Headline.co.id, Jakarta ~ Save the Children Indonesia menekankan pentingnya lingkungan belajar yang aman dan nyaman untuk mendukung penguatan karakter dan perlindungan murid. Hal ini disampaikan dalam acara Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) yang bertujuan membangun generasi yang sehat secara emosional dan siap menghadapi masa depan. Acara ini berlangsung di Kantor Kemendikdasmen pada Senin, 25 Mei 2026.
CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar, menyatakan bahwa pendidikan harus lebih dari sekadar pencapaian akademik. “Pendidikan bukan hanya tentang pencapaian akademik, tetapi juga memastikan setiap anak merasa aman, dihargai, dan terlindungi di lingkungan belajarnya,” ujar Dessy. Kegiatan BSAN merupakan hasil kolaborasi Save the Children Indonesia melalui program KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) dan Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Kerja sama ini merupakan implementasi dari nota kesepahaman yang ditandatangani pada Januari 2026. Dessy menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor adalah kunci untuk menghadirkan pendidikan yang berkualitas dan berperspektif perlindungan anak. Program KREASI, yang didukung oleh Global Partnership for Education (GPE), tidak hanya berfokus pada peningkatan literasi dan numerasi, tetapi juga pada penguatan karakter dan sistem perlindungan anak di sekolah.
Selama satu tahun, program ini telah menjangkau lebih dari 500 satuan pendidikan di delapan kabupaten di empat provinsi, yaitu Sumatra Utara, Lampung, Kalimantan Barat, dan Maluku Utara. Dessy menilai bahwa kualitas pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kualitas lingkungan belajar. Oleh karena itu, terbitnya Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) menjadi kerangka strategis untuk membangun ekosistem sekolah yang lebih inklusif.
“Kebijakan ini memastikan sekolah tidak hanya aman secara fisik, tetapi juga secara psikologis, sosial, bahkan di ruang digital,” katanya. Dessy menambahkan bahwa pendekatan ini penting di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu kekerasan, perundungan, diskriminasi, dan intoleransi di lingkungan pendidikan. Melalui pelatihan intensif selama program berjalan, para pendidik dibekali kemampuan untuk mengubah tantangan perilaku menjadi peluang membangun karakter murid.
Pengalaman dari lapangan menunjukkan perubahan nyata mulai terjadi. Seorang guru di Tanggamus, Lampung, menyatakan bahwa pendekatan disiplin positif membantu sekolah membangun masa depan murid, bukan menghukum masa lalu mereka. “Kita tidak sedang menghukum masa lalu mereka, kita sedang membangun masa depan mereka melalui disiplin positif,” ujar Dessy mengutip pengalaman guru tersebut.
Cerita serupa datang dari Morotai, Maluku Utara, di mana seorang anak mengaku bahwa komunikasi dengan orang tuanya menjadi lebih hangat dan lembut setelah pendekatan perlindungan anak diterapkan. Menurut Dessy, pengalaman ini menunjukkan bahwa budaya sekolah aman dan nyaman tidak hanya berdampak di ruang kelas, tetapi juga memengaruhi relasi anak dan keluarga. Praktik ini merupakan contoh nyata kolaborasi sekolah, keluarga, masyarakat, dan media dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat.
Save the Children Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung pemerintah dalam memastikan setiap anak Indonesia tumbuh bebas dari kekerasan, eksploitasi, diskriminasi, dan intoleransi. Pendekatan yang dilakukan meliputi penguatan kapasitas guru dan tenaga kependidikan, sistem perlindungan anak di sekolah, pelibatan keluarga, serta kemitraan dengan berbagai lembaga pembangunan. “Budaya sekolah tidak dibangun secara instan. Ia tumbuh melalui nilai, kebiasaan, komitmen bersama, dan kolaborasi multisektor,” ujarnya.
Dessy menegaskan bahwa agenda perlindungan murid kini menjadi bagian penting dari transformasi pendidikan nasional. Sekolah tidak lagi dipandang sekadar ruang belajar, melainkan ruang tumbuh yang harus menghadirkan rasa aman, penghargaan, dan kepercayaan bagi setiap anak Indonesia.





















