Sp.A(K), menekankan bahwa kerentanan terhadap campak tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Ia menekankan pentingnya kelengkapan dosis vaksin kombinasi Measles and Rubella (MR). Meskipun cakupan vaksinasi dosis pertama di DIY tinggi, yakni di atas 95%, cakupan untuk dosis kedua masih di angka 90%. “Ini menjadi alarm bagi kita. Ketika cakupan MR2-nya tidak optimal, dalam rentang waktu lima tahun ke depan, kadar antibodi orang yang sudah divaksinasi tersebut akan menurun signifikan,” ujar dr. Ida.
Dr. Ida mengimbau masyarakat untuk tidak panik, tetapi meningkatkan kewaspadaan dengan persiapan matang. Ia menyarankan pemudik untuk mempertimbangkan risiko sebelum bepergian, terutama jika bepergian dengan anggota keluarga yang berisiko seperti bayi usia 6 bulan yang belum divaksin. “Kalau tidak begitu penting, jangan diajak berkerumun,” tambahnya.
Sementara itu, dr. Risalia Reni Arisanti, MPH, dari Departemen Biostatistik, Epidemiologi dan Kesehatan Populasi FK-KMK UGM, mengungkapkan bahwa penularan sering kali terjadi tanpa disadari dalam lingkup keluarga. Gejala awal campak yang mirip dengan penyakit lain, seperti demam berdarah, seringkali membuat masyarakat tidak curiga sehingga penanganan medisnya kurang tepat. Ia mengimbau masyarakat agar lebih peka dan segera memakai masker serta membatasi interaksi jika merasa tidak enak badan untuk mencegah penularan.





















