oleh

Awas! Meletakan Batu di Rel Bisa Dipenjara Seumur Hidup Hingga Denda 2 Miliar

Headline.co.id (Lumajang) ~ Belakangan ini jagat media sosial sedang di hebohkan oleh video viral tumpukan batu di tengah rel kereta api. Video tersebut diunggah oleh akun instagram @DuniaDalamKereta. Kejadian tersebut terjadi di daerah Jatiroto-Randu Agung Kabupaten Lumajang Daop 9 Jember.

Saat dikonfirmasi, Manager Humas PT KAI Daop 9 Jember, Mahendro Trang Bawono membenarkan kejadian tersebut.

baca juga: Kemenhub: Kereta Cepat Jakarta-Bandung Bakal Lanjut ke Surabaya Via Selatan

Mahendro menyebutkan, tumpukan batu tersebut ditemukan di perlintasan kereta api di Dusun Karetan, Desa Jatiroto, Kecamatan Jatiroto, Kabupaten Lumajang, tepatnya, di KM 150+7/8 pada Sabtu (22/2) sekitar pukul 16.25 WIB.

Beruntungnya tumpukan batu tersebut ditemukan dan dibersihkan sebelum kereta api lewat. Sebab, tumpukan batu tersebut dapat membahayakan perjalanan kereta api.

“PT KAI akan melanjutkan ke jalur hukum dan meminta kepada pihak kepolisian untuk menemukan pelaku yang melakukan tindakan tersebut,” ujarnya.

Sementara saat dihubungi, VP Public Relation PT KAI Yuskal Setiawan menyampaikan ada ancaman hukuman kepada siapa pun yang melakukan tindakan seperti ini.

Baca juga: Edi Sukmoro: KAI Tingkatkan Pemeriksaan Jalur Saat Curah Hujan Tinggi

Ia menambahkan, hukumannya sesuai dengan ketentuan UU Perkeretaapian dan KUHP. Bahkan acamannya adalah hukuman penjara seumur hidup jika membahayakan perjalanan kereta api yang menyebabkan hilangnya nyawa.

baca juga:

Berdasarkan Undang-undang perkeretaapian Nomor 23 Tahun 2007 tentang perkeretaapian bisa dikenakan denda dan juga kurungan penjara.

Dalam Pasal 192 berbunyi: “Setiap orang yang membangun gedung, membuat tembok, pagar, tanggul, dan bangunan lainnya, menanam jenis pohon yang tinggi, atau menempatkan barang pada jalur kereta api, yang dapat mengganggu pandangan bebas dan membahayakan keselamatan perjalanan kereta api sebagaimana dimaksud dalam pasal 178, dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau pidana denda paling banyak Rp 100 juta rupiah.”

Kemudian, pasal 193 ayat 1 berbunyi: “Setiap orang yang melakukan kegiatan, baik langsung maupun tidak langsung, yang dapat mengakibatkan terjadinya pergeseran tanah di jalur kereta api sehingga mengganggu atau membahayakan perjalanan kereta api sebagaimana dimaksud dalam Pasal 179, dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 250 juta rupiah.”

baca juga: HUT Garut ke-207, Edi Sukomoro: KAI Berikan Kado Spesial

Sedangkan ayat 2 berbunyi, “Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kerusakan prasarana perkeretaapian dan/atau sarana perkeretaapian, dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun 6 (enam) bulan dan/atau pidana denda paling banyak Rp 500 juta rupiah.”

Ayat 3 berbunyi, “Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan matinya orang, dipidana dengan dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 2 miliar rupiah.”

Selain itu perbuatan tersebut juga bisa dijerat dengan Pasal 194 ayat 1 dan 2 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).

baca juga: Perlintasan Sebidang Tanggungjawab Siapa?

Adapun bunyi dari Pasal 194 ayat 1 adalah, “Barang siapa dengan sengaja menimbulkan bahaya bagi lalu lintas umum yang digerakkan oleh tenaga uap atau berkekuatan mesin lain di jalan kereta api atau trem, diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas tahun).”

Sedangkan Pasal 194 ayat 2 berbunyi “Jika perbuatan itu mengakibatkan orang mati, yang bersalah diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun.”

baca juga: Korban Perlintasan Sebidang Semakin Banyak, Dishub dan Pemerintah Harus Bertindak

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Dunia Dalam Kereta (@duniadalamkereta) pada

Komentar

News Feed