Nadiem Makarim: Bullying, Intoleransi, Kekerasan Seksual Layak di ‘Kartu Merah’

  • Whatsapp
Nadiem Makarim saat menjadi bintang tamu di kanal Youtube milik Deddy Corbuzier.
Nadiem Makarim saat menjadi bintang tamu di kanal Youtube milik Deddy Corbuzier.

HeadLine.co.id, (Jakarta) – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menjadi bintang tamu spesial di kanal Youtube milik Deddy Corbuzier, mereka membahas tentang dunia pendidikan di Indonesia. Dalam obrolan tersebut Nadiem menyoroti tiga hal yang membuat pendidikan Indonesia terhambat.

Ketiga hal tersebut layak diberi ganjaran ‘kartu merah’, salah satunya adalah bullying.

Bacaan Lainnya

Baca Juga: Selamat! Kevin Sanjaya Terima Penghargaan dari Forbes Indonesia’s 30 Under 30

“Menurut saya, itu suatu hal yang harusnya kartu merah. Bullying seperti itu harus ada penindakan yang tegas dari kepala sekolah kepada murid,” ujar Nadiem kepada Deddy.

Hal lainnya yakni intoleransi dan pelecehan atau kekerasan seksual. Menurut Nadiem, ketiga hal ini tidak perlu lagi ada debar, namun harus ditindak secara hukum dan tegas.

Tiga persoalan ini harus ada tindakan tegasnya. Ia juga berharap bahwa pihak sekolah harus bertanggungjawab penuh, untuk tidak mengulangi kejadian-kejadian seperti ini lagi nantinya dilingkungan sekolah.

Nadiem ironis melihat penilaian pelajar di Indonesia, dimana dalam sebuah survey anak-anak Indonesia termasuk yang paling bahagia. Akan tetapi kasus bullyingnya sangat tinggi.

Bullying bukan hanya di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya. Pelakunya bukan hanya dari kalangan anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Anak-anak melakukan bullying karena meniru orang dewasa.

“Kalau mau melihat kondisi anak-anak kita apa yang terjadi, banyak orang bilang: Mas Menteri, anak-anak kita banyak yang bullying, ini kenapa? Ada krisis karakter? Langsung saya jawab balik, udah lihat enggak sosmed? Udah lihat enggak bullying yang terjadi antara orang dewasa?” ungkpanya.

Nadiem menambahkan saat ini sejumlah orang dewasa tidak sadar bahwa sikap dan prilaku mereka ditiru oleh anak anak dan jurstru ini yang berbahaya.

Baca Juga: Artis Ririn Ekawati Negatif Narkoba, Berikut Penjelasan Polisi

“Makanya di dalam Assesmen Kompetensi, yang mengganti UN itu yang sekarang cuma mengukur sekolahnya bukan mengukur muridnya, itu ada numerasi, literasi dan survei karakter,” tutur Nadiem.

Nantinya didalam survey karakter pendidikan, akan ada pertanyaan tentang kondisi di dalam sekolah, seperti bullying, toleransi atau masalah lainnya. Sejauh ini, sistem pendidikan di Indonesia tidak bisa menilai dan menindak situasi didalam sekolah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *